Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter144


__ADS_3

"F*CK YOU" Teriak Ratna kesal, "DASAR PEMBUNUH NGGAK PUNYA HATI!"


"Pen mukul" Vani sejenak terdiam menatapnya, "Ah, ga jadi" ucapnya sembari berbalik. Namun ia kembali berbalik dengan ayunan tangan yang mengepal


'Buagg!!' Ia menonjok wajah Ratna hingga membuat hidungnya berdarah dan tubuhnya terpental


"Aww... sakit" ucap Ratna kesakitan, "Kasih dia pelajaran!"


Dua belas teman yang Ratna bawa langsung menyerang Vani secara bersamaan. Mereka menyerang dengan menjambak rambut dan mencakar dengan kuku panjang mereka


"AAA.. Rambutku" ucap Vani kesakitan, "Woy, bukan gini berantemnya!"


Cakaran yang cukup kuat membuat banyak bekas berdarah di tangan dan wajah Vani. Setelah melepaskan diri dari jambakan rambut, Vani mendorong dan menendang satu persatu orang yang menyerangnya


'buagg!!' Ia menendang perut salah satu orang untuk mundur menjaga jarak


"ANJ*NG!! NGGA KU LEPASIN KALIAN!" teriak Vani. Vani tanpa ampun meladeni kedua belas anak itu hingga mereka babak belur. Di tengah perkelahiannya, seseorang mencakar wajah Vani hingga membuat mata kirinya ikut tercakar kuku dan mengeluarkan darah, "AKH!!" Ia menutup mata kirinya dan meneruskan memukuli orang yang telah membuatnya kesal


Di tengah ramainya perkelahian, seorang guru berlari menerobos untuk menghentikannya, "SEMUANYA BERHENTI!!" teriak guru itu


Namun Vani yang terbawa emosi masih saja menyerang musuhnya. Guru itu langsung mencoba menahan Vani dengan menarik tangannya


'buagg!!' Vani refleks memberikan tonjokan. Ia langsung terhenti ketika melihat guru di belakangnya, "Pak Azka" ucapnya. Azka mendongak ke atas dan menutup lubang hidungnya agar darah tidak mengalir keluar


"Maaf ga sengaja" ucap Vani


Azka menurunkan pandangannya dan menoleh ke arah Ratna yang berdiri di barisan paling belakang, "Kamu yang masih sehat, panggil guru kesini. panggil bantuan buat bawa yang lain ke uks"


"Baik pak" ucap Ratna. Ia berlari memanggil bantuan


Beberapa menit kemudian, bala bantuan datang. Kedua belas anak yang sudah Vani serang, di bawa ke UKS untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan. Azka menoleh ke arah Vani, "Belum kapok bikin ulah?"

__ADS_1


Vani terlihat begitu berantakan saat itu. Beberapa bagian jas sekolahnya sobek dan banyak luka cakaran di tangan serta wajahnya. Ia hanya terdiam menunduk, "Maaf" ucapnya


"Ikut ke bk" ucap Azka


"Baik" ucap Vani sembari menaikkan pandangannya


"Tunggu, kenapa matamu?" Tanya Azka. Vani membuka mata kirinya dan menunjukkannya pada Azka. Mata kirinya berwarna merah di penuhi darah. Azka terkejut melihatnya, "tutup lagi! Bisa infeksi kalau terkena bakteri. Kita ke rumah sakit!"


Vani menurut dan berjalan mengikuti Azka dari belakang. Saat melewati kelasnya, ia berpapasan dengan Agnes yang hendak masuk ke dalam kelas. Agnes masuk begitu saja tanpa bertanya apapun padanya, "Kamu udah bukan cs lagi sama Agnes?" Tanya Azka sembari berjalan


"Gatau" jawab Vani


"Makanya jangan berantem terus, temenmu jadi menjauh kan akhirnya"


"Hmm.."


"Kamu tunggu sini, jangan kabur. bapak bilang ke guru lain dulu" ucap Azka


"Iya" ucap Vani. Azka pergi menuju kantor guru


Vani tersenyum kecil, "Kalau pak Azka ngga dateng, ku pastiin mereka semua ke rumah sakit!"


"Dimana otakmu?!" Tanya Azka ngegas, "Ah dasar, sekarang ayo ke dokter dulu" Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil Azka


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Vani hanya terdiam dengan raut wajah yang terlihat kusut dan sedih. Azka melirik ke arah Vani, "Ada apa? Menyesali perbuatan?" Tanyanya


"Engga juga" jawab Vani


"Terus?"


Vani menoleh ke arah Azka, "Tadi pas lewat depan kelasku, menurut pak Azka, Agnes liat aku ngga?"

__ADS_1


"Dia lihat"


"Ngga mungkin lah, kalau dia liat kenapa ngga nanya apa apa?"


"Nggak mungkin dia nggak lihat"


"Ngga, Agnes ga gitu. Dia pasti ngga liat, iya kan? mungkin aja dia jalan hadap tembok"


Azka tertawa kecil, "Puftt.. bisa jadi. Iya dia nggak lihat, nggak ada alasan juga buat dia jauhin kamu"


"Tuh kan" ucap Vani lega


"Berita yang beredar itu bukan salahmu kan?" Tanya Azka


"Bukan" jawab Vani


"Oke"


"Pak Azka percaya?"


"Kamu bohong?"


"Engga"


"Ya udah"


Vani tersenyum kecil mendengarnya, "Hmm.. btw kenapa pak Azka mau anter aku ke rumah sakit? Kan pak Azka bukan guru bk atau wali kelasku lagi"


"Ah benar. Harusnya bapak serahin kamu ke wali kelasmu"


"Yah.. kok gitu?" Tanya Vani kecewa, "Ngga ikhlas nih?"

__ADS_1


"Huh.. terpaksa deh udah di tengah jalan juga"


"nah.. gitu baru pak Azka"


__ADS_2