
"Bhaks.. ahahahaa" Vani tertawa senang. Ia mengejar Evano dan berjalan menyamakan langkah kakinya dengan Evano, "Tcihh.. ga ikhlas ternyata"
"Siapa juga yang mau tanggung jawab atas kesalahan orang lain" ucap Evano cuek
"Ada.. kan kamu barusan juga gitu" ucap Vani sambil tersenyum
"Itu kesalahan" ucap Evano. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Vani, "Kenapa kamu ngga bilang dari awal"
"Kamu ngga tanya" ucap Vani
"Dasar licik" ucap Evano. Ia melanjutkan langkahnya
"Aku dah tau kamu bakalan begini, jadi ku sengaja bilang pas akhir akhir hehe" ucap Vani. Ia menghentikan langkah kakinya dan terdiam di tempat, "Tapi beneran loh, aku bilang makasihnya"
Ketika mendengarnya, Evano menghentikan langkahnya. namun ia tidak menoleh dan terus memandang ke depan, "Hmm.. kamu tetap berhutang ke aku" Ia melanjutkan langkahnya kembali ke kamarnya
"Yaahh.. udah kuduga wkwk" ucap Vani senang. Ia berbalik dan berjalan menuju lift untuk kembali ke kamarnya
Sesampainya di dalam kamar, ia tidak melihat seorangpun disana dan baru saja teringat siswa lainnya masih berada di aula Villa. Ia masuk ke dalam kamar dan meloncat ke sofa, "Iyaahhh.."
"Huhh.. masih jam sepuluh, mau ngapain coba" ucapnya sembari membaringkan badannya ke sofa. Ia mengambil handphone dengan tangan kanannya dan membukanya, "Oh!" Saat mendapat sebuah ide, ia langsung kembali bangun dan mencari kontak seseorang untuk dihubungi
'tutt.. tutt..'
'hallo' sapa seseorang dari telepon
"Eh? Diangkat? Ku kira dah tidur" ucap Vani
'apa kamu perlu sesuatu?' tanya seseorang dari telepon
"Heh? Emang ku ngga boleh telpon kalau cuma pen ngobrol?" Tanya balik Vani
'ah.. maaf, aku nggak bermaksud begitu. kamu belum tidur selarut ini?'
"Menurutmu?" Tanya Vani
'ah iya juga.. kita sedang bertelepon, apa yang aku tanyakan tadi'
"Ray.. keknya kamu ngantuk" ucap Vani
'aku temenin kamu, aku akan turun untuk membuat kopi' ucap Ray dari telepon
"Eh.. ngga usah, ku ngga telpon lama. Dah ngantuk juga" ucap Vani
'ada yang mau kamu omongin?' tanya Ray dari telepon
"Hum... Iya, tapi kamu jan kaget ya" ucap Vani
'hal penting? Apa perlu bertemu?'
"Oh.. nice idea, gimana kalau kamu samperin aku ke negara C trus kita ngobrol di cafe depan" ucap Vani
'ah iya, pulangmu masih besok. jadi.. apa yang mau kamu omongin?'
"Oke.. aku bilang sekarang. Good night Ray" ucap Vani
__ADS_1
Ray tersenyum kecil, 'ahahahaa.. kamu ganggu tidurku cuma buat ngomong itu?'
"Ganggu? Kamu tadi udah tidur beneran?"
'dari siang aku kerjain tugas dari kampus, baru selesai tadi jam sembilan malam. Jadi aku langsung tidur' jelas Ray
"Wah.. beneran ganggu dong" ucap Vani
'nggak masalah kalau kamu'
"Heh? Berarti aku bisa telpon kamu jam berapapun?"
'iya, aku pasti akan jawab telponmu'
"Kalau aku telpon kamu tiap detik? Kamu bakalan jawab?"
'nggak, kalau tiap detik kamu telpon aku bisa blokir nomormu, ganggu banget. kamu nggak punya kerjaan lain apa?' jawab Ray
"Heh? Jahatnya" ucap Vani
'ahahahaa'
"Oh ya Ray, aku bisa tanya sesuatu?" Tanya Vani
'hmm?' gumam Ray dari telepon
"Soal.. kamu suka ke aku, itu beneran?"
'he? Kenapa tiba-tiba bahas itu?' tanya Ray terkejut dari telepon
'eh? Kamu barusan tembak aku?!' Tanya Ray terkejut
"Misal duluu" ucap Vani, "Tembak dari telepon emang bisa dianggap beneran pacaran?"
'kamu sering bohong, aku jadi ragu kamu serius'
"Aku dah jadi anak baik loh, dari pagi aku belum kena masalah apapun. Eh ada.. tapi cuma satu, ngga dua"
'katamu belum, belum banyak maksudnya?' tanya Ray dari telepon
"Oh.. iya, aku tadi foto di kota. Mau lihat?" Ucap Vani
'aku mau liat kamu langsung bukan di foto' ucap Ray
"Hum.. jangan vc aku"
'bukan dari vc juga'
"Yaudah next time kita ketemu, see you and good night again. Bye bye Ray" ucap Vani
'good night Vani' balas Ray dari telepon
'tutt..' Vani mengakhiri panggilan teleponnya. Ia meletakkan kembali handphonenya di atas meja dan memutuskan untuk tidur di atas sofa
Setengah jam setelah Vani tertidur pulas, siswi lain dari kamar itu mulai kembali usai renungan malam dan masuk ke dalam kamar. Agnes yang melihat keberadaan Vani langsung menghampirinya, "Woy Van" panggil Agnes, "Tidur ya? Kalau kamu diem artinya beneran tidur"
__ADS_1
"Oh.. Beneran tidur" ucap Agnes dengan ekspresi datar. Ia mengambil dua selimut dan bantal dari dalam lemari. Setelah itu ia meletakkan bantal di bawah kepala Vani dan menyelimuti tubuhnya. Ia berbaring di sofa seberang sofa tempat Vani tidur dan ikut tertidur
Keesokan paginya, kemah musim panas berakhir. Mereka semua termaksud Vani dan Agnes sibuk mengemasi barang bawaan sebelumnya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Vani dan teman-teman seruangannya keluar satu persatu dari kamar. Vani sebagai ketua kelas memandu mereka menuju bus kelas
Di dalam bus, Vani menghampiri Evano yang sepertinya sedang sibuk mengamati siswa kelasnya, "Kenapa? Ada yang kurang?" Tanya Vani
"Semua lengkap, gimana denganmu?" Tanya balik Evano
"Tentu aja" ucap Vani. Pandangannya tertuju pada teman sekelasnya yang sudah berada di dalam bus, "Woy.. ingat ingat lagi! Cek lagi! Jangan sampai ada barang atau temen yang ketinggalan!" Serunya
"Aman! Semua lengkap" seru salah satu teman sekelasnya
"Kamu aja Van, turun. Kalau kamu yang ketinggalan, kita ngga rugi" seru Agnes dari bangku bus terbelakang
"Oke.. semoga perjalanan kalian menyenangkan" seru balik Vani. Ia melangkah keluar dari dalam bus, "Heh? Serius?" Tanya Agnes sembari memperhatikan Vani dari jendela kaca bus
Ketika melihat Azka sedang mengatur kelasnya, Vani langsung datang menghampirinya, "Hay, pak. Ada siswa yang ketinggalan ngga?"
Azka menoleh ke arahnya, "Oh kamu... Sepertinya bapak akan meninggalkanmu disini, busnya ngga muat"
"Saya naik bus kelas saya, bukan bus ini" ucap Vani
"Oh iya" ucap Azka teringat. Ia mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dan menunjukkannya pada Vani, "Tulisanmu sepertinya makin buruk. Tapi bapak bangga sama kamu, kamu niat tulis surat permintaan maaf ini. Kerja bagus"
"Heh? Tulisan buruk?" Tanya Vani bingung sembari merebut kertas dari tangan Azka. Ia memperhatikan kesepuluh lembar kertas yang penuh permintaan maaf dengan tulisan yang menurutnya sangat sangat buruk, "Jelek bat ini mah!"
"Maksudmu jelek? Kamu minta orang lain tulisin itu?" Tanya Azka curiga
Vani menoleh ke arahnya dan mengembalikan kertas itu, "Eh.. bukan lah, kemarin saya pake speed mode. Maklum tulisan kek cakar ayam gini. Oh ya pak Azka, saya mau ngelunasin utang"
"Hutang? Bukannya bapak yang hutang ke kamu" ucap Azka
"Hukuman lari saya kan seharusnya ngga di ganti Evano. Saya kesini buat selesaiin hukumannya"
"Bagaimana kalau impas? Hutang bapak ke kamu juga lunas"
"Oh ngga bisa, hutang itu saya simpan buat lain kali" tolak Vani
"Ya sudah, kamu lanjut lari keliling taman Villa. Bapak akan suruh bus bus ini berangkat lebih dulu"
"Saya ditinggal pak?" Tanya Vani
"Kurang lebih begitu" ucap Azka kalem, "Bapak mau siap siap dulu"
"Eh bentar pak. Sini aja liatin, ngga sampai lima menit kok" ucap Vani
"Hm? Lima menit?" Tanya Azka bingung
Vani mengeluarkan handphonenya dan mencari denah Villa itu. Setelah menemukannya, ia meletakkan handphonenya di lantai paving tempatnya berdiri. Ia berlari kecil memutari handphonenya sepuluh kali, "Wah.. selesai, cuma empat menit" ucap Vani sembari mengambil kembali handphonenya dari lantai. Ia menoleh ke arah Azka yang terdiam memasang ekspresi datar sembari menatap dirinya. Ia menunjukkan denah villa itu pada Azka, "Liat pak, bukan cuma taman, ini satu villa loh yang aku putarin. Pantes aja capek gini"
"Lakukan sesukamu" ucap Azka mengalah
"Jadi.. hukuman saya lunas kan?" Tanya Vani
"Iya.. terserah" ucap Azka cuek sembari berjalan pergi meninggalkan Vani
__ADS_1
"ahahahaa"