
"Kamu flu? Jaketmu terlalu tebal dan basah, lepaskan segera" ucap Darren
"Aku nggak bisa terkena dingin" ucap Evano
"Benarkah? Kenapa?" Tanya Darren
"Alergi"
Darren melepaskannya sweaternya dan memberikannya pada Evano, "Ganti dengan ini"
"Nggak perlu" tolak Evano
"Pakai saja, bagaimana jika kamu sakit" ucap Darren
"Kasih aja ke Vani" ucap Evano
Vani menoleh ke arahnya, "Nggak usah.. ku kebal sakit. Kamu aja yang pakai"
"Kamu baru kena kram, kebal sakit?" Tanya Evano
"Kram bukan penyakit woy. Kebanyakan lari ni pasti" ucap Vani, "Pakai aja, ngerepotin kalau kamu pingsan gara gara kedinginan"
"Benar kata Vani" ucap Darren
"Hmm.." Evano menerima sweater itu dan kembali menoleh ke arah Vani, "Kamu akan terus melihatku?"
"Nggak lah, siapa juga yang ngeliatin kamu" ucap Vani sembari berbalik
Evano mengganti jaketnya dengan sweater milik Darren
"Kita istirahat sebentar disini sampai keadaan kalian berdua cukup baik untuk berjalan kembali ke Villa" ucap Darren
'swoshh..' angin dingin dataran tinggi di malam hari berhembus menembus pakaian Vani yang basah
"Musim panas gini kok dingin si, gajelas banget" ucap Vani
__ADS_1
"Kamu kedinginan?" Tanya Evano
"Nggak lah, segini mah masih mending"
"Daerah bukit memang dingin saat malam hari walaupun di musim panas" jelas Darren
"Hmm.. iya juga si, apalagi kalau deket laut" ucap Vani
Darren menoleh ke arahnya, "Bagaimana kamu tahu tempat ini dekat laut?"
"Heh? Beneran deket laut?" Tanya Vani
"Kamu mengarangnya?" Tanya balik Darren
"Hehe.. Btw Darren.." ucap Vani terhenti, "Ayo kembali ke Villa" saut Evano sembari berdiri dari duduknya
"Oh.. oke" ucap Vani. Ia juga berdiri dari duduknya, "Darren, kamu bantu Evano. Aku yang pandu arahnya"
"Kamu serius tahu jalan kembali ke Villa?" Tanya Darren
"Hmm.. okay"
Mereka berdua berjalan mengikuti Vani kemana pun ia melangkah. Setelah berjalan cukup lama, Evano menghentikan langkahnya
"Kamu beneran tahu jalannya? sudah hampir setengah jam kita jalan" ucap Evano
Vani menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya, "Ikut aja, bentar lagi nyampe kok"
"Sebaiknya kita percaya padanya" ucap Darren
"Nah tuh, dengerin Darren. Jalan aja apa susahnya si" ucap Vani
Mereka kembali berjalan. Hingga, Vani menghentikan langkahnya, "Lah? Ini.. tempat tadi kita duduk kan?"
Ia menyoroti sekitarnya dengan cahaya senternya, "Tu juga air yang tadi"
__ADS_1
"Kamu yang nunjukin jalan, kenapa tanya kita?" Tanya Evano
"Kita tersesat?" Tanya Darren. Vani menoleh ke arahnya dan mengangguk
"Bagaimana sekarang? Apa kita bermalam disini dan tunggu matahari terbit" ucap Darren
("Bisa bisa kedinginan pake baju basah gini") batin Vani, "Kalian ada bawa handphone?"
"Kita tidak diperbolehkan membawa handphone saat mengikuti perjalanan malam" ucap Darren
"Iya si" ucap Vani. Ia mulai memikirkan sesuatu
Hanya terpintas satu ide di kepalanya, yaitu jam tangan pemberian Kaituo. Ia mengangkat lengan kirinya dan menunjukkannya pada mereka berdua, "Jeng jenggg"
"Cepat hubungi bantuan" ucap Evano
"Tapi, bagaimana mereka tahu lokasi kita?" tanya Darren
"eh.. nama jalan ini apa ya, alamat lengkapnya juga apa?" tanya balik Vani
"pikir aja sendiri" ucap Evano
"Apa ada fitur maps di jam tangan itu?" Tanya Darren
"Gatau belum coba, baru dapet tadi" ucap Vani
"Kamu belum setting? Masukin sim card?" Tanya Evano. Vani menggeleng-gelengkan kepalanya
"Percuma"
Vani menekan acak tombol di jam tangan itu
Muncul sebuah hologram hantu seram yang terpancar cukup besar di atas jam tangan. Mereka bertiga langsung terkejut, "Waaa!!!" Teriak Vani. Ia langsung memejamkan matanya dan kembali menekan acak tombol tombol di jam tangan. setelah memastikan hologram itu mati, ia kembali membuka matanya
"Apa itu tadi" tanya Darren terkejut
__ADS_1