
Vani tidak menjawab pertanyaan Azka dan langsung mendatangi kasir, "Kak, bill orang tadi sama sekalian hitung cooler boxnya"
"Cooler boxnya juga di beli?" Tanya penjaga kasir
"Iya, gabungin sama bill meja lima" ucap Vani
"Baik tunggu"
"Yang bayar itu ya" ucap Vani sembari menunjuk ke arah Azka
"Oh iya"
Vani kembali menghampiri Azka, "Aku udah tanya billnya, pak Azka tinggal bayar"
"Berapa?" Tanya Azka
"Gatau, tanya aja sendiri"
"Terus apa gunanya kamu tanya bill duluan barusan?"
"Iseng aja, hehe"
"Dasar"
Azka menghampiri meja kasir. Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribu, "Berapa?"
"Totalnya tujuh ratus lima puluh ribu" ucap penjaga kasir
Azka terkejut mendengarnya, "Hah? Nggak salah? Saya di meja nomor lima cuma pesan dua ice cream coklat medium size loh"
"Adik itu sudah gabungkan bill meja lima dan meja dua belas" ucap penjaga kasir sembari menunjuk ke arah Vani. Azka menoleh ke arah yang ditunjuk. Vani tersenyum dan melambaikan tangannya
"Bisa lihat billnya?" Tanya Azka
"Ini" ucap penjaga kasir sembari menunjukkan daftar tagihan
__ADS_1
"Ice cream dua puluh pack dan cooler boxnya juga?!" Tanya Azka terkejut. Untuk sesaat ia terdiam dalam keterkejutannya, namun kemudian ia melepaskannya dengan helaan nafas, "Hahh.. Apa bisa bayar pakai kartu?"
"Bisa" ucap penjaga kasir. Azka terpaksa membayar semua tagihan yang sudah Vani atur. Setelah membayarnya, Azka kembali menghampiri Vani dengan tatapan mata yang sangat tajam
"Seremnya" ucap Vani
"Apa hobimu traktir ice cream orang asing pakai uang orang lain?" Tanya Azka
"Aku bantu pak Azka buat share kebaikan" jawab Vani sambil tersenyum
"Nggak sama cooler boxnya juga kali"
"Ntar cair dijalan kan kasihan"
"Mahal tahu, cooler box kan bisa dipinjam"
"Kasihan, ntar bolak balik"
"Hahh.. dasar" ucap Azka sembari menghela nafasnya. Ia berjalan pergi meninggalkan Vani menuju mobilnya
"Nggak perlu" jawab Azka
"Kenapa marah gitu?"
"Nggak marah"
"Trus kenapa jalannya cepet?"
Azka menghentikan langkahnya di depan pintu mobilnya dan menoleh ke arah Vani, "Mau dianter pulang nggak?"
"Mau mau" ucap Vani sembari membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Azka masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah Vani
Sesampainya di depan rumah, Vani segera turun dari mobil, "Makasih Pak Azka baik!"
"Nggak ditawarin masuk?" Tanya Azka
__ADS_1
"Pak Azka kan harus cepet cepet balik ke sekolah"
Azka memasang ekspresi datar dan meluruskan pandangannya, "Sampai jumpa" Ia menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya kembali ke sekolah
'akh..' ("Sakit juga mataku") batin Vani. ia masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah, Vani melihat banyak kardus perabotan baru dan barang elektronik yang tertumpuk di tengah ruang tamu
"Wih.. siapa yang borong?" Tanya Vani penasaran, "KAI!!" Teriaknya
Kaituo datang dan tidak menatap Vani sama sekali, ia fokus memindahkan barang barang itu, "Kamu udah pulang"
"Kamu beli komputer baru?" Tanya Vani
"Bukan punyaku" ucap Kaituo, "Jack nggak mau tinggal di negara A, uncle minta kim izinin dia tinggal di sini"
"Jack tinggal disini?" Tanya Vani terkejut
"Iya, lagian banyak kamar kosong disini. Aunty nggak izinin dia tinggal di tempat sebelumnya"
"Wah rame dong" ucap Vani senang
"Jangan diam aja, bantu angkat" ucap Kaituo
Vani menghampiri kardus kardus itu, "Yang mana yang harus ku bawa?"
"Angkat aja yang ringan" ucap Kaituo. Ketika hendak melangkah pergi, kakinya tertahan, "Tunggu.. bukannya ini masih jam sepuluh, kenapa kamu udah pulang?" Ucapnya sembari menoleh ke arah Vani. Kedua mata Kaituo mengembang terkejut ketika melihat penampilan Vani yang berantakan dengan banyak plester dan perban di tubuhnya. Ia menjatuhkan kardus di tangannya begitu saja dan langsung menghampiri Vani
"Woy, itu Monitornya. Ntar pecah b*doh!" Ucap Vani ngegas
"Matamu kenapa diperban? Tangan sama wajahmu juga, kenapa banyak luka cakar?" Tanya Kaituo cemas, "Apa kamu baru aja adu cakar sama seekor kucing?!"
"Gapapa ini mah, cuma kecakar kuku dikit" ucap Vani
Kaituo menoleh ke belakang, "KIM! KIM OSAMU!! CEPAT KESINI!" teriaknya
'sebentar!' seru Kim dari lorong rumah
__ADS_1
"Khakim di rumah?" Tanya Vani terkejut