
Vani tersenyum melihat Agnes menangis, "apa apaan, dateng dateng nangis"
"Van, kamu baik baik aja kan?" Tanya Agnes
"Sans, ngga ada masalah yang ngga bisa aku selesein" ucap Vani bangga
"Huffhh.. aku pikir bakalan jadi masalah besar"
"Oh ya, ada polisi yang telpon kamu ngga?"
"Iya ada, untung kamu udah kasih tahu duluan. Jadi aku bisa siap siap"
"Gimana tadi?" Tanya Vani penasaran
"Jadi satu jam-an abis kamu kirimin aku email, aku telpon sopirku. Kalau ada yang telpon dia tanyain pisau, Aku suruh dia bilang kalau pisau yang aku beli itu punya dia. Trus aku suruh dia bilang kalau pisau itu hilang di jalan" jelas Agnes
"Tapi bukannya di daftar pembeli mamba, atas nama kamu. Harusnya mereka telpon kamu dong bukan sopirmu" ucap Vani
"Kamu lupa ya? Aku kan di bawah umur. Mana bisa beli itu. Aku beli atas nama sopir"
"Iyakah? Ngga tau aku. Soalnya belom pernah beli"
"Untung aja polisinya nggak lanjut cari tahu detailnya. Oh ya, Katanya ada orangtua Adira kesana, kamu ketemu?"
"Engga, aku seharian ngobrol sama polisi magang. Tau tau udah keluar aja"
"Menurutmu kasus ini di tutup gara gara ortunya yang minta atau kasusnya selesai, udah nggak ada gunanya lanjutin penyelidikan?"
"Hmm.. gatau juga. Tapi yang jelas keknya aku harus temuin ortunya Adira deh" ucap Vani
"Kenapa? Mau minta maaf? Kan bukan kamu yang salah, nggak usah" ucap Agnes
"Gimanapun juga aku disana, harusnya kamu tau"
"Kamu salahin aku? Katanya nggak bakal salahin aku!" Ucap Agnes kesal
"Bukan bukan, salahku salahku" ucap Vani
"Huh!"
"Nes, mandi dulu gih. Ganti baju baru pulang. Ngga mungkin kan kamu pulang baju berdarah gitu. Itu juga jaketnya Kai, harus di balikin"
__ADS_1
"Jaket ini beli dimana? Aku terlanjur bilang punyaku lagi"
"Bilang ke Kai?"
"Iya. Beli dimana? Aku harus secepatnya dapet"
"Setauku baju bajunya Kai dibuat di butik keluarganya. Dia ngga pernah beli baju dari brand lain. Kecuali di kasih kerabatnya. Kemungkinan itu di desain khusus buat dia, cuma ada satu"
"M*mpus dong aku" ucap Agnes terkejut, "Berarti dia tahu dong aku bohong tadi"
Vani memasang senyuman diwajahnya, "Tepat sekali"
"Gimana dong, mau taruh mana mukaku kalau ketemu dia"
"Sans aja kali, cuma sama Kai"
"Tapi, gimana kalau.." ucap Agnes terhenti, "Dah sana mandi" saut Vani
"Hmm" gumam Agnes pasrah. Ia berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
waktu berjalan dengan cepat, Vani terdiam memperhatikan seisi kamarnya yang dipenuhi keheningan, ("Arwah Adira bakal kesini ngga ya? Hiii.. serem, jangan sampe dia kesini. Kalau dateng beneran gimana?") Ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri komputernya. Ia menyalakan komputer dan memutar film dengan volume tinggi untuk menghindari keheningan. Ia berdiri memojok di ujung ruang kamarnya, ("S*alan, kenapa jadi takut gini")
'srekk'
"Ngapain mojok gitu?" Tanya Agnes yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Aku lagi cari sudut pandang yang bagus di kamar ini" jawab Vani
"Buat apa?"
"Foto lah"
"Haha.. kuker amat, lanjutin aja. Btw suara filmnya kecilin, kenceng amat. Budek apa?"
"Okeoke. Pake baju dulu sana"
"Iya" ucap Agnes. Ia masuk ke dalam ruang ganti untuk berpakaian
Vani mengurangi sedikit volume filmnya, ("Gaada yang perlu ditakutin")
Beberapa menit kemudian, Agnes keluar dari ruang ganti dan berjalan menghampiri Vani, "Aku pake baju ini ya"
__ADS_1
"Iya ambil aja" ucap Vani
"Aku mau langsung pulang, soalnya sopirku didepan"
"Okeysip. hati hati"
.......
Vani menoleh ke arah Agnes, "Kenapa ngga keluar?"
"Em.. bisa nggak kamu ajakin Kaituo ngobrol pas aku keluar dari rumah ini?" Ucap Agnes sambil tersenyum kecil
"Hmm.. oke" ucap Vani. Ia keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Kaituo. Vani menemukan Kaituo yang sedang berbaring santai di sofa ruang tamu sembari membaca buku, "Kai" panggilnya
Kaituo menoleh ke arahnya, "Apa?"
"Yang lain mana?"
"Mereka ke apartmentnya Jack buat liat liat"
"Kamu ngga ikut?"
"Kim suruh aku temenin kamu"
"Oh ya Kai, ikut aku bentar" ucap Vani. Ia menghampiri Kaituo dan menarik tangannya
"Apaan sih" ucap Kaituo
"Ikut aja" ucap Vani
Di saat yang bersamaan, Agnes mencari celah untuk segera keluar dari rumah Vani
Sementara itu, Vani mengajak Kaituo keluar menuju taman samping rumahnya, "Kenapa kesini?" Tanya Kaituo, "Tanahnya masih becek, abis hujan"
Vani mendongak ke atas dan menunjuk ke arah langit, "Liat itu"
Kaituo ikut mendongak ke atas, "Apaan?"
"Langit" jawab Vani. Kaituo terdiam menurunkan pandangannya dan menoleh ke arah Vani
Vani tertawa kecil, "Hehe, aku gabut. Dahlah" Ia langsung berlari meninggalkan Kaituo dan masuk ke dalam rumah
__ADS_1
"Kenapa dia?" Tanya Kaituo penasaran