
"Van, are u oke?" Tanya Awani
Vani menaikkan pandangannya dan menatap tajam laki laki yang mendorongnya hingga ia jatuh tersungkur di lantai. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah anak itu, 'Buaagg' Tanpa aba aba, ia langsung menonjok wajah anak itu dengan kencang, "Beraninya dorong aku!"
"Akh, sakit juga pukulan mu" Ucap laki laki itu sembari memegangi pipinya, "Sayangnya aku nggak kasar ke cewek. Kalau kamu minta maaf, akan ku lupakan kejadian ini"
"Tadi kamu dorong dia! Nggak kasar darimana?!" Ucap Agnes
"Kamu gapapa?" Tanya salah satu anak perempuan. Anak laki laki itu menjawabnya dengan anggukan kecil
"Nggak ada minta maaf, kita impas. Kamu dorong aku, aku pukul kamu!" Ucap Vani
“dorongan kecil dan pukulan keras, kamu anggap itu impas?!" Tanya anak perempuan
"Masalah?!" Tanya balik Vani
"Yang bener aja dong, minta maaf!" Saut anak perempuan
"Nggak" Ucap Vani cuek. Ia berjalan melewati orang di hadapannya dengan paksa, "Ayo balik kelas gan, nggak guna ladenin mereka" Ketiga temannya mengikutinya dari belakang
"Haha, orang tuamu nggak ngajarin cara minta maaf ya? Oh lupa, mereka kan udah nyatu sama tanah, mirip ubi. Pantes aja selama ini anaknya jadi berandalan kayak gini" Seru salah satu anak perempuan
__ADS_1
Langkah Vani terhenti ketika mendengarnya, ia segera berbalik, "Ulangi kalau berani!"
"Berandalan yatim piatu" Saut anak perempuan
"Tcih.." Vani terlihat begitu kesal. Ia langsung berlari menghampiri anak itu dan meluncurkan beberapa serangan, 'Buagg.. Bugg.. Bagg' Ia menghajar wajah dan menendang perut anak itu hingga terjatuh ke lantai
'Uhuk.. Uhuk.. Sakit..'
"Hentikan!" Ucap salah satu anak laki laki sembari melindungi anak perempuan yang sedang merintih kesakitan
"Haahh, minggir bngsat!!" Ucap Vani. Ia berjalan menghampiri anak itu dan menarik kerah bajunya, 'Buaggg*' ia langsung menghajar wajahnya dengan pukulan keras
Anak laki laki satunya menggenggam tangan Vani dengan erat untuk menghentikannya, "Hey! Kamu gila apa?! Semua orang kamu pukul tanpa sebab"
"Memang benar kan orang tuamu sudah meninggal? Selama ini kamu nggak tinggal sama orang tuamu kan? Berarti benar juga kan kalau kamu nggak pernah dapat didikan etika dari mereka. Apa yang perlu disangkal?" Ucap anak itu, "Terima saja kenyataan mentahmu"
"Haha, dia itu seperti hewan buas. Langsung menyerang siapa pun pake instingnya. Mungkin karena faktor keluarganya yang nggak bejus, atau teman temannya yang nggak kalah buas" Sambung anak perempuan
"Woy! Jaga ya mulutmu! Kamu nggak kenal keluarga sama teman temanku, tau apa hah?! Kamu nggak berhak nilai mereka pake mulut kotormu itu! Sifatku nggak bergantung ke mereka sama sekali! Aku ya aku. kalau nggak suka, jangan libatin keluarga atau temanku! Cukup aku!" Ucap Vani
"Benar, memang sifatmu bergantung ke dirimu sendiri. Insting buas, tukang buat onar, ngandalin kekayaan orang tua. Setiap kamu bikin ulah, sekolah menyembunyikannya supaya kamu nggak terlibat masalah. Haha, enak ya jadi kamu"
__ADS_1
Emosi Vani kian meningkat, kedua matanya mengembang penuh kekesalan, "Ahahahaa, benar. Semua yang kalian katakan tentangku benar. Trus kenapa? iri bilang boss! Haha.. derajat orangtua kalian bahkan jauh lebih rendah di bawah orangtuaku! Bisa apa kalian?!"
"Van berlebihan" Ucap Agnes. Namun Vani tidak menanggapinya sama sekali, ia terus mengintimidasi orang orang di hadapannya
"Lihat? Kenapa kalian diam? Tarik kata kata kalian tadi! Aku bisa aja gunain kekuasaan keluargaku buat hancurin semua yang berharga buat kalian, itu hal yang sangat mudah buat aku!" Ucap Vani
"Cewek salan!" Ucap seorang anak perempuan kesal sembari menjambak kencang rambut Vani
'akh..' Vani berusaha melepas tangan anak itu dari rambutnya, namun cengkeramannya terlalu kuat. Ia menendang kaki anak itu, 'duag..' 'ah*..' anak itu langsung melepas genggamannya dan melangkah mundur
Vani melangkah mundur sembari mengusap usap kepalanya, '**, sakitan kena jambak daripada dipukul' ucapnya lirih
"M*mposs, Udah mendingan emosinya?" Tanya Agnes
"Van, lagi pms ya?" Sambung Awani, "Btw rambutmu keren"
"Apaan si?!"
"Ayo balik, kelamaan disini" ajak Agnes. Mereka berempat melangkah meninggalkan tempat itu
"Hey!! Setelah apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu katakan. kamu pergi begitu aja?!" Seru salah satu anak cewek
__ADS_1
Vani kembali menghentikan langkahnya, ia tidak menoleh sedikit pun. Kedua tangannya terangkat tinggi, 'plakk..' Ia menepuk sekali tangannya, "Ah nyamuk, ganggu! ga kapok apa ditabok?!" Serunya. Ia kembali berjalan menyusul ketiga temannya
"S*alan! Dia udah ngerendahin kita! Kita nggak bisa diam aja! Kekerasan harus di balas kekerasan juga" ucap geram anak itu