
'aku harus siap siap hadapinnya' gumam Vani lirih
'Satu.. du.. '
"Hah?!" Vani kembali terkejut ketika orang itu tiba tiba berada di hadapannya dan kemunculannya tidak sesuai dengan perhitungannya, "Kamu!" Ia merasa sedikit lega ketika melihat orang itu bukan seorang penjahat
"Kenapa kamu berhenti disini?" Tanya Evano
"Kenapa ngikutin aku?! Aku kira penjahat"
"Ikutin kamu?" Ucap Evano bingung. Ia menoleh ke belakangnya, "Siapa?"
"Kamu woy!" Ucap Vani kesal
"Aku nggak pernah ngikutin kamu"
"Trus kenapa dari tadi jalan dibelakangku?"
"Rumahku juga ke arah sini, lagian ini kan jalan umum" Ucap Evano
"Iya sih, kalau rumahmu ke arah sini, kenapa aku nggak pernah ketemu kamu pas lewat sini?" Tanya Vani
"Ini pertama kalinya aku pulang jalan kaki, biasanya aku pulang pakai jemputan sopir"
"Trus sekarang kenapa sopirnya?" Tanya Vani
"Ini interogasi ya?" Tanya balik Evano, "Pertanyaanmu cukup banyak"
"Njirrr, malah ngikut kata kataku tadi" Ucap Vani dengan ekspresi datar, "Udahlah, nggak penting juga bagiku"
"Aku suruh sopirnya pulang duluan pas aku liat ada polisi tidur yang janggal" Ucap Evano
"Ahahahaaa.. apaan coba" Ucap Vani sambil tertawa
Evano hanya tersenyum kecil menanggapinya, "Ayo jalan, sebentar lagi sampai jalanan kompleks"
__ADS_1
"Eh? Kok tau?" Ucap Vani penasaran
"Kan aku udah bilang, rumahku ke arah sini"
"Iya deh percaya" Ucap Vani ragu. Mereka berdua kembali melangkahkan kaki keluar dari gang gang sempit yang sudah mereka lalui
Di ujung komplek perumahan, Evano berhenti di depan sebuah rumah mewah. Vani yang menyadari Evano tidak lagi melangkah di sampingnya terhenti dan mencari keberadaannya, "Kenapa berhenti disitu?"
"Ini rumahku, buat apa aku terus jalan?" Tanya Evano
"Heh? Kamu di kompleks ini juga?" Ucap Vani sembari memperhatikan sekitarnya, "Ini kan kompleks rumahku"
"Aku tau. Aku pernah liat kamu naik taxi dari jalanan sebelah sana ke depan rumah di tengah sana'" Ucap Evano sembari menunjuk arah, "Padahal dekat, kenapa naik taxi? Capek ya?"
"Oh inget, dulu aku kebiasaan liat jalanan dari mobil. Pas turun langsung bingung deh, trus panggil taxi"
"Kamu udah punya sim?" Tanya Evano
"Belum, kemungkinan tahun ini"
"Aku tinggal sendiri, nggak ada yang nganterin. Harus mandiri kan" ucap Vani
"Kamu ngggak punya sopir?"
"Nggak, aku pengen mandiri aja" ucap Vani, "Hmm.. kenapa kamu tanya terus dari tadi? Udah sampai rumah juga, masuk gih"
"Aku cuma penasaran tentangmu"
"Hmm?" Vani terlihat bingung dengan jawaban yang diberikan Evano
Evano kembali tersenyum, "Pulang gih, perlu ku antar biar nggak nyasar?"
"Nggak usah, rumahku keliatan juga" Ucap Vani, "Ya udah, bye bye" Ia pergi meninggalkan Evano dan berjalan menuju rumahnya
Di tengah perjalanan, handphone di sakunya tiba tiba berdering. Ia segera mengambil handphone itu dan mengeceknya, "Hmm? Ray telpon?"
__ADS_1
'tutt..'
"Hallo Ray? Kenapa?" Ucap Vani
'hai, kamu dimana?' sapa Ray dari telepon
"Aku di sekitar rumah, kenapa?"
'kamu baru pulang sekolah?'
"Iya"
'sendiri?' tanya Ray dari telepon
"Iya"
'bohong, aku liat kamu pulang sama cowok'
"Heh? Kok tau" ucap Vani penasaran
'berarti benar kamu pulang sama cowok?'
"Tadi iya, tapi sekarang nggak"
'siapa dia?'
"Dia wakilku di kelas, namanya ku gatau" ucap Vani
'Beneran kamu nggak tau namanya? Tapi sepertinya kalian berdua cukup akrab. aku liat kalian ngobrol sambil ketawa ketawa' Ucap Ray dari telepon
"Heh? Kok tau si? Kamu dimana?" Tanya Vani penasaran
'aku ada di tempat dimana aku bisa liat kamu sekarang'
"Heh?" Vani mengamati wilayah sekitarnya tempatnya berdiri. Ketika berbalik, ia melihat Ray berdiri cukup jauh dari dirinya. Ia memutuskan teleponnya dan menyimpannya kembali di saku, "Woy! Ray!" Teriaknya memanggil. Ray terlihat tersenyum kecil sembari berjalan mendekat ke arahnya. Saat jarak mereka semakin dekat, senyuman Ray mulai memudar
__ADS_1