
Ray dan Vani berada di dalam mobil. Vani menyalakan mesin mobil dan menoleh ke arah Ray, "Lokasinya satu jam dari sini, gimana kalau kita ke rumahku dulu. Ada barang yang harus ku ambil" Ucapnya
"Barang?" Tanya Ray penasaran
"Pistol listrik yang di kasi sama kak Belz dulu, buat jaga jaga" Jawab Vani
"Bagus kalau gitu, ayo berangkat" Ucap Ray
"Let's go!" Seru Vani bersemangat. Ia mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di depan rumah Vani. Vani membuka sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Ray, "Tunggu sini, aku bentar doang" Ucapnya. Ray mengangguk mengiyakannya
Vani keluar dari mobilnya dan berlari menuju ke rumahnya. Ray tersenyum kecil ketika melihatnya, 'Dasar, kenapa dia lari segala' gumamnya
Vani berlari ke kamarnya untuk mengambil pistol listrik miliknya. Setelah mendapatkannya, Ia kembali berlari menuju pintu rumahnya. Bibi melihat Vani berlari menuruni anak tangga, "Non pelan pelan non, nanti jatuh" Serunya panik
"Buru buru Bi!" Ucap Vani sembari berlari melewati Bibi dan keluar dari rumahnya
Kaituo yang mendengar suara Vani langsung menghampiri ke asal suara, "Bi, Vani dah pulang?" Tanyanya
"Iya tuan Kaituo, baru saja pulang terus buru buru keluar lagi" Jawab Bibi
"Baru aja?"
"Iya tuan Kaituo"
"Bi bantu keluar!" Ucap Kaituo terburu buru. Bibi membukakan pintu dan membantu mendorong kursi roda Kaituo
__ADS_1
'BROOMMM!!' Di saat yang bersamaan, mobil Vani melaju pergi dari tempat itu. Kaituo hanya terdiam sembari memperhatikannya, "Bi.. bantu aku balik ke kamar" Ucap Kaituo
"Apa tidak apa apa non Vani pergi gitu aja? Apa perlu bibi telpon non Vaninya supaya dia kembali kesini?" Tanya Bibi
"Ngga perlu bi, antar aku ke kamar aja" Jawab Kaituo
"Baik tuan" Ucap Bibi menurut. Ia mendorong kursi roda Kaituo menuju kamar Kaituo
Di dalam perjalanan dengan mobil, Ray merasa penasaran dengan pistol listrik yang Vani maksud. Ia menoleh ke arah Vani yang sedang fokus menyetir, "Pistol listrik yang kamu bilang, pistol mainan itu?" Tanyanya sembari memperhatikan pistol listrik yang Vani letakkan di atas dashboard mobil
"Iya itu.. sekali tembakan bisa buat orang pingsan setengah jam" Ucap Vani
"Beneran berfungsi? Kamu pernah coba?" Tanya Ray penasaran
"Iya pernah, berfungsi banget" Ucap Vani
"Kamu nggak keluar bawa pistol itu terus setrum tiap orang yang papasan sama kamu kan?"
"Oh ya Ray, aku jadi asisten yang transaksi. Trus kamu asistennya asisten kan?" Ucap Vani
"Iya, asisten punya asisten"
"Ray, mereka ngga bawa senjata tajam kan?"
"Ini misi tingkat B, seharusnya nggak ada. Tapi tetap hati hati, belum pasti mereka nggak simpan senjata tajam"
"Ray, kamu ingat ngga pertama kali kita ketemu?" Tanya Vani
__ADS_1
"Ketemu Vani yang masih jadi kang toxic? Yang kewalahan ngadepin preman di gang buntu?" Jawab Ray
"Yee.. kok kang toxic, lagian dah kubilang bukan kewalahan yaa! Tapi kamu aja main masuk pertarungan orang"
"Yakin ngomong gitu? Kalau aku nggak gabung, mungkin kita nggak akan di sini saat ini"
"Hum.. Tapi nyatanya kamu gabung kan?"
Ray tersenyum sembari menoleh ke arah Vani, "Aku bersyukur pas itu aku gabung, aku jadi punya kamu sekarang" Ucapnya manis
"Ahahaa" Vani hanya tertawa salting dan tidak tahu harus membalas apa
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di gedung terbengkalai di pinggir kota tempat transaksi akan di lakukan. Vani memarkirkan mobilnya di basement gedung itu. Setelah menyiapkan diri, Vani dan Ray keluar dari mobil, "Lantai sembilan kan" Ucap Vani
"Benar Nona Addrian Lim" Jawab Ray sopan
'puftt' Vani tersenyum kecil melihat tingkah Ray. Ia langsung berjalan dengan penuh kewibawaan menuju tempat transaksi. Mereka berdua masuk ke dalam lift di basement itu, ("Gimana bisa listrik di gedung terbengkalai gini nyala, lift pun nyala!") Batin Vani heran
'tingg' Lift itu sampai di lantai 9. Ketika pintu lift terbuka, 2 orang bodyguard terlihat menghadang jalan keluar Vani dan Ray. Vani langsung mengeluarkan kartu nama palsu yang sudah di siapkan Jack sebelumnya, Ia menunjukan kartu itu pada bodyguard di hadapannya. Setelah melihat kartu nama itu, kedua bodyguard itu mempersilahkan Ray dan Vani untuk berjalan melewati mereka
Saat memasuki ruangan transaksi, Vani di persilahkan duduk oleh seseorang. Orang itu mengambil secangkir minuman dan menyuguhkannya pada Vani, "Silahkan di minum" Ucap orang itu dengan ekspresi serius
"I don't want to die" Ucap Vani santai, ("Untung Jack udah kasi tau kode jawabannya kalau di kasi minuman") sambung batinnya
Ekspresi serius orang itu langsung berubah menjadi ramah dengan sangat cepat, "Oh.. ahahahaa, welcome nona Lim bukan? Ini pertama kalinya kita bertemu. Transaksi sebelumnya bukan saya yang menangani langsung, tapi bukankah wajah nona Lim terlihat sangat muda untuk seseorang dengan usia tiga puluhan" ucapnya
"Terimakasih, saya anggap sebagai pujian. Saya rajin mendatangi klinik kecantikan dan beginilah hasilnya" Ucap Vani dengan senyuman kecil
__ADS_1
"Pantas saja hahaha.." Tawa orang itu, "Untuk peraturan transaksinya masih ingat kan? Kami tidak menerima transfer"
Vani memberikan kode pada Ray dengan tangannya. Ray yang berdiri di samping kursinya langsung maju selangkah dan membuka koper yang Ia bawa. Melihat tumpukan uang yang memenuhi koper itu membuat sang pengedar n*rkoba tampak sangat senang dan langsung berdiri dari duduknya, "Wahahahaa.. kalau begitu, mari nona Lim langsung saja!" Ucapnya senang