
Ray dan Zahra duduk di kursi lobi untuk memakan sarapan mereka
"Ray, kamu sadar nggak? Anak cewek tadi keliatan mau nangis. apa tangannya kena pecahan mangkuk trus disembunyiin ya?" Ucap Zahra
"Dia nggak terluka" ucap Ray
"Terus kenapa dia nangis? Apa ada sambel yang muncrat ke matanya pas mangkuknya jatuh? Eh tapi dia nggak pesen pakai sambel deh"
"Nggak perlu bahas itu. Habisin makanannya, kita harus segera balik ke dalam" ucap Ray
"Baiklah" ucap Zahra. Mereka berdua menyantap sarapan mereka
Di sisi lain, Vani masih menangis di trotoar jalan. Evano yang tidak tega melihatnya mencoba menghiburnya dengan apa yang ia bisa lakukan. Ia jongkok di hadapan Vani, "Hey, jangan nangis disini, kamu nggak malu apa?"
'hiks.. hiks.. hiks.. kenapa dia bilang.. ngga kenal aku. padahal.. padahal tadi pagi kita masih ngobrol. Harusnya aku ngga samperin dia tadi pagi, biar dia ngga marah ke aku"
"Kalau udah takdir, mau kamu hindari gimanapun. Pasti bakalan kejadian. udahlah.. Kenapa kamu nangis buat cowok kayak dia" ucap Evano. Ia mengangkat wajah Vani dengan kedua tangannya, "Hustt.. tenangin dirimu"
Vani memasang ekspresi sedih dengan wajah yang penuh air mata. Evano mengeluarkan handphone dengan satu tangannya
'ckrekk' Ia mengambil foto wajah Vani saat itu dan menunjukkannya pada Vani, "Ahahaha.. lihat ekspresimu. Seorang Vani Osamu nangis di tengah jalan, aku sebarin ke grup sekolah ramai nih"
"Terserah" ucap Vani sembari memalingkan pandangannya
Senyuman di wajah Evano memudar, ia menyimpan kembali handponenya, "Jangan nangis lagi Van, ntar dikira aku yang bikin kamu nangis. Eh? Itu Agnes kan? Dia susul kamu bolos?!"
"Agnes?" Ucap Vani terkejut. Ia mengusap air matanya dan langsung berdiri. Ia menoleh untuk mencari keberadaan Agnes
Evano tersenyum kecil, "Oh bukan Agnes, salah lihat"
Vani menoleh ke arah Evano, "Kamu pergi aja, aku mau sendiri"
"Jangan usir aku" ucap Evano, "Jangan nangis lagi oke? Aku hapus semua hutangmu ke aku deh"
"Hutang apa lagi? Tadi udah beli bakso kan!"
"Aku belum sempet makan, kamu udah ngajakin pergi aja"
"Ini semua salahmu! Harusnya tadi kamu paksa aku jangan beli bakso! Biar kakak tadi ngga berhentiin tukang baksonya, aku ngga lari trus kamu ngga jatuh. Trus kakak tadi ngga nolongin, trus dia ngga manggil Ray kesini, trus aku ngga nangis begini!"
"Iya iya, salahku. Maaf ya" ucap Evano dengan senyuman di wajahnya
"Padahal yang maksa beli bakso aku, kenapa kamu mau ngakuin kesalahanku sendiri! Kamu mau aku jadi orang ngga bener? Yang ngga mau ngakuin kesalahan sendiri?!"
"Trus aku harus apa?" Ucap Evano kesal
"Janji ke aku. Jangan bilang ke siapa siapa kalau kamu pernah liat aku nangis" ucap Vani
"Iya janji. Eh tapi kalau dalam keadaan mendesak, aku nggak bisa janji buat nggak sebarinnya" ucap Evano
__ADS_1
"Terserah"
"Becanda becanda" ucap Evano. Ia mengangkat headphone di lehernya dan memasangkannya di telinga Vani, "Hari ini aku pinjamin buat tenangin pikiranmu"
"Ngga ada suaranya" ucap Vani
"Bentar, belum aku putar" ucap Evano sembari mencari musik di handphonenya
Mendengar lagu yang di putarkan Evano, kedua mata Vani kembali berkaca-kaca, "lagu apa ini. Kenapa liriknya sedih gini"
"Judulnya unrequited love, eh?.." ucap Evano terhenti
Vani langsung melepaskan headphone itu, "Kamu sengaja ngejek aku?!"
"Bukan bukan, aku salah putar lagunya" ucap Evano
Vani mengembalikan headphone itu pada Evano, "Ngga butuh!"
"Udah udah, aku nggak bercanda lagi" ucap Evano, "Kamu udah nggak sedih lagi kan?"
"Gimana mau sedih, kamu aja ngga dukung gini!" Ucap Vani kesal
"Bagus dong"
Vani langsung terdiam, "Iya juga"
"Kenapa satpam sekolah dibelakang sekolah!" ucap Evano terheran
"B*go! Run!!" Teriak Vani sembari menarik tangan Evano. Mereka berdua berlari menghindari satpam
"Tunggu kalian!!" Teriak satpam. Ia mempercepat lari mengejar mereka berdua
"akh.. Kakiku" ucap Evano kesakitan
"Tahan dulu" ucap Vani. Ia menarik Evano menyeberangi jalan di saat lampu lalu lintas masih hijau
"Masih lampu hijau!" Ucap Evano
"Bukan saatnya perhatiin lampu!" Ucap Vani
'tinnn!!' Mobil melaju dengan kencang ke arah mereka
Vani menyadarinya dan langkah kakinya terhenti, "AAAaa..!!" Teriaknya
'cittt..' Untung saja pengemudi mobil bisa mengerem mobilnya tepat waktu dan tidak menabrak mereka berdua
"Hufhh.. untung aja" ucap Vani lega, "Woy nyetir liat liat jalan dong!" Teriaknya
"Apa?! Kalian yang nyebrang sembarangan!!" Omel pengemudi mobil
__ADS_1
"Maaf pak, kami yang salah!" Ucap Evano. Vani menoleh ke arah satpam yang masih berlari mengejar mereka. Ia kembali menarik Evano berlari
"Hey tunggu anak bandel! Urusan kita belum selesai!" Teriak pengemudi kesal. Vani tetap berlari dan tidak menghiraukannya
Saat berbelok di ujung jalan, Vani melihat sebuah gang kecil di belakang toko yang mereka lewati. Ia mendorong Evano ke gang kecil itu
Evano terdorong dan jatuh, "Apa yang kamu.." ucapnya terhenti, 'diam! sembunyi aja!' saut Vani. Ia berlari kembali ke ujung jalan untuk melihat satpam
Satpam terlihat sedang menunggu lampu merah menyala di perempatan jalan. Vani berlari ke ujung zebra cross tempat satpam itu menunggu, ("Gawat.. dia bisa liat mukaku") batin Vani. Ia menutup wajahnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya melambai, "Hai pak!" Serunya
Satpam menyadari keberadaannya, "Kamu!! Tunggu kamu! Awas aja ketangkap!"
'ting' Lampu merah menyala dan mobil mobil terhenti di belakang garis, "AAAAA!!!" Teriak Vani bersemangat. Ia berbalik dan langsung kembali berlari, "Ahahahahaa.."
Satpam mengejarnya dengan sepenuh jiwa dan raga, "Tangkap anak itu!" Teriaknya. Namun orang orang yang di lalui Vani, tidak mau terlibat hal merepotkan bersama mereka. Mereka berpura pura tidak mendengarnya
("Orang zaman sekarang, gaada yang peduli. Untung di aku sih hehe") batin Vani
Vani berlari memasuki gang-gang kecil di kota. Setelah berlari cukup lama dan memastikan satpam sudah tidak mengejarnya, ia beristirahat melepas lelahnya dengan duduk di depan sebuah toko yang tutup, "Huuuhhh.. huhh... Seru juga jirr" Ia mengeluarkan handphonenya dan memesan jasa taxi online
Beberapa saat kemudian, taxi yang ia pesan datang. Ia membuka pintu taxi dan duduk di dalam, "Permisi, adek masih pelajar?" Tanya sopir taxi
"Oh bukan, lagi cosplay" jawab Vani
"Ahahaha... Tidak mungkin juga ya seorang pelajar keluyuran di jam sekolah seperti ini. Maaf menanyakannya, soalnya saya akan terkena masalah jika membantu seorang pelajar bolos dari sekolah"
"Sebenarnya saya emang pelajar pak, saya anggota osis. Saya lagi cari murid kabur dari sekolahan, kakinya sakit. Disuruh pulang malah keluyuran. Ada lima anggota osis yang ditugasin cari murid ini dan antar dia pulang ke rumahnya dengan selamat biar bisa istirahat trus besok bisa ke sekolah lagi" jelas Vani dengan ekspresi seriusnya
Sopir taxi menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan, "Oh ya, lencana osis saya sengaja di tinggal di sekolah. Biar kalau ketemu ama murid yang bolos, dia ngga takut ketangkap osis" jelas Vani
Sopir taxi masih menatapnya, "Mau saya telponkan guru yang menugaskan saya?" Tawar Vani
"Berikan telponnya" ucap sopir taxi
("Jirr.. biasanya kan langsung ngalah, kenapa dia minta telpon beneran?!") Batin Vani terkejut, ("pak Azka lagi ngajar kan? harusnya dia ngga bakal angkat telponnya")
"baiklah" ucap Vani. Ia memanggil nomor Azka dan perlahan menyerahkan handphonenya ke sopir taxi
'tutt.. tutt.. tutt..'
Supir taxi menolaknya dan tersenyum, "Saya percaya. Biasanya kalau diminta telpon pasti cemas terus minta maaf. Tapi kamu terlihat serius dan meyakinkan. Saya jadi percaya" ucapnya
("eh? dia percaya wkwk") batin Vani senang, "Saya nggak akan mengkhianati kepercayaan bapak" ucapnya kalem
'tutt'
'hallo, beraninya...' ucap Azka dari telepon
'tutt.. tutt..' Vani langsung mengakhiri panggilan dan tertawa lebar, "Ahahahaa.."
__ADS_1