
"makasih Van" ucap Agnes
"Makasih segala" ucap Vani, "Eh.. btw kamu serius bakal masuk asrama perilaku? Parah loh disana, ngga bisa bebas jadinya. Di sma kita aja, yang peraturannya ngga separah sekolah asrama. Kita masih sering ngga tahan trus bolos. Apalagi disana coba"
"Entahlah.. Ini hukumanku, mau nggak mau, aku harus terima"
"Sok kuat. Dimarahin dikit aja nangis tadi, katanya dah siap mental. Omong doang kamu"
"Biasanya debat sama orang lain, kuat loh. Dikatain juga, aku bisa bales. Nggak tau kenapa. Kalau orangtua yang marahin tu, rasanya nyesek banget"
"Hilih.. dasarnya cengeng" ejek Vani
Agnes menoleh ke arah Vani, "Cie.. yang ngga bisa ngerasain nyeseknya dimarahin ortu kandung"
"Dark banget candamu" ucap Vani dengan ekspresi datar, "Ngga suka ah, mending pulang" sambungnya sembari berdiri dari duduknya
"Jangan dong.. kan bercanda, maaf deh"
"Aku mau pulang beneran" ucap Vani, "Kamu balik ke sekolah aja gih, baru jam istirahat pertama pasti"
"Kok pulang? Kamu marah ya?"
"Ngga lah"
"Trus?"
"Ya ngga marah. Trus apa?"
"Ahahaha.. ga jelas" ucap Agnes sembari tertawa, "Oh ya.. ujianmu minggu depan berarti dari rumah dong? Enaknya bisa nyontek"
"Ujiannya ngga daring. Ntar ada guru yang gantian tiap hari ke rumahku buat pantau aku ngerjain ujiannya"
"Seremnya. Sama aja home schooling dong"
"Maybe. Dahlah.. aku cabut duluan" ucap Vani sembari berjalan menuju pintu rumah Agnes
"Hati hati" seru Agnes
__ADS_1
"Hmm.." Vani keluar dari rumah Agnes dan pergi menuju halte bus di sekitar tempat itu. Setelah menunggu beberapa saat, bus berhenti di hadapannya dan ia segera masuk ke dalam bus. Ia menghampiri sopir bus
"Ke kompleks perumahan jalan sasageyo pak" ucap Vani
Sopir bus menoleh ke arah Vani, "Jalan Sasageyo bukan naik bus ini. Kamu naik bus yang jalan ke arah sana.. kalau naik ini makin jauh nanti"
"Ha? Kan bisa putar balik" ucap Vani
"Kamu pikir lagi naik apa? Turun! Cari taxi aja sana" usir sopir
"Kalau ngga mau gimana?"
Sopir bus menoleh ke belakang dan memberi kode kepada kondekturnya. Kondektur itu memahaminya dan segera menyeret Vani keluar dari bus. Bus itu kembali melaju meninggalkan tempat itu
"Woy ga sopan! Penumpang kok diginiin!" Teriak Vani, "Yah.. terpaksa cari pangkalan ojek dong" Ia berjalan menyelusuri trotoar dan mencari pangkalan ojek untuk transportasinya pulang
Di tempat lain. Kaituo terlihat sedang bersantai di bawah pohon sembari membaca sebuah buku di taman universitasnya. Selang beberapa saat, handphonenya berdering dan ia segera mengangkat panggilan telepon yang masuk ke handphonenya itu
'kaituo' panggil seseorang dari telepon
'apa ibunda tidak boleh menelponmu setiap saat?'
"Tidak begitu. Ibunda bebas melakukannya. Bagaimana keadaan ibunda disana?"
'kabar ibunda baik. Bagaimana denganmu nak?'
"Kaituo juga baik"
'ee.. itu nak Kaituo, ada yang mau ibunda tanyakan'
"Ada apa ibunda? Tanyakan saja"
'apa nak Ray masih suka mendekati nak Vani?'
"Ray?" Tanya Kaituo, "Hubungannya dengan Vani sepertinya sedang renggang, dia menjaga jarak dari Vani. Vani terlihat sedih belakangan ini"
'oh.. baguslah, berarti anak itu menepati janjinya' ucap ibunya Kaituo dari telepon
__ADS_1
"janji? Apa maksud ibunda? Apa ibunda mengatakan sesuatu kepada Ray yang membuatnya menjaga jarak dari Vani?"
'iya, ibunda bantu kamu supaya mudah dapatkan Vani lagi'
"Apa yang ibunda lakukan?!"
'kamu bicara ke ibunda dengan nada seperti itu? Apa itu tindakan yang benar?'
"Maaf ibunda, Kaituo bersalah. Tapi ibunda.. apa yang ibunda lakukan itu membuat Vani menjadi bersedih"
'loh.. bagus kan, kamu bisa gantikan posisi Ray sebelumnya dan buat Vani berubah jadi suka sama kamu'
"Maaf ibunda. Kaituo rasa, tindakan ini salah. Memisahkan dua orang yang saling suka, mereka pasti menderita. Apalagi Vani, Kaituo nggak mau lihat dia semakin sedih"
'ibunda lakukan semua itu juga demi kebaikan Vani. ibunda tidak ingin Vani memilih orang yang salah'
"Ray.. dia orang yang baik"
'baik? Kaituo tahu status keluarganya? bagaimana dia bisa menafkahi kebutuhan Vani? Dia hanya akan membuat Vani menderita dengan kehidupan sederhananya. Kaituo, ibunda tanya.. kaituo suka kan sama Vani?'
"Iya"
'ibunda juga tahu itu. Maka dari itu, ibunda ingin Kaituo memikirkan semuanya kembali. jangan sia siakan kesempatan ini. Paham?'
"Baik ibunda"
'ya sudah, ibunda tutup teleponnya ya'
"Iya ibunda"
'tut... tutt.. tutt..' Panggilan berakhir
'hahhhh..' kaituo menghela nafasnya dan perlahan menaikkan pandangannya menatap ke arah langit. Ia terlihat begitu bimbang, ("Semua ini ibunda yang lakuin") batinnya
"Kesempatan ya..."
"Apa yang harus ku lakukan"
__ADS_1