Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter86


__ADS_3

Jack kembali menoleh ke arah Vani dan sedikit terkejut, "Oh iya! Siapa kamu?!" Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Vani, "Siapa kamu? Kenapa kesini? Wajahmu mirip Vani, tapi cantikan kamu. Nggak mungkin Vani dandan gini, kamu kembarannya?"


'krak!' Kaki kanan Vani menginjak dengan keras kaki Jack, "M*mpus kau!"


"Akh sakit!" Ucap Jack ngegas sembari menjaga jarak dari Vani, "Kamu pake sepatu keras gitu buat nginjek kakiku, kalau kakiku lumpuh gimana"


"Ga bakal sampe situ" ucap Vani sambil tertawa kecil, "Ambil ini" ucap Vani sembari menyodorkan bungkusan kue pada Jack


Jack menerima bungkusan itu, "Kenapa nggak di buka trus kasih lilin"


"Ga ada lilinnya" ucap Vani


"Bisa suprise-in orang nggak sih?" Ucap Jack


"Protes mulu, semua yang atur sama ngeluarin duit aku juga" ucap Vani


"Iya iya, terserah" ucap Jack sembari berjalan kembali menghampiri meja. Vani melepas sepatunya dan berjalan mengikutinya, ia duduk tepat di depan Ray. Jack membuka kotak kue dan menyiapkan lilin di dapur. Vani merasa sedikit gelisah karena Ray terus menatap dirinya tanpa mengatakan apa pun. Ia langsung menutupi wajahnya dengan kantung belanja yang ia bawa


'deg.. deg..' Jantungnya perlahan mulai berdetak lebih cepat


("Kenapa dia liatnya begitu sihh") batin Vani gelisah


Tangan kanan Ray meraih kantung belanjaan itu dan menyingkirkannya dari hadapan Vani, mata mereka kembali dipertemukan, "Izinin aku begini lebih lama lagi" ucap Ray


'degg' Vani langsung memalingkan wajahnya yang sudah terlanjur merona, "Ahahahaa.. Jack, numpang kamar mandi" Ia berdiri dari duduknya, namun Ray menggapai pergelangan tangannya


"Tetaplah disini"


Vani terdiam dan kembali duduk di tempatnya


'deg.. deg.. deg..' Vani semakin merasa gelisah dan detak jantungnya menjadi tidak karuan. Ia langsung kembali meraih kantung belanjaan dan menutupi wajahnya, "Hey Ray! Jan liatin aku begitu! Jadi ngeri tau!"


"Ah.. maaf kalau kamu ke ganggu" ucap Ray sembari menutup matanya dengan telapak tangannya. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "kamu sangat cantik, sulit buatku alihin pandanganku darimu"


"Ehem.." Jack kembali bergabung dengan mereka di meja, "Jangan ngebucin disini" Ia mengamati dua orang yang bersamanya, "Kenapa wajah kalian berdua merah gitu? Apa disini terlalu panas?"


"Wahhh.. iya Jack, nyalain acnya" ucap Vani, "Panas bat gila!"


"Nggak ada ac disini" ucap Jack


"Pantes panas!"


"tujuh belas derajat, termasuk dingin"


"Tapi panas disini"


Jack tampak tak menghiraukannya\, ia menoleh ke arah Ray\, "Tiup lilinnya\, aku yang akan nyanyi. Happy birthday to Ray\, happy birthday to Ray.. happy birthday to Ray b*go.. HAPPY BIRTHDAY B*GO!!!"

__ADS_1


"Ga usah ngegas juga nyanyinya" ucap Vani dengan ekspresi datar


"Terimakasih kalian" ucap Ray sambil tersenyum senang. Ia segera meniup lilinnya. Vani dan Jack bertepuk tangan dengan meriah


"Hiyee"


Saat itu Jack meninggalkan meja untuk mengambil sebuah kotak kardus dan kembali meletakkannya di atas meja. Ia meniup debu di atas kotak kardus itu ke arah Vani, 'hufhh'


'hachuuu..' "Woy! Yang bener!" Ucap Vani ngegas


"Ahahahahaa.. satu minggu udah berdebu" ucap Jack sambil tertawa kecil, "Ray ambil ini"


Vani memberikan kantung belanja yang ia bawa pada Ray, "Ini jugaa"


"Apa ini" ucap Ray yang terlihat nampak sangat bahagia


Vani membuka kardus itu dan mengeluarkan isinya, "Ta daaa.. tangan kiri baruu, ku bantu pake" Vani berdiri dan menghampiri Ray. Ia duduk di samping kirinya dan memasang tangan palsu itu


"Coba gerakin" ucap Vani


Ray menggerakkan tangan kirinya, "Lebih ringan dari yang sebelumnya, gerakannya lebih smooth"


"Iya lah.. ini teknologi baru yang dikembangin uncle. Di dalemnya ada banyak fitur. Ini pake tenaga matahari, jadi gausah di cabut buat carger. Trus bisa tahan beban maximal dua ratus kilo, anti peluru, anti air juga. Trus lainnya baca sendiri. Oh ya, karena ada pengembangan tiap tiga tahun sekali. Aku minta uncle kirim orangnya kesini buat perawatan tangan ini sama upgrade. Tiap tiga tahun sampai selama tangan ini dipake" jelas Vani


"Jarinya bisa gerak sesuai instruksi yang pakai? Ray.. coba angkat jari telunjukmu" ucap Jack penasaran. Ray bisa memerintahkan jarinya sesuai instruksinya seperti layaknya tangan sebenarnya


"Iya.. dulu pas ke negara A Ray sampai di bius kan. Di bahunya udah ditanam chip penghubung ke saraf motoriknya. Jadi sekarang bisa lepas pasang sesuka hati. Di lengan sama telapak tangan palsu juga di tanam tiga saraf buatan, biar bisa gerakin sesuka hati. Ini kan cengkeramannya lebih kuat dari dulu, kalau misal jatuh dari tebing lagi ngga bakalan putus" jelas Vani


"Kamu punya rencana jatuh lagi?" Tanya Jack


"Ngga lah, serem tau jatuh. Ku kira dah mati beneran, sampe ke inget mama sama papa" ucap Vani, "Oh ya, di negara C kemarin. Aku ketemu sama orang yang tolongin aku pas abis jatuh"


"Siapa?" Tanya Jack


"Aku punya fotonya" ucap Vani sembari membuka foto di handphonenya. Ia menunjukkan fotonya bersama Darren dan Evano saat sedang memakan ice cream, "Ini.. padahal udah mau ku kirim ke Ray, tapi dia bilang ga mau" Ray dan Jack merapat untuk melihat foto itu


"Yang mana?" Tanya Jack


"Rambut pirang, namanya Darren" ucap Vani


"Dia keliatan kayak model, levelnya beda jauh sama Ray, kan" ucap Jack


"Iya makanya, aku.." ucap Vani terhenti, "Eh.. bukan bukan, aku cuma seneng aja bisa ketemu dia hehe"


"Cowok satunya lagi, dia yang pulang bareng kamu dulu kan?" Tanya Ray


"Iya, Evano. Dia sekelas, sama sekompleks juga. Tapi kayaknya dia baru beberapa bulan ke kompleks ku" jawab Vani

__ADS_1


"Kamu selalu bareng dia?" Tanya Ray, "Difoto juga kalian keliatan akrab"


"Iya.. aku kan ketua kelas, dia wakilnya. Trus juga dia sering bantu aku, walau ekspresinya ga ikhlas"


"Kamu menyukainya?" Tanya Ray


"Iya, tapi rasa sukaku ke kamu lebih banyak" ucap Vani


"Benarkah?"


"Iya beneran" ucap Vani sambil tersenyum


"Bisa janji padaku?" Tanya Ray


"Apa?"


"Jangan menyukainya melebihi menyukaiku"


'uhukk..' "Aku.. buatin minuman" ucap Jack sembari berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua


"Ray, mau nonton bareng ngga besok pulang sekolah" ucap Vani


"Film apa yang kamu suka?" Tanya Ray


"Terserah kamu, yang penting kita nonton berdua" jawab Vani


"Ya udah, aku yang beli tiketnya. Besok aku tunggu kamu di depan sekolah"


"Oke deal!" Ucap Vani senang


"Kamu dandan begini cuma buat temuin aku?" Tanya Ray


"Oh ini, aku.." ucap Vani terhenti, "Eh.. iya pastinya! Dia rela jadi feminim demi kamu" saut Jack sembari meletakkan minuman mereka di atas meja. Saat menoleh ke arah Jack, Vani berhasil menangkap apa yang Jack maksud, "Haha, Jack benar!" ucap Vani


"Tampilanmu udah feminim gini, sifatmu ubah dikit lah" ucap Jack


"Sifatku yang biasanya aneh ya?" Tanya Vani


"Aneh, ngga cocok, ngga berkelas" ucap Jack


"Terserah aku kan"


'drrtt.. drrtt..' Handphone Vani bergetar di atas meja. Ia langsung mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon dirinya, "Oh iya lupa!" Ucapnya sembari berdiri dari duduknya, "Aku pergi duluan" Ia berlari menuju pintu dan langsung keluar begitu saja. Ray yang melihat sepatu Vani masih tertinggal langsung mengambilnya. Ia menoleh ke arah Jack yang masih duduk di lantai, "Apa dia Cinderella yang melupakan sepatunya? kalau benar, berarti aku pangerannya. Apa aku harus kejar dia?"


"Lebay, dia pasti balik" ucap Jack


'cklekk..' Pintu terbuka dan Vani kembali masuk ke dalam ruangan. Ia mengambil sepatunya dari tangan Ray, "Makasih sepatunya, bye Ray" Ia membawa sepatunya berlari keluar dari ruangan itu untuk kembali menuju ke mobil

__ADS_1


__ADS_2