Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter134


__ADS_3

Pukul 09.00,


'ctakk' Pemadaman listrik telah berakhir. Lampu di dalam kantor polisi kembali menyala dengan terang. Vani langsung menoleh ke arah polisi magang, "Woy! Mana hpmu!" Ucap Vani


Polisi magang itu mengamati sekitarnya sebelum menoleh ke arah Vani. Ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan memberikannya pada Vani, "Buruan"


"Iya iya" ucap Vani sembari menerima handphone itu, ("Dia pasti mau cari bukti setelah aku telpon orang. Tunggu.. kalau aku kirim pesan ke nomor Agnes pake nomor ini, pasti bisa kelacak. Ada bekas juga walau udah di hapus") batinnya, ("Gimana kalau email? Apa polisi ini bakal kepikiran buat cek email? Coba aja deh") Ia mengirimkan pesannya melalui email kepada Agnes


From : *****@gmail.com


To     : Agnes@gmail.com


Woy, ini Vani. Polisi psti bkl slidiki toko mambanya. Kamu bisa susun rncana sndiri kn? Jan panik oke? Stay calm. Jan bles email ini, pnya orng.. good luck Nes


Send


Vani langsung menghapus riwayat email itu


"Kok nggak ngobrol? Katanya mau telpon" ucap polisi magang


"Oh.. ini, dimana kontaknya? Ga ketemu" ucap Vani sembari menunjukkan layar handphone di tangannya


"Gimana kamu ini" ucap polisi itu sembari menekan kontak di handphonenya. Tanpa berpikir lebih lanjut, Vani mengetikkan nomor Kaituo dan menghubunginya


'tutt..'


'hallo, siapa?' tanya Kaituo dari telepon


"Kai, ini aku Vani"


'Vani? Kamu di penjara kan? Gimana caramu telpon?'


"Ada deh. Oh ya Kai, telponin Agnes. Suruh dia bawain tasku yang ketinggalan"


'Oke, gimana keadaanmu?'


"Fine aja sans, bentar lagi keluar"

__ADS_1


'beneran?'


"Iya.. eh dah dulu, ntar kita ngobrol lagi dirumah. See you Kai"


'tut.. tut.. tut..' Panggilan berakhir


Vani langsung mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya, "Makasih ya"


"Sama sama" ucap polisi magang


Dua orang polisi berjalan menghampiri sel tahanan sementara, "Buka pintunya"


"Aku udah bebas?" Tanya Vani


"Penyelidikan keduamu" ucap salah satu polisi


"Hmm.. oke" ucap Vani


Vani kembali digiring menuju ruang interogasi. Melihat Vani pergi, polisi magang itu mengecek handphonenya dan memeriksa riwayat panggilan, ("Hanya ada nomor ini, dia bahkan tidak mengirimkan pesan apapun. Sepertinya dia berkata jujur") batinnya senang


Sementara itu, Vani di arahkan untuk duduk di sebuah kursi aneh yang di lengkapi beberapa peralatan. Vani di pakaikan sebuah helm mesin dan beberapa kabel di kedua tangannya, "Aku ngga di setrum kan?" Tanya Vani


"Apa?! Katanya gaada setrum setruman!" Ucap Vani panik


"Makanya jangan bohong"


"Sudah siap" ucap seorang asisten yang memasangkan perlengkapan pada Vani


("Huffh.. tenangin diriku, keep calm Vani, okay") batin Vani


"Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan dasar. Jika kamu berbohong sedikit saja, mesin ini dengan mudah mendeteksinya" jelas penyidik, "Kamu siap?"


"Ngga" jawab Vani


"Kita mulai pertanyaan pertama. Ini pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya. Vani Osamu. Apa benar bukan kamu yang membunuh Adira?"


"Benar" jawab Vani

__ADS_1


Penyidik menoleh ke arah orang yang mengawasi layar mesin pendeteksi, "Stabil" ucap orang itu


"Baiklah, pertanyaan kedua. Kamu bilang, kamu melihat Adira sendiri yang menusuk perutnya dan kamu mencoba memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan dengan melilitkan sobekan blazer. Telapak tanganmu hanya terkena sedikit darah, tapi kenapa bisa lengan seragammu terkena banyak noda darah begitu?"


"Telapak tanganku tadinya banyak darah gegara tutup bekas lukanya. Abis tu aku lap ke seragam dan tanganku jeng jeng bersih kembali" jawab Vani sambil tersenyum. Penyidik kembali menoleh ke arah orang yang mengawasi layar mesin pendeteksi. Orang itu menganggukkan kepalanya


"Pertanyaan ketiga. Apa di tkp, tidak ada orang lain yang terlihat selain kalian berdua?"


"Iya"


"Stabil"


"Baiklah, sudah cukup" ucap penyidik


"eh? udah? Wahahahaaa" Vani tiba tiba tertawa dengan keras. Mesin pendeteksi mendadak menyala merah dan mengeluarkan suara


'dett.. dett.. dett..'


"Kenapa kamu tertawa? Apa menurutmu ini hal yang lucu?" Tanya penyidik


Vani menghentikan tawanya, "Oh.. aku kira mesin ini ngga berfungsi. cuma ngetes, maaf"


"Lepaskan alatnya" ucap penyidik


"Baik" Seseorang melepaskan satu persatu alat yang di pasangkan pada Vani


"Giring dia kembali ke sel"


"Baik"


"Eh.. menurutku mesin ini ga efisien sih" ucap Vani sembari tersenyum. Ia kembali di giring keluar menuju sel tahanan sementara


Polisi magang sebelumnya masih di tugaskan berjaga di depan sel itu. Ia kembali mengajak Vani mengobrol, "Hey Osamu, aku lihat tadi kayaknya di dalem ruang interogasi nyala alarm merah. Apa kamu terbukti berbohong?" Tanyanya penasaran


"Ngga, aku cuma ketawa pas itu" jawab Vani


"Ketawa? Apa kamu psikopat? Bagaimana bisa kamu tertawa saat di interogasi seperti itu. Apa kamu nggak sedikitpun merasa takut atau cemas?"

__ADS_1


"Ngga" ("eh.. Kalau misal ada penjahat nih ya, abis tu dia orangnya santai, kalem. Trus hukumannya di tentuin dari mesin ini. Pasti dia bakal lolos trus. Enak bat ya ngga?") Batinnya


__ADS_2