
Evano kembali melanjutkan membaca catatan materi pelajaran di bukunya. Lama kelamaan kefokusannya dalam mencerna materi mulai memudar karena ia memikirkan sesuatu, ("Apa nggak masalah angkat panggilan telepon orang tapi nggak bilang ke orangnya?") Batinnya bingung, ("Hum.. apa aku harus bangunin Vani trus bilang semuanya? Aku bisa minta dia pura pura tidur saat Ray datang") Ia menoleh ke arah Vani yang tertidur pulas, ("Tidurnya keliatan nyenyak, nggak tega aku bangunin") Beberapa saat memandang wajah Vani, Evano tersenyum kecil, ("Hah.. bisa bisanya dia tidur nyenyak begitu di tempat umum begini") batinnya, 'kalau dilihat lihat..' ucapnya terhenti, "Liat apa?!" Saut seseorang mengagetkan
"Woa!!!" Evano tersentak terkejut dan langsung menoleh ke asal suara. Ray terlihat berdiri tepat di sampingnya duduk
"Apa maksud kata katamu barusan?" Tanya Ray dengan aura kesal
"Aku cuma penasaran sama wajah Vani saat tidur" jawab Evano
"Apa kau suka padanya?!"
Evano menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat, "Nehi nehi"
"Bahasa apa yang kau gunakan"
"Bahasa H dari negara I"
__ADS_1
"Apa artinya?"
"Nggak nggak"
"Oh.. bagus deh" ucap Ray lega, "Darimana kau belajar bahasa itu?"
"Mamaku sering nonton serial tv dari negara I, aku cuma tau kata kata terkenalnya aja" jawab Evano
"Hmm.." Ray mengangguk kecil, "Oh ya, bisa kau menyingkir sebentar? Ada sesuatu di kursimu"
"Eh.. apa" ucap Evano sembari berdiri dari duduknya. Ia berdiri menjaga jarak dari kursi tempat sebelumnya ia duduk. Ray duduk menempati kursi itu dan menoleh ke arah Evano, "Kau bisa duduk dikursi lain"
"Oke, Vani aman sama aku" ucap Ray
"Em.. iya percaya, hahaha" ucap Evano dengan tawa canggungnya. Ia memasukkan semua buku bukunya ke dalam tas kecuali buku yang Vani gunakan sebagai bantal tidur
__ADS_1
Ray menyadari buku itu, "Apa itu juga bukumu?" Tanyanya
"Nggak masalah, biarin aja" ucap Evano
"Tunggu" ucap Ray. Ia melepas jaket yang ia gunakan dan tangan kanannya perlahan mengangkat kepala Vani untuk mengambil tumpukan buku dan menggantinya dengan jaket. Ia menyerahkan tumpukan buku itu pada Evano
"Terimakasih" ucap Evano sembari memasukkan tumpukan buku itu ke dalam tasnya. Ia terdiam memandang Vani, ("Gimana bisa dia nggak bangun padahal ada yang angkat kepalanya") batinnya heran
"Apa lagi?" Tanya Ray
"Oh... Aku ke dalam sekarang, sampai jumpa" ucap Evano tersega gesa. Ia segera pergi masuk ke dalam perpustakaan utama
Ray mengalihkan pandangannya ke arah Vani. Ia menyangga kepalanya dengan tangan palsu kirinya dan tersenyum senang, ("Dia terlihat menggemaskan saat tidur") batinnya senang, ("Hum.. adegan ini kelihatannya nggak asing, aku sering lihat di film film. Sebagian besar, mc cewek yang baru aja bangun dan kesadarannya belum pulih dari tidurnya, mengira kalau cowok disampingnya itu bagian dari mimpinya. Kejadian selanjutnya, lama kelamaan wajah cewek itu mendekat dan.....") Wajah Ray menjadi merona karena pikiran-pikiran yang terkumpul di dalam kepalanya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya. Ia menutupi wajahnya yang merona dengan telapak tangannya. ("Aku nggak sabar menantikannya") batinnya senang. Ia kembali menoleh ke arah Vani dan memandangi wajahnya sembari menunggunya terbangun
Selang beberapa saat, kedua mata Vani mulai terbuka dengan perlahan. Dalam pandangannya yang masih samar, ia melihat wajah seseorang berada tidak jauh dari hadapannya. Ia mulai mengumpulkan tenaganya untuk membuka mata dan tersadar dari tidurnya. Saat melihat Ray berada di depannya, Vani terkejut hebat, "AAAA!!!" teriaknya terkejut sembari berdiri dan membuat jarak dari Ray
__ADS_1
Seisi loby perpustakaan menoleh ke arah Vani. Ray yang juga terkejut dengan teriakan Vani langsung berdiri dan tersenyum kecil menyapa satu persatu orang orang yang menoleh ke arah mereka. Ia menghampiri Vani dan menariknya untuk kembali duduk di kursinya. Vani yang baru saja terbangun dari tidurnya merasa bingung dan mencoba mengingat kenapa ia bisa bersama dengan Ray di tempat itu, ia terus memperhatikan Ray
Ray sejenak melirik ke arah Vani, "Hahhh.." ia menutup matanya dengan tangannya dan menghela nafas panjang, "Jauh melenceng dari perkiraanku"