
Setelah memastikan mereka berjalan cukup jauh dari toko baju sebelumnya, Vani menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya, "Huffh.. kita aman" Ucap Vani lega
"Aman?" Tanya Ray bingung. Vani menoleh ke arah Ray dan tersenyum, "Aman dari gangguan biar kita bisa berduaan" Ucapnya senang
Ray tersenyum senang sembari mengusap usap rambut Vani, "Bisa aja kamu" Ucapnya, "kamu udah tentuin kamu mau apa, belum?" Sambungnya
"Emm.. itu.." Ucap Vani terhenti. Pandangannya teralihkan pada seorang balita yang berdiri di samping Ray sembari menarik narik pelan celana Ray, "Ray.. liat ke bawah" Ucap Vani
"Astaga!!" Ucap Ray terkejut sembari menarik kakinya mundur. Balita itu tersentak dengan suara Ray dan mulai mengeluarkan air mata, 'Huwaaa...' Tangisnya menjadi
Ray langsung menekuk lututnya dan mencoba menghibur balita itu, "cup cup.. jangan nangis ya, nanti kakak beliin balon buat kamu" Ucap Ray
Tangisan balita itu terhenti dengan cepat, "alon.. alon.." Ucapnya senang. Ia mengangkat kedua tangannya dengan tinggi dan mengepal ngepalkannya secara berulang ulang 'gugu.. gaga..'. Ray sedikit bingung namun langsung memahami maksud balita itu, "mau gendong?" Tanyanya sambil tersenyum
Balita itu mengangguk mengiyakannya, Ray langsung menggendong balita itu dan berdiri, "kamu kepencar sama orang tuamu?" Tanya Ray. Balita itu kembali menganggukkan kepalanya, "kalau begitu, ayo kita cari mama papamu" sambungnya sembari melangkah maju
Beberapa langkah berjalan, Ray teringat sesuatu dan langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke belakang dan melihat Vani yang memperhatikannya tanpa bergerak sama sekali. Ray tersenyum dan kembali menghampiri Vani, Ia menggendong balita itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam tangan Vani, "Ayo jalan sayang" Ucap Ray lembut
"Ahahaha.. Aku kira kamu lupain aku" Tawa Vani senang. Mereka berdua bergandengan tangan berjalan menuju pusat keamanan mall
"Gimana bisa aku lupain kamu" Ucap Ray
"Bisa aja, pas kita putus pasti kamu bakalan move on dari aku" Ucap Vani
__ADS_1
"Aku nggak akan mutusin kamu, aku juga nggak butuh move on dari kamu" Ucap Ray
"Kalau aku yang mutusin?" Tanya Vani
Ray menghentikan langkah kakinya, wajahnya terlihat tidak senang saat menoleh ke arah Vani, "Nggak boleh! Kamu milikku, termasuk hatimu. Selamanya kamu cuma boleh suka ke aku" Ucapnya serius. Vani sedikit tertegun melihat ekspresi Ray saat itu, Ia mencoba mengalihkan pembicaraan
"Ahahaa.. aku cuma becanda" Ucap Vani dengan tawa kecil, "Iya kan bayi kecil" Sambungnya sembari mencubit gemas pipi balita yang di gendong Ray. Balita itu tertawa senang dengan apa yang Vani lakukan
"Bayi kecil.. dimana mama papamu? Kamu nggak di buang sama mereka kan?" Ucap Vani gemas
"Hust.. Nggak boleh bilang gitu" Tegur Ray
"Ahaha.. gapapa dia ga paham" Tawa Vani senang
"Iya maap yaa bayi kecil" Ucap Vani bersalah
"eemm.. mmama.. mama" Seru balita itu sembari mengulurkankan kedua tangannya ke arah Vani
"Hehh.. Kayaknya dia mau kamu gedong" Ucap Ray senang
"Aku?" Tanya Vani bingung. Ray langsung memberikan balita itu pada Vani. Vani terlihat sangat kaku ketika menggendongnya, Ia memegang erat tubuh balita itu dengan kedua tangannya. Balita itu nampak tidak nyaman berada di gendongan Vani, "engg... Papa.. papa PAPA!!" Berontak balita itu
"Ray mau jatuh Ray, mau jatuh!" Ucap Vani panik. Ray langsung mengambil kembali balita itu dan menggendongnya seperti semula, "Hufhh.. ampir aja" Ucap Vani lega
__ADS_1
"Mama kamu nggak pinter gendong, payah banget mama kamu. Sama papa aja yaa" Ucap Ray ramah
"Papa papa" Ucap balita itu senang
"Humph.. mama ngga akan masakin kalian malam ini, biar aja kelaperan" Ucap Vani sembari memalingkan pandangannya
"Liat itu, mama kamu ngambek katanya nggak masak malam ini, emang dia bisa masak? kan papa yang masak terus tiap hari. Jangan khawatir, kita bisa tetap makan malam tanpa mama"
"Ahahaha.. Curang, kamu bisa semua. Ngga ada gunanya dong aku kalau nanti kita berkeluarga" ucap Vani
"Kamu nggak perlu ngelakuin apapun. Kamu cuma perlu ada di sisiku, aku yang akan penuhi semua kebutuhan dan keinginanmu" Ucap Ray dengan senyuman
"Dinoo!! Astaga Nak Dino!!" Panggil seseorang dari kejauhan. Segerombolan orang datang menghampiri Vani dan Ray
"Kalian dari panti?" Tanya Vani
"Iya.. kami jalan jalan bertiga belas ke sini, termaksud dua pengasuh. Saya panik sekali saat mendapati nak Dino tidak berada di rombongan, dari tadi saya mondar mandir carinya. Terimakasih sekali sudah menemukan nak Dino" Ucap pengasuh senang
"Niatnya kami mau pergi ke pusat keamanan, syukurlah kita ketemu disini" Ucap Ray sembari menyerahkan balita itu kembali pada pengasuhnya
"Terimakasih banyak sekali lagi" Ucap Pengasuh senang
"Oh.. Namanya Dino, kepanjangannya Saurus ya?" Tanya Vani
__ADS_1
Salah satu pengasuh yang berdiri di hadapannya langsung menatap mata Vani dengan tajam dan serius. Vani langsung merasa bersalah karena candaannya tidak terasa tepat, "Ahahaa.. Maaf, aku nggak maksud.." Ucap Vani terhenti, "Bagaimana kamu tahu nama yang di tinggalkan di surat yang Ibunya tinggalkan bersamanya adalah Dino Sarrus. Hanya pengasuh dan Ibu yang membuang anak ini yang mengetahui nama itu, Jangan jangan Anda?!" Saut seorang Pengasuh