Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter77


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Vani langsung berlari keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift. Ia kembali berlari keluar dari Villa menuju Cafe. Di dalam Cafe, Vani langsung menghampiri Kim yang sudah menunggunya di salah satu meja. Ia duduk di hadapannya, "Agnes, Awani sama Putri mana?"


"Mereka udah makan" ucap Kim


"Trus.. cuma kita berdua?" Ucap Vani


Kim mengangguk mengiyakannya, "Mau makan apa?"


"Udon" ucap Vani


Kim mengecek menu di hadapannya dan tidak menemukan udon di dalam menu, "Pesan yang ada" ucapnya dengan ekspresi datar


"Ahahahaa.. Eh.. sebelumnya ku kesini pesen lewat mesin itu, kenapa sekarang ada menunya?" Ucap Vani


"Kakak udah booking cafenya" ucap Kim


Vani memasang ekspresi datar, "Yee.. pantes sepi"


"Pesan apa? Utamakan menu yang sehat" ucap Kim, "Gimana kalau pizza?"


"Sejak kapan pizza jadi makanan sehat. Tapi setuju, dah lama ngga makan juga" ucap Vani senang


Pelayan datang menghampiri mereka dan Kim memberitahunya makanan yang mereka pesan, "Mohon ditunggu sebentar" ucap Pelayan. Ia pergi meninggalkan mereka berdua


"Emm.. Khakim besok ke negara B kan? Berapa hari? Pulang ngga?" Tanya Vani


"Perlu kakak ambil cuti?" Tanya balik Kim


"Heh? Emang bisa? Khakim kan bossnya. Kalau cuti ntar karyawan Khakim bisa ngga?" Ucap Vani


"Um.. tiga hari cukup?" Tanya Kim


Vani terkejut mendengarnya, "Beneran? Khakim pulang?!"


Kim tersenyum sembari mengangguk kecil, "Perusahaan bisa mengandalkan Sekretaris Aeera"


"Pulang ke rumahku loh!" Ucap Vani


"Iya iyaa" ucap Kim sambil tersenyum. Setelah obrolan singkat itu, mereka hanya terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Vani merasa hawa kecanggungan mulai mendatangi mereka


("Gimana ini? Kenapa khakim diem?! Apa dia ngga mau ngobrol sama aku? Kenapa jadi canggung gini?! Apa yang biasanya kakak ama adek obrolin kalau lagi berdua?!") Batin Vani yang mulai gelisah, "Oh!" Ucapnya bersemangat ketika mendapatkan sebuah ide


Pandangan Kim kembali tertuju padanya, "Kenapa tiba-tiba teriak?" Tanyanya Penasaran


"Berapa umur Khakim tahun ini?!" Tanya balik Vani


"Kamu ngga tahu umur kakakmu sendiri?" Ucap Kim


"Yahh.. aku terlalu sibuk belajar sampai lupa deh" ucap Vani mengeles


"Alasan begitu mana bisa diterima!" Ucap Kim


"Bilang aja, berapa?"


"Berapa tebakanmu? Kalau benar, uang jajan bulananmu kakak gandakan" ucap Kim sambil tersenyum


"Khakim ganti profesi jadi dukun?!" Tanya Vani


"Terserah kamu" ucap Kim


"Yah.. kalau tawarannya cuma uang saku berlipat, ngga minat" ucap Vani cuek


"Kakak gandakan sepuluh kali lipat loh, nggak mau ya udah" ucap Kim


Vani kembali bersemangat mendengarnya, "Deal!" Ia langsung mengeluarkan handphonenya dan membuka browser untuk mencari usia Kim di internet, setelah menemukannya ia tersenyum sembari menatap Kim, "Dua puluh enam"


"Nggak diterima, kamu searching" ucap Kim dengan ekspresi datar


"Heh? Bisa lah, kan Khakim ngga bilang kalau ga boleh browsing" ucap Vani


"Kakak bilang kan tebak! Bukan browsing" ucap Kim, "Jangan coba membodohi kakak"


"Tcihh.. curang" ucap Vani sembari memalingkan wajahnya

__ADS_1


"Kamu yang curang!" Ucap Kim ngegas, "Ehem.." Ketika melihat pelayan membawakan pesanan mereka, Kim langsung merubah sikapnya 360°. Pelayan itu menyajikan satu persatu pesanan mereka di atas meja, "Selamat menikmati" ucapnya ramah. Ia berjalan pergi meninggalkan meja mereka


"Kenapa menunya jadi sebanyak ini?!" Tanya Vani terkejut


"Udah lama kita nggak makan besar kan" ucap Kim sambil tersenyum


"Tapi ngga sebanyak ini juga, mubasir. Siapa yang mau habisin" ucap Vani dengan ekspresi datar


"Kamu" ucap Kim


"Mustahil" ucap Vani


"Ayo makan" ucap Kim. Mereka berdua mulai menyantap makanan di hadapan mereka. Di tengah memakan makanannya, terlintas suatu pertanyaan di pikiran Vani. Ia menghentikan aktivitas makannya dan menanyakan pada Kim, "Oh ya, gimana dulu Khakim bisa jadi ceo di umur dua puluh empat tahun?"


"Kenapa kamu bertanya saat makan? Selesaikan dulu makanmu. Lidahmu bisa kegigit kalau terus ngoceh" ucap Kim


Vani melanjutkan makannya sembari melemparkan pertanyaan pada Kim, "Dari pada makan diem hayo, kan enak sambil ngobrol. Kalau ngobrol biasa, lidah ngga bakal kegi..."


'krakk..' Vani terdiam sesaat


"Akhh..!!!" Teriaknya


Kim meletakkan garpu ditangannya dan memberikan segelas air pada Vani, "Hey kakak bilang juga apa?! Jangan ngomong saat.."


'krakk' Lidah Kim ikut tergigit


"Akh!!" Ucapnya kesakitan


"Ahahahahaa... Karma tuh" ucap Vani sambil tertawa, "Makanya telen dulu sebelum ngomong"


"Ah.. kamu harus introspeksi diri sebelum ngomong itu" Kim langsung mengambil segelas air di hadapannya dan meneguknya hingga habis


Vani mengambil satu ebi furai dengan garpu dan meletakkannya di atas piring Kim, "Coba ini, enak bat sumpah!" Kim mengambilnya dan menggigit setengahnya


"Gimana?" Tanya Vani


kim mengunyah dan menelannya terlebih dahulu sebelum mengatakan pendapatnya, "Bagian luarnya crunchy, udangnya juga kerasa fresh" ucapnya


"Iya kan! Enak bat" ucap Vani sembari menyantap makanannya


Vani memasang ekspresi datar sembari memperhatikan Kim menikmati makanannya, "Kenapa malah review makanan"


"Ahahaha.. gimana menurutmu? Apa kakak pantas jadi food vlogger?" Tanya Kim


"Ngga ngga ngga, ngga pantes" jawab Vani, "Jangan bilang pas makan sama orang orang di kantor, Khakim juga gini!"


"Nggak, sebelumnya kamu kan yang minta pendapat kakak" ucap Kim, "Sebenarnya kakak udah pernah makan yang jauh lebih enak daripada ini"


"Iya kah? Dimana?" Tanya Vani


"Um.. lain kali kakak ajak kamu ke sana"


"Yee.. ga asik" ucap Vani, "Eh.. Khakim beneran ngga bersikap gini kan pas lagi makan sama yang lain?"


"Mana mungkin!" Ucap Kim


"Syukurlah" ucap Vani lega


"Apa seburuk itu? Kakak cuma begini sama kamu, biar kamu nggak bosen"


"Di ruangan ini cuma ada kita berdua, kalau Khakim mau Khakim bisa pura pura lagi jadi food vlogger. Aku kameramennya" ucap Vani


"Nggak perlu, kakak nggak mau keliatan konyol buat kedua kalinya di depanmu" tolak Kim


"Tcihh.."


"Gimana sekolahmu? Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Kim


"Hum.. iya kayak sebelum-sebelumnya"


"Terus Kaituo? Apa dia sering marahin kamu?"


"Ngga, dia juga kayak sebelum-sebelumnya"

__ADS_1


"Emm.. bibi, apa dia masak menu baru?"


"Ngga, dia masak kayak sebelum-sebelumnya"


"Kenapa kamu terus jawab kayak sebelum-sebelumnya?!" Tanya Kim


"Kenapa kakak trus tanya padahal kita lagi makan! katanya ngga boleh ngobrol sambil makan!" Ucap Vani


"Oh.. yaudah, selesaikan makanmu" ucap Kim mengalah. Mereka berdua menyelesaikan makan malam mereka. Setelah selesai, mereka berdua kembali ke area Villa


Di depan Villa, Kim menghentikan langkahnya. Vani menyadarinya dan menoleh ke arahnya, "Kenapa Khakim?"


Kim memperhatikan jam di tangannya, "Kakak harus pergi"


"Loh? Katanya Khakim batalin semua agenda malam ini, kenapa buru buru?" Tanya Vani


"Besok kita bisa ketemu lagi. Kamu masuk gih, gabung sama yang lain" ucap Kim


"Tcih.. masa cuma makan malam doang si" ucap Vani kesal


Saat itu Aeera keluar dari Villa dan berjalan menghampiri Kim, "President Kim, everything is settled. does the president want to meet the supervisor from the Vani school?"


["Presdir Kim, semua sudah beres. Apa presdir berkenan untuk bertemu dengan pembina dari sekolahnya Vani?"]


"No need. get the car ready, we go back to the company" ucap Kim tegas


["Tidak perlu. Siapkan mobil, kita kembali ke perusahaan"]


"Prepare immediately" ucap Aeera


["Segera persiapkan"]


Ia pergi menyiapkan mobil untuk kembali menuju kantor perusahaan


Kim menghampiri Vani dan menepuk kepalanya, "Jangan sedih kalau kakak pergi"


"Yee.. siapa juga yang sedih" ucap Vani cuek


"Yakin?" Tanya Kim sambil tersenyum


Vani langsung memeluk Kim dengan erat, "Besok beneran pulang yaa"


"Iya iya" ucap Kim sambil mengusap-usap rambut Vani


Vani melepaskan pelukannya ketika melihat mobil terhenti di belakang Kim, "Dah sana pergi"


"Kakak di usir?" Tanya Kim


"Iya" ucap Vani. Ia langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam Villa


"Dasar" ucap Kim dengan senyum tipis. Ia masuk ke mobilnya dan mobil itu melaju pergi dari Villa


Saat Vani berjalan melewati aula Villa yang digunakan untuk renungan malam, ketiga temannya datang menghampirinya dengan ekspresi sedih berlinangkan air mata. Mereka memeluk Vani bersamaan, "Ehh.. apaan ni!" Ucap Vani terkejut


"Huwaa.. Vani.. hiks.. hiks.." Agnes menangis tersedu-sedu


"Apaan jirr" Vani melepas pelukan mereka dan menjaga jarak, "Ada apa woy?!"


"Hiks.. kata pembina, orangtuaku meninggal.." jelas Agnes


"Matamu! Nggak gitu jirr" ucap Vani dengan ekspresi datar


"Dia bilang orangtua kita semua meninggal trus kita hidup sebatang kara.. hikss.. gimana nasibku, papa belum kasih warisannyaa.. huwaaa.." ucap Agnes


"Ga gitu woy, itu cuma suruh bayangin doang! Ku aminin m*mpus kau!" Ucap Vani


"Hiks.. bahasa sininya bayangin apa?" Tanya Agnes


"imagine"


"Oh" tangisan Agnes tiba-tiba terhenti. Ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya, "Iya tadi pembina ada bilang gitu, ku lupa artinya"


Vani menoleh ke arah Awani dan Putri, "Kalian kan ngga ngerti artinya, kok ikut nangis?"

__ADS_1


"Hikss.. Agnes bilang ortunya meninggal. Gimana ngga sedih coba" ucap Putri


"Jirr gajelas kalian"


__ADS_2