
Vani melangkah keluar dari kamar mandi, "Nes.. hilangin barang bukti sama jejaknya. Aku mau cek korban"
"Oke.. serahin ke aku" Ucap Agnes. Vani mengangguk percaya. Ia keluar dari kamar dan berlari menuju Klinik Villa
Di depan klinik sudah tidak terlihat satu orang pun yang menonton, Vani hanya melihat Evano dan teman Riry yang menemani Riry di dalam klinik. Vani menerobos masuk ke dalam klinik dan menghampiri Riry yang masih pingsan terbaring di atas ranjang, "Gimana keadaannya?" Ucapnya sembari menoleh ke arah teman Riry
"dia belum sadar, tapi kata perawat baik baik aja" Jawab teman Riry
Evano menyadari kedatangan Vani, ia menggapai tangannya dan menariknya keluar dari Klinik. Mereka berdiri cukup dekat dan saling bertatapan, "Eh.. kenapa seret aku kesini. gimana keadaannya" Ucap Vani
Evano menatap Vani dengan tajam, ia terlihat sangat kesal karena sesuatu, "KAU PELAKUNYA! Kau berniat membunuhnya dengan wasabi itu hah?!"
"Apaan?!" Tanya Vani sembari mendorong tubuh Evano menjauh
"Oh.. kamu pasti kesal kan karena sifatnya, kamu berniat balas dendam?! Kamu sengaja kan jebak dia dengan wasabi itu?!"
Vani menatap Evano dengan tatapan tidak percaya, ia tidak menyangka Evano akan memarahinya tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dahulu, "Kamu yakin itu aku?!" Tanya Vani
__ADS_1
"Iya! Siapa lagi yang beli wasabi dan punya niatan jahat sepertimu?!" Ucap Evano
"Oke fine, ini salahku! Laporin aja kepolisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan!" Ucap Vani
"Hah.. Lapor polisi? Keluargamu pasti gampang ngatasinnya. Kamu akan terus hidup dengan kebebasanmu dan berbuat sesuka hatimu. Terusin aja!"
"Pasti! aku akan hidup sesuai keinginanku. kenapa?! nggak terima?!" Vani menghela nafas untuk menurunkan emosinya, "Hey.. ayolah, dia cuma pingsan. Kenapa kamu marah segininya ke aku?!" Tanya Vani
"Cuma pingsan katamu? Gimana kalau terjadi sesuatu padanya?!"
"terjadi apa? apa? cuma wasabi doang juga! Ah.. terserahlah. Ikuti aja apa yang menurutmu benar" Ucap Vani sembari memalingkan pandangannya. Ia melangkah pergi meninggalkan Evano. Di tengah berjalan, ia terhenti dan kembali menoleh ke arah Evano, "Aku yang tanggung biaya pengobatannya" Ia melanjutkan langkahnya dengan cepat kembali ke kamar
Agnes yang baru saja keluar dari kamar mandi datang menghampirinya, "Kenapa ekspresimu gitu? Kamu ketangkap polisi beneran?"
Vani menoleh ke arah Agnes dengan tatapan kesalnya, "Hehe, becanda Van" Ucap Agnes dengan tawa kecil
"Nes, dia cuma pingsan kan?!" Ucap Vani
__ADS_1
"Iya, paling juga kebablasan trus tidur" Ucap Agnes
"Nahkan, trus juga kalau alergi nggak bikin mati kan!" Ucap Vani
Agnes mengangguk, "Kenapa emang? Bhaks.. jangan bilang mereka beneran seret kamu ke kantor polisi"
"Evano marahin aku di depan klinik, dia marah berlebihan banget sumpah" Ucap Vani kesal
"Kenapa nggak kamu ajakin berantem?" Tanya Agnes
"Pengen banget tonjok, tapi situasinya nggak memungkinkan. Nggak mungkin kan aku jelekin nama sekolah di negeri orang"
"Sans Van, bawa happy aja" Ucap Agnes
"Happy palakau" Ucap Vani sambil berdiri, "Dahlah, aku mau keluar. Refreshing cari angin"
"Udah jam enam njirr, kamu juga belum mandi woy" Ucap Agnes
__ADS_1
Vani kembali menghela nafas panjang, "Hahhh.. Aku mau refreshing di kamar mandi" Ia melangkah pergi menuju kamar mandi
"Njirr ni anak" Ucap Agnes. ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar