
Melihat Azka dan kedua polisi lenyap dari pandangannya, Vani masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Agnes menyadari kedatangannya dan langsung mengajaknya mengobrol, "Wey darimana aja kamu?" Tanya Agnes
"Toilet" Jawab Vani singkat
"Tau nggak? Barusan pak Azka di jemput dua polisi"
Vani menoleh ke arahnya dan memasang ekspresi terkejut, "Serius? kok bisa?"
"Ga tau juga, mereka nggak bilang masalahnya tadi"
"Hum.. Jangan jangan pak Azka terlibat pembunuhan" Ucap Vani
"Serius? Kata siapa?" Tanya Agnes penasaran
"Kataku, barusan kamu nggak denger apa?" Tanya balik Vani
Agnes memasang ekspresi datar, "Ya elah, aku kira serius"
Selang beberapa saat, terdengar suara pengumuman dari speaker kelas yang terhubung langsung dengan ruang siaran, 'Ketua kelas dan wakil baru dari setiap kelas diharapkan segera menghadiri rapat di perpustakaan setelah mendengarkan siaran ini. Sekali lagi saya umumkan, ketua kelas dan wakil baru dari setiap kelas diharapkan segeramenghadiri rapat di perpustakaan setelah mendengarkan siaran ini'
Vani terlihat cuek dan tidak mendengarkan siaran itu, Agnes menoleh ke arahnya, "Van dapet panggilan tu"
Vani menoleh ke arahnya, "Ha? Panggilan? Siapa?"
"Panggilan dari Yang Maha Kuasa"
"Jirr serem!" Ucap Vani terkejut
"Suruh rapat di perpustakaan"
"Siapa?"
"Monyet!" Ucap Agnes kesal
"Kau monyet" Ucap Vani cuek
__ADS_1
"Woy manusia berkaki dua! Ketua kelas rapat di perpus!" Seru Agnes
"Bendahara tolong wakilkan" Ucap Vani
"Nggak!" Tolak Agnes
"Aku ketua loh, kamu nggak nurut?" Tanya Vani
"Kamu nggak denger siaran barusan? Ketua disuruh kumpul" Ucap Riry kesal
Vani menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tajam. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kelas. Ia pergi menuju perpustakaan seorang diri. Sesampainya di perpustakaan sekolah, ia membuka pintu dan masuk ke dalam perpustakaan. Ia menghampiri sekumpulan siswa yang duduk berkumpul mengelilingi salah satu meja perpustakaan
"Yow, maaf telat" Seru Vani ramah. Pandangan siswa siswi disana tertuju padanya, 'Njerr, wajah asing. ga ada yang kenal' gumam Vani. Ia duduk bergabung dengan mereka. Mereka terlihat sedang asik membaca buku masing masing. Vani mengajak bicara salah satu siswa yang duduk di sampingnya, 'Ini lagi literasi?' Bisiknya. Siswa itu membalasnya dengan sebuah anggukan
Vani berdiri dari duduknya dan menghampiri rak buku perpustakaan. Ia mengambil acak salah satu buku dan kembali duduk di tempat sebelumnya. Ia membolak balikkan halaman buku tanpa membacanya sedikitpun, "Oh jadi begini ya" Ucapnya
Siswa di sampingnya menoleh kearahnya, "Hustt"
"Hmm" Gumam Vani, ('Apa apaan ini?! Ke perpus disuruh literasi? Nyesel aku kesini, tau gitu tadi belok ke kantin')
"Yow, Wakilku. Lagi literasi nih, gabung skuy" Jawab Vani
"Rapat di meja perpustakaan barat" Ucap Evano cuek. Ia berjalan meninggalkan Vani dan pergi menuju tempat rapat
Vani menutup bukunya dengan keras dan langsung berdiri dari duduknya, "Dah kuduga ada yang aneh disini. Semangat bacanya kalian wahai kutu buku, wuahaha" Seru Vani dengan tawa lebarnya. Ia mengembalikan buku ke tempat semula dan pergi menuju tempat rapat
Ia duduk bergabung di salah satu kursi dan mendengarkan apa yang sedang disampaikan pembina. Semua ketua kelas dan wakilnya duduk berdampingan, namun berbeda dengan Vani dan Evano. Mereka duduk terpisah cukup jauh
"Perwakilan dari dua belas Mipa A?" Tanya Pembina. Mereka berdua mengangkat tangan kanan, "Kenapa kalian berjauhan?"
"Kesinilah wahai wakilku" Ajak Vani dengan senyuman di wajahnya
Evano hanya meliriknya sedikit, ia menoleh ke arah pembina, "Saya dari sini"
"Tcih.. " Vani memalingkan pandangannya, ('Apa hebatnya jadi ketua kelas kalau bawahannya nggak nurut?')
__ADS_1
"Baiklah tidak apa, duduk senyaman kalian" Ucap Pembina
Vani mengangkat tangan kanannya, "Serius bu? Duduk senyamannya?"
Pembina mengangguk kecil
"Berarti duduk di atas meja fine fine aja dong?" Tanya Vani
Pembina tersenyum kecil, "Duduklah sesuai etika"
"Hmm.. Sama aja nggak senyamannya"
Vani menyadari Evano menatapnya dengan tajam, ia membalasnya dengan menaikkan kedua alisnya. Evano mengatakan sesuatu hanya dengan mimik bibirnya, 'Diam!'
Vani tidak mengerti maksudnya, "Ha?"
'Di am!'
Vani masih tidak mengerti, "Ha? Apa?"
'Diamlah!'
"Ha? Apa? Lebih keras!"
"Diam!" Seru Evano kesal. Pandangan seluruh siswa tertuju padanya, "em.. maaf, silahkan di lanjut"
Vani memasang ekspresi datar dan terdiam, "Hmm"
"Kita akan membahas tempat kemah musim panas tahun ini. Pilihan lokasinya di negara A, negara B, dan negara C. Kita tentukan berdasarkan voting kalian"
"Negara B setuju angkat tangan!" Seru Vani sembari mengangkat tangan kanannya. Namun tidak ada siswa lain yang mendukungnya, "Negara A!" Serunya untuk kedua kalinya. Hanya seperempat dari mereka yang mengangkat tangan, "Oke bu, fiks negara C"
"Ada yang ingin mengutarakan pendapat? Atau setuju dengan kemah musim panas di negara C?" Tanya Pembina
"Kami setuju" Ucap perwakilan ketua kelas dari kelas lain
__ADS_1
"Baiklah, kemah musim panas di adakan minggu depan di negara C. Untuk keperluan yang lain akan di atur pihak sekolah. Besok akan dibagikan surat edarannya. Rapat selesai, kembali ke kelas" Ucap Pembina. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka semua