Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter255 [END]


__ADS_3

'Brugg' Ray langsung menoleh ke arah Vani, kepanikan mulai muncul ketika Ia melihat Vani tumbang ke lantai basement, "VANIII!!" Teriaknya sembari berlari menghampiri Vani


Ray langsung menekuk lututnya di samping Vani. Rasa panik dan takut tercampur ketika Ia melihat kedua tangan Vani berlumuran darah menutupi dua lubang bekas tertembak di perutnya "VANI! BERTAHANLAH!!" Serunya Panik, "AKU AKAN BUNGKUS LUKANYA! KAMU AKAN BAIK BAIK AJA! PASTI!" 'sreeeekkk' Ia merobek kain kemeja yang Ia kenakan


Vani tersenyum kecil melihat kepanikan Ray, "Ngga usah, aku gapapa Ray.. ukhuk!.." Ucapnya sembari batuk memuntahkan darah


"JANGAN! NGGAK BOLEH!" Kedua mata Ray mulai berlinang melihat kondisi Vani, "Aku tutup lukanya" sambungnya sembari melilitkan kain ke perut Vani untuk menghentikan pendarahan. Pendarahan Vani cukup banyak hingga membuat wajah dan tubuhnya perlahan memucat, "ku bilang ga usah juga, ga sakit kok" Ucapnya


"Vani bertahanlah! Kamu akan baik baik aja!" Ucap Ray ketakutan, Ia menekan tombol di earphone yang terpasang di telinganya "JACK CEPAT KE BASEMENT! VANI TERTEMBAK! CEPATT!" Teriaknya keras


'Ahaha.. tenang Ray, jan ngegas gitu' Tawa Vani lirih, "ukhukk.." Ia kembali batuk mengeluarkan darah untuk kedua kalinya, ekspresi menahan kesakitan terlihat jelas ketika Ia batuk. Ray langsung mengusap bibir dan pipi Vani untuk membersihkannya dari darah, "Jangan banyak ngomong, Jack sebentar lagi datang" ucap Ray

__ADS_1


("Sakit banget.. Tapi aku ngga mau liat Ray sedih") "Tapi Ray, lantainya keras" Ucap Vani lirih. Ray langsung mengangkat perlahan kepala Vani dan memindahkannya ke kepangkuannya, "hehe" Tawa Vani senang, 'hahhh.. padahal besok ulang tahunku, padahal besok aku bisa ke sekolah lagi walau cuma buat wisuda. Haha.. kasian ntar pak Azka sama yang lain, mereka nggak bisa liat aku di podium buat wakilin murid berprestasi, mereka pasti kecewa'


"Kamu akan baik baik aja, nanti malem kita rayain bareng ulang tahunmu, besok juga kita pergi bareng ke wisudamu. Tolong bertahan sedikit lagi ya Vani, aku mohon.."


("Ray keliatan sedih banget") batin Vani merasakan kesedihan dan kekhawatiran dari tatapan Ray kepadanya, Ia mengangkat tangan kanannya dan meraih pipi Ray, "eh.. maaf, jadi kena darahku" ucapnya sembari menarik kembali tangannya. Ray meraih tangan Vani dan menggengamnya, Ia mencium telapak tangan Vani dan menempelkannya ke pipinya, "nggak papa, kamu bebas ngapain aja" ucapnya sedih


("Perutku sakit banget, sesak banget buat nafas") Vani merasakan pernafasannya mulai terasa cukup berat, Ia tersenyum lemas, "Senyum Ray, aku ngga mau liat kamu sedih. Aku gapapa beneran, kamu tau kan aku dah biasa begini, paling cuma koma. Kita bisa ketemu lagi abis aku kelar komanya" jelasnya


"Iya.. aku disini, kenapa Vani?"


'Hah.. Kamu harus.. hah.. bahagia'

__ADS_1


"Apa yang kamu bilang barusan, aku cuma bahagia sama kamu, kamu nggak boleh ngomong yang aneh aneh begitu" Ucap Ray ketakutan


'broommm..' Suara mobil terdengar mulai mendekat ke tempat mereka berdua berada, "Dengar Vani! Jack dateng!" Ucap Ray sedikit merasa senang


("perutku sesak, nyerinya sakit banget, aku ngga tahan lagi") Frekuensi pernafasan Vani mulai terasa pelan dan samar, kelopak matanya terasa sangat berat untuk bisa terus terbuka 'hah.. Ray, mataku ngantuk.. hah.. aku.. tidur...' gumam Vani lirih sembari menutup kedua matanya


'haahh..'


kedua mata Ray mengembang terkejut melihat Vani terkulai lemas tidak sadarkan diri "NGGAK! VANI! JANGAN TIDUR! BUKA MATAMU, VANI! VANI! BANGUN VANI!" Teriak Ray histeris sembari menepuk nepuk pipi Vani untuk menyadarkannya. Namun Vani tidak meresponnya sama sekali, ia langsung mendekap Vani dalam pelukannya


"VANIIII"

__ADS_1


__ADS_2