
"oh iya! bentar lagi kan umurku tujuh belas tahun. Kamu ngga perlu sedih gitu, kan ada aku. Nanti aku bisa bikin sim trus kalau kamu mau kemana mana, aku bisa anterin kamu" jelas Vani
Ray menoleh ke arah Vani dan tersenyum kecil, "Tapi sim mobil minimal sembilan belas tahun"
"Hah?! Seriusan. yahh.. padahal aku dah nunggu hampir tujuh belas tahun buat bikin simnya" ucap Vani kecewa
"Ahahaha.. kamu udah bikin rencana buat sim dari kamu baru lahir?" Tawa Ray
Melihat Ray tertawa membuat Vani ikut merasa senang, "Kamu ketawa juga" ucapnya senang
"Kamu nunggu aku ketawa?"
"Habisnya dari tadi cemberut mulu"
"Maaf, aku jadi rusak suasananya"
Vani menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum, "Engga kok"
Ray mengangkat tangan kanannya dan menaruhnya di atas kepala Vani. Ia mengusap lembut rambut Vani, "Terimakasih"
"Oh ya Ray. Aku belum makan, sarapan dulu boleh ngga?"
"Kamu mau makan apa?"
"Minimarket?" Tanya Vani
"Kamu makan minimarket?" Tanya balik Ray
"Ahahaha.. maksudnya beli di minimarket"
"Yaudah kita kesana"
"Makasih Ray" ucap Vani senang
Selang beberapa saat, Ray meminta sopir taxi untuk menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Setelah Ray membayar ongkos taxi, mereka berdua keluar dari taxi, "Em.. Nanti kita naik taxi lagi?" Tanya Vani
"Taxi?" Tanya Ray sembari menoleh ke arah Vani. Ia berbalik dan menunjuk ke arah gerbang masuk Land Park yang tidak jauh dari seberang jalan, "Land parknya disitu. Kita nyebrang trus jalan lima menit, sampai"
__ADS_1
Vani langsung melihat ke arah yang ditunjuk Ray, "Wahh.. deketnya, kok ngga liat aku!"
"Kita ke sana nanti, kamu tunggu aku di situ" ucap Ray sembari menunjuk ke arah kursi tongkrongan kosong yang disediakan di area minimarket
"Okeoke" ucap Vani
"Aku ke dalam beli makanannya" ucap Ray. Vani mengangguk paham, Ia menghampiri kursi kosong itu dan duduk menunggu Ray keluar dari Minimarket
Beberapa menit kemudian, Ray keluar dari Minimarket dengan sebuah kantung plastik ditangannya. Ia menghampiri Vani dan duduk di sekitarnya, "Lama ya nunggunya?" Tanyanya
"Engga kok, bentar banget malah"
"Bagus deh" Ray membongkar isi kantung plastik yang ia bawa dan menatanya di atas meja, "Aku beli sandwich sama panasin nasi instan lauk sayur tadi, minumnya susu sama teh. Aku nggak tau kamu biasanya sarapan apa"
"Sarapan makan nasi?" Tanya Vani
"Kamu biasa sarapan roti ya. Aku beli nasi soalnya ku pikir nggak akan kenyang kalau belum makan nasi" ucap Ray
"Kamu belum sarapan juga?"
"Udah tadi di asrama"
Ray menaikkan kedua tangannya di atas meja dan menopang dagunya, Ia tersenyum menatap Vani, "Buat kamu" ucapnya
"hehh.. dua porsi sekaligus? mana abiss" ucap Vani, ("Ray bilang dia sarapan nasi, trus tadi udah sarapan. kalau sekarang makan nasi lagi kasian kekenyangan") batinnya. Ia meraih sekotak nasi instan dan membukanya, "Aku makan ini, kamu abisin sandwich sama susunya"
"Bukannya kamu sarapan roti?"
"Aku penasaran sama rasa nasi instan" ucap Vani, "Di dalem panasin pake microwave gratis?"
"Kamu belum pernah?"
"Belom.. tapi dulu pernah minta air panas buat seduh mie, trus bayar"
"Minta air kan gratis kenapa bayar?"
"Aku ngga tau"
__ADS_1
"Hmm.. ya udah, sekarang makan dulu sarapanmu" ucap Ray, "Apa.. mau aku suapin?"
"Mau mau!" ucap Vani bersemangat
"Dasar" Ray tersenyum kecil sembari mengambil kotak nasi di hadapan Vani. Ia membuka bungkus sendok dan mengambil sesuap nasi, "AAaa.."
"Aaa" Vani membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ray. Ia mengunyah nasi dimulutnya sembari menahan rasa malu karena banyak orang melintas yang terlihat memperhatikan mereka, "Udah udah, keknya aku makan sendiri aja" ucapnya sembari merebut kotak makannya
"Loh?" Ucap Ray bingung
"Makan Ray, biar kita cepet kesananya" ucap Vani. Mereka berdua menghabiskan sarapan mereka dan segera menyeberang untuk pergi menuju Land Park
Setelah Ray mengantre dan mendapat tiket, ia menghampiri Vani dan mengajaknya masuk ke dalam Land Park. Di tengah keramaian pengunjung lain, mata Vani berbinar melihat banyaknya wahana wahana besar dan tinggi yang terlihat dari tempatnya berdiri. Ray menggandeng tangannya dan refleks Vani langsung menoleh ke arahnya, "Jangan jauh-jauh dariku, tempat ini luas banget" ucap Ray sembari tersenyum
Vani mengangguk paham, "Ray, gimana kamu bisa tau tempat sekeren ini? Wahananya seratus kali lebih banyak daripada wahana di pasar malam yang pernah aku sewa"
"Kamu mau coba naik?" Tanya Ray
"Semuanya?" Tanya balik Vani
"Nggak bisa dong, satu wahana aja antreannya bisa sampai satu jam lebih" jawab Ray, "Pilih aja wahana mana yang paling kamu pengen"
Vani langsung menunjuk ke arah wahana tertinggi di tempat itu, "Yang itu!" Ucapnya bersemangat
"Ah.. itu.." Ray terlihat ragu melihat wahana yang ditunjuk Vani. Melihat ekspresi Ray saat itu, Vani teringat akan omongan Jack sebelumnya tentang Ray yang takut ketinggian. Vani mengurungkan niatnya dan langsung merubah arah tangannya ke sebuah penjual ice cream, "Itu itu! Aku mau ice cream!" Ucap Vani
Ray terkejut dan langsung menoleh ke arah Vani, "Ice cream?"
"Boleh kan?" Tanya Vani
"Yaudah ayo" Ray menggandeng Vani menuju penjual ice cream itu. Setelah mendapat ice cream mereka, mereka berdua hanya berjalan-jalan sembari berbincang mengenai apa pun yang mereka lihat di sepanjang jalan
"Lihat itu, anak kecilnya nangis liat badut" ucap Vani
"Ahahahaa.. iya, gemesin banget"
Karena terlalu asyik melihat hal menarik di tempat itu, Vani tidak memperhatikan jalannya dan menabrak punggung seseorang. Ice cream yang ia bawa mengotori jaket seorang pria, "Hah!!" ucap Vani terkejut
__ADS_1
'S*alan!!' Gumam pria itu karena merasakan seseorang menabrak dirinya, "Hati-hati kalau jalan!" Ucapnya sembari berbalik, "Vani!"
"Kai!!" Ucap Vani