Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter70


__ADS_3

"aneh nggak sih aku jalan sama dua orang yang mencurigakan kayak kalian" ucap Vani. Evano melepaskan maskernya dan membuangnya di tempat sampah depan toko yang mereka lalui, Vani menyadarinya dan menoleh ke arahnya, "Kenapa lepas?" Tanya Vani


"Pengap" jawab Evano


"Pasti gitu, udah mulai kerasa juga panas mataharinya" ucap Vani. Ia menoleh ke arah Darren yang berdiri di sisi lainnya, "Kamu serius pakai itu semua?"


"Aku tidak ingin terkena panas matahari" ucap Darren


"Haha... terserah" ucap Vani


Darren menunjuk sebuah jalur penyeberangan lampu merah di perempatan jalan, "Kita akan menyeberang ke sana"


"Okeysip" ucap Vani


Sesampainya di ujung jalan, mereka menunggu lampu merah selanjutnya menyala. Ketika pandangannya menjelajah, Vani tanpa sengaja melihat sebuah iklan video yang cukup besar terpampang di depan sebuah gedung. Ia merasa mengenali bintang iklan di dalamnya, "Oh!" Ketika menyadarinya, Ia langsung menoleh ke arah Darren, "Darren! Is that you?!" Ucapnya sembari menunjuk ke arah video iklan itu


Darren dan Evano menoleh bersamaan ke arah yang ditunjuk Vani


"Bagaimana kamu tahu itu aku? Padahal aku menggunakan make up saat syuting iklan itu" ucap Darren


"Heh? Serius kamu?" Tanya Vani semakin terkejut


Darren mengangguk, "Kadang ada yang menawariku pekerjaan itu dan aku mengambilnya saat luang"


"Woahh.. hebatnya, pantes aja banyak yang kerumunin kamu pas di aula" ucap Vani takjub


"Kamu mengawasiku?" Tanya Darren


"Nggak sengaja liat pas lewat"


"Apa hebatnya cuma syuting iklan" ucap Evano sembari memalingkan wajahnya


Vani langsung memasang ekspresi datar dan menoleh ke arahnya, "Woy, jangan rusak kesenangan orang. Emang kamu bisa gitu?"


"Siapa juga yang mau jadi bintang iklan? Banyak pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi menungguku" ucap Evano


"Itu kan kalau dah lulus, sekarang mana bisa. Uang aja minta ortu pasti, yahaha" ejek Vani


"Kamu sama" ucap Evano


"Mana ada yee, aku nggak minta aja udah dikasi sama Khakim"


"Sama aja"


"Beda"

__ADS_1


"Sama"


"Beda kali"


"Terserah" ucap Evano


"Yahaha kalah kau" ucap Vani senang


"Ahahahaaa.. kalian terlihat lucu" ucap Darren sambil tertawa


"Dimana letak kelucuan seorang Evano?" Tanya Vani sembari mengamati Evano, "Haissh.. percuma cari, gaada" Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah Darren, "Btw Darren, kamu ke kantor kakakku buat jadi model?"


"Bagaimana kamu bisa tahu itu juga?" Tanya Darren


"Asal nebak aja hehe" jawab Vani


"kamu cukup hebat dalam menebak"


"Harus.. hehe" ucap Vani bangga


"Oy jalan, ngobrol terus" seru Evano yang sudah menyeberang setengah jalan


"Oiya lampunya" ucap Vani. Ia dan Darren berjalan menyusul Evano


Pukul 10.00, acara pementasan bakat di panggung besar yang di bangun di area Villa perkemahan dimulai.Seorang MC profesional dari Negara C di datangkan langsung untuk mengisi acara


["Hallo semuanya, aku William yang akan menjadi MC untuk acara pementasan bakat hari ini"]


"The lottery number has been predetermined. So.. let's just watch the first appearance of Academy B High School class ten Mipa A!"


["Undian nomor pementasan sudah di tentukan sebelumnya. jadi.. langsung saja kita saksikan penampilan pertama dari Academy B High School, kelas sepuluh Mipa A!"]


"cheer them on"


["Beri sorakan untuk mereka"]


'huuuu~' sorakan bersemangat para peserta kemah musim panas


Di antara kerumunan peserta kemah itu, Riry datang menghampiri Agnes, "Hey, kita dapat undian nomor tujuh buat Evano. Dancenya nomor tiga puluh" ucapnya sembari menunjukkan nomor undian di handphonenya


"Kamu udah hubungin Evano? Dimana dia?" Tanya Agnes


"Nggak tahu, bukannya Vani lagi samperin dia? Dimana dia?" Tanya balik Riry


"Entah.. belum balik dari tadi" ucap Agnes

__ADS_1


"Coba telpon dia" ucap Riry


"Oke.. ayo kesana, disini terlalu ramai" ucap Agnes. Riry mengikutinya menjauh dari keramaian


Agnes menghubungi Vani dengan handphonenya


'tutt'


"Woy Van, dimana?"


'hallo Nes? Hallo? Hallooo? duh.. si.. nyal bu.. rik', patah patah nggak barusan?' ucap Vani dari telepon


"Iya patah patah, tapi pas kamu tanya patah patah nggak, nggak patah patah" ucap Agnes


'tapi patah patah kan? Sinyal jelek banget.. bzztt.. bztt.. ntar ku telpon lagi kalau udah bener, byee' ucap Vani mengakhiri panggilan, 'tutt.. tut.. tut..'


"Njirr.. gajelas ni anak" ucap Agnes terheran


"Gimana? Dimana dia?" Tanya Riry


"Dia lagi sulap, ngilang dari acara ini. Keknya dia lagi di suatu tempat" jelas Agnes


"Maksudnya? Dia lari dari tanggung jawab sebagai ketua?" Tanya Riry


"Yap.. plus minus" ucap Agnes mengangguk, "Telpon aja kembaranmu, suruh kesini buat siap siap tampil. Nggak ada Vani ga masalah"


"Gimana sih, temenmu ga niat banget" ucap Riry. Ia menghubungi kembarannya dengan handphonenya


'tutt.. tutt..'


'maaf, nomor anda sedang dialihkan'


"Sok sibuk banget, padahal biasanya di angkat" ucap Riry


"Hum.. dimana dia sekarang? Ayo cek langsung" ucap Agnes


"Ayo, ke klinik" ucap Riry


"Skuy" ucap Agnes sembari berlari mendahului Riry


Sesampainya di dalam Klinik, mereka tidak melihat satu pun orang berada di tempat itu, "Gaada, kemana dia" ucap Riry


"Mana ku tahu" ucap Agnes. Tanpa sengaja ia melihat sebuah handphone di atas meja samping salah satu ranjang pasien. Ia mengambilnya dan mengangkatnya untuk menunjukkannya pada Riry, "Ni punya Evano?"


Riry menghampirinya dan merebut handphone itu untuk memeriksanya, "Ah.. benar, ini punya dia"

__ADS_1


"Fiks.. dia lagi sama Vani" ucap Agnes yakin


__ADS_2