
"ahahahahaa.. aku kira kamu serius mengatakannya" ucap Darren sambil tertawa kecil
"Dasar" ucap Evano
"Serius, mereka ngejar" ucap Vani, "Aku masih punya bekas lukanya di siku tanganku nih. Gegara kepukul pake kayu" Ia menunjukkan bekas luka di siku tangannya
Darren dan Evano terdiam bengong, "Kamu berkelahi?" Tanya Darren
"Oh.. ingat, anak yang sering buat onar di sekolah paling banyak kamu kan!" Ucap Evano
"Nggak banyak woy, aku cuma lagi gabut doang pas ngerjain orang" ucap Vani
"Gabut? Setiap hari kamu gabut, setiap hari juga kamu kerjain orang" ucap Evano
"True" ucap Vani, "Eh nggak nggak, ku udah jadi anak baik baik"
"Nggak percaya" ucap Evano
"Yaa.. terserah anda" ucap Vani cuek
"Em.. mau sampai kapan kita berdiri disini dan mengobrol?" Tanya Darren
"Jadi masuk?" Sambung Evano
"Nggak usah deh, cari tempat lain aja" ucap Vani
"Ayo jalan" ucap Evano. Mereka bertiga kembali berjalan menelusuri trotoar. Selama perjalanan Evano membuka obrolan, "Van, ku kasih tantangan bisa?"
Pandangan Vani tetap lurus ke depan sembari mempertahankan langkah kakinya, "Kecil itu mah, apa?"
"Jangan bohong lagi" ucap Evano
Vani menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung, "Boong?"
"Tadi kamu bohong kan, soal alumni. Padahal nggak perlu bilang gitu" ucap Evano
"Itu kan biar mereka cepet pergi, bohong dikit gapapa kan. Toh kamu juga iya, soal Darren yang kena flu hayoo" balas Vani
"Semua itu karena terdesak" ucap Evano, "Kamu bisa terima tantangannya?"
"Mustahil, terlalu hard" ucap Vani, "Karena ku ngerasa, bakalan banyak kebohongan di hari ke depannya"
"Kamu punya rencana untuk bohong?" Tanya Darren
"Belum rencana sih, firasat" jawab Vani
"Oh.. bisa begitu juga ya" ucap Darren memahami, "Okay, lupakan soal berbohong. Kenapa kita tidak makan ice cream di cuaca sepanas ini?"
"Woah.. ice cream, nice idea" ucap Vani bersemangat. Mereka menghampiri truk ice cream yang berhenti di sekitar taman yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Setelah mendapatkan ice cream mereka, mereka bertiga memutuskan untuk duduk di kursi taman
Vani menoleh ke arah Darren, "Darren, kamu lepas masker? Gimana kalau ntar ketemu fansmu, trus dia kenal kamu lagi"
"Ah.. kamu benar juga" ucap Darren
Vani tersenyum padanya, "Mau ku bantu habisin ice creammu?"
__ADS_1
"Hey, ice creammu aja masih utuh" ucap Evano
Vani menoleh ke arah Evano, "Kamu juga nggak mau ice creammu?"
"Rakus" ucap Evano
"Ahahahaaa.. becanda becanda" Vani kembali menoleh ke arah Darren, "Buka aja maskernya, aku awasi orang lewat"
"Emang kamu tahu orang itu fans dia?" Tanya Evano
"Ya nggak lah, tar ku bilangin kalau ada orang yang mau lewat, biar Darren bisa siap siap pakai masker" jelas Vani
"Baiklah" ucap Darren. Ia menurunkan maskernya sampai ke dagu dan segera menghabiskan ice cream miliknya. Setelah habis, ia kembali menaikkan maskernya, "Terimakasih sudah mengawasi untukku"
"Heh?" Vani menoleh ke arahnya dengan ekspresi sedikit terkejut, "Dah habis?"
"Iya" jawab Darren
"Hah? Aku aja belum abis setengahnya" ucap Vani
"Ahahaa, aku tidak bisa makan dengan tenang. Jadi ku habiskan sekaligus" ucap Darren dengan tawa kecil, "Um.. Btw, can we take a picture together?"
"Foto? Okeoke" ucap Vani
"Okay, pakai handphoneku" ucap Darren. Ia mengeluarkan handphonenya dan membuka kamera, "Cheese"
'ckrek..'
"Oh.. wajahku tidak terlihat, aku lupa melepaskan maskerku. Sekali lagi" ucap Darren. Ia menurunkan maskernya dan tersenyum ke kamera
'ckrek'
"Dimana? Apa perlu mengulang?" Tanya Darren sembari mengamati foto di handphonenya
Vani menunjuk foto Evano, "Nih.. disini, harusnya kosong"
"Kamu mau aku pergi?" Tanya Evano
"Lagian di foto pun tetap datar, senyum dikit kek" ucap Vani
"Nggak ada yang perlu ku senyumin" ucap Evano cuek
"Terserah, ga peduli jugaa" ucap Vani. Ia kembali menoleh ke arah Darren, "Oh ya, kirim fotonya ke aku, ke Evano juga"
"Baiklah, akan segera ku kirimkan" ucap Darren
"Oke nice" ucap Vani, "Hum.. jam berapa sekarang?"
"Setengah tiga" ucap Darren
"Udah hampir sore, tapi masih panas gini" ucap Vani
"Kamu kepanasan?" Tanya Darren
"Nggak liat keringatku netes dari tadi?" Tanya balik Vani
__ADS_1
Darren melepaskan topinya dan memakainya di kepala Vani, "Kamu lebih membutuhkannya" ucapnya sambil tersenyum
"Thank you" ucap Vani senang
"Bagaimana denganku?" Tanya Evano, "Kamu nggak meminjamiku topi juga?"
"Maaf Evano, hanya ada satu topi" jawab Darren
"Lupakan" ucap Evano
"Mau balik ke villa nggak?" Tanya Vani
"Iya lah" ucap Evano
"Sayang bat, kesini cuma jalan kaki muter muter trus beli ice cream doang" ucap Vani
"Ingin lebih lama?" Tanya Darren
"Ngga ngga ngga, ayo balik. Sebelum pembina cari kita" ucap Vani
"Baiklah, aku akan memesan taxi" ucap Darren
"Bagaimana kita masuk? Satpam mungkin sudah kembali. Cctv juga pasti sudah menyala" ucap Evano
"Oiya! Gimana?" Tanya Vani teringat. Mereka bertiga terdiam memikirkan rencana selanjutnya untuk mengelabuhi satpam penjaga gerbang Villa
.
.
Beberapa menit berfikir, Vani mendapatkan sebuah ide, "Oo.. tahu tahu" ucapnya
Evano dan Darren kompak menoleh ke arahnya, "Bukan saatnya jualan tahu" ucap Evano
"Heh?" Darren terlihat bingung dengan ucapan Evano yang menyimpang dari topik pembicaraan
"bukan, aku cuma bercanda" ucap Evano
"Tahu itu sejenis makanan kan? Seingatku dia temannya tempe" ucap Darren
"Teman?" Tanya Evano, "Oh, iya. Anggap aja begitu"
"Seingatku tahu juga merupakan ungkapan for know, iya kan?" Ucap Darren. Ia menoleh ke arah Evano dengan ekspresi penuh penasaran, "Jadi.. yang baru saja Vani katakan. Tahu untuk makanan atau tahu untuk know? Oh.. i know, seperti katamu tadi. Kamu mengatakan jualan tahu kan? Berarti yang sedang Vani bahas adalah makanan"
Evano menanggapinya dengan ekspresi serius, "Menurutku juga sama. Tadi Vani mengatakan pengulangan untuk kata tahu. Untuk pengucapan tahu for know, nggak perlu ada pengulangan. Tapi jika pernah melewati pasar dan ada pedagang makanan tahu yang berteriak menjajakan dagangannya. Mereka pasti melakukan pengulangan untuk kata tahunya. Tahu tahu, di beli tahunya" Ia menoleh ke arah Darren, "Benar kan?"
Vani hanya terdiam mendengarkan obrolan absurd mereka berdua dengan ekspresi datarnya, "Woy stop" Evano dan Darren tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan obrolan mereka
"Oh.. begitu ya. Aku baru saja memahaminya, jika ada pengulangan berarti makanan. Jika tidak berarti know" ucap Darren. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, ia kembali menoleh ke arah Evano, "Emm.. tapi kenapa Vani mengatakan tahu tahu? Apa dia ingin membeli makanan itu?"
"Woy kalian berdua stop!" Ucap Vani yang mulai merasa kesal
"Aku juga belum tahu tujuan dia mengatakan tahu tahu" ucap Evano
"Woy lah.. kenapa kalian pusingin tahu sih?! Orang aku beneran tahu rencananya!" Ucap Vani kesal
__ADS_1
"Oh.. baru saja dia mengatakan tahu untuk know" ucap Darren senang
"Woy!!"