
Sesampainya di depan rumah Vani, "Pak sopir boleh pulang duluan" Ucap Agnes
"Tapi non?" Ucap Sopir
Agnes tidak menghiraukannya. Ia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah Vani. Ia menerobos masuk kamar Vani dan melempar semua bawaannya. Ia juga melempar tubuhnya ke kasur dan membenamkan wajahnya di bantal. Ia mulai menangis dengan keras, 'Hiks.. hiks.. huwaaaaa.... huhuhuhu..'
Vani yang baru saja keluar dari ruang ganti merasa sedikit terkejut namun juga terheran dengan kehadiran Agnes yang seperti itu. Ia menghampirinya dan duduk di pinggiran kasur, "Nes? Kesurupan?"
Mendengar suara Vani, Agnes bangkit dan langsung memeluk erat dirinya, "Huwaa.. Vaniii.. Aku putus sama Kiky, gimana ini.. hiks hiks"
Vani menepuk lembut punggung Agnes untuk menenangkannya, "Mamp.. sttts.. cup cup.."
Agnes terus menangis di pelukan Vani dan enggan untuk melepaskannya. Tangan kanan Vani berusaha menggapai Handphonenya dan mengirim sebuah chat di grup chat
Di Grup Chat,
Vani : "Agnes ptus sma Rikky. Posisi di rmhku:v"
Awani: "ha? Apa? Gmna bisa!"
Putri: "Aw, pkai sopirku!"
Putri: "otw Van"
Vani: "help me:>"
Sepuluh menit kemudian,
'brakk' pintu kamar Vani terdobrak dengan keras dan kembali terbuka. Agnes dan Vani tersentak dan langsung menoleh ke asal suara
("Punya temen hobi amat dobrak pintu") batin Vani kesal
"AGNES!" Teriak kompak Putri dan Awani. Mereka langsung menghampirinya dan bergabung di atas kasur
Pelukan Agnes berpaling pada mereka berdua, "Putri.. Awani.. hiks hiks" Ia kembali menangis tersedu-sedu setelah sebelumnya terhenti karena terkejut dengan suara pintu yang terdobrak
"Husstt.. semua akan baik baik aja" Ucap Putri
"Hikss.. dia bilang, dia punya cewek baru disana. Dia juga hiks.. mutusin aku pas hari jadi ke tiga tahun. Huwaa.. kenapa kiky jahat sama aku"
__ADS_1
Vani hanya berdiri terdiam di samping kasur sembari memperhatikan mereka, ("Wah.. Agnes biasanya keras, kalau putus cinta mewek juga") Batinnya
"Dasar Risky, kamu sebaik ini kenapa di tinggalin coba" Ucap Awani
"Ahahahaa.. hiks, jangan bikin aku ketawa Aw. Aku lagi sedih. Namanya Rikky bukan Risky"
"Maaf kebiasaan" Ucap Awani
"Hiks.. katanya ceweknya lebih dewasa dariku, aku nggak tau harus gimana.. hiks.. hiks.."
"Cup.. cup.. udah lupain aja Rikky. Dia nggak pantes buat kamu, kamu pantes dapetin cowok yang jauh lebih plus plus dari pada dia" ucap Awani
Agnes melepaskan pelukannya, tangisannya sedikit mereda. kedua matanya terlihat mulai sembab, sorot matanya masih terlihat begitu menyedihkan, "Hiks.. Gimana caranya aku lupa. Dia cinta pertama ku"
"Kamu ingat Nes, dulu pas Awani putus. Dia nangis tiga hari sampai bolos sekolah kan. Tapi lama kelamaan pas dia putus lagi, dia udah biasa. Bahkan terakhir putus dia bilang gini.. no damage, i am fine" Ucap Putri
Agnes menoleh ke arah Awani dengan harapan ia bisa menghiburnya, "Yaaa.. maklum, terakhir mantan ke sebelahku sebelum sekarang enjoy jomblo" Ucap Awani, "Udah Nes, jangan pikirin Rikky lagi"
"Awani pacaran paling lama cuman tahan tiga bulan. Itu pun yang pertama" Ucap Putri
"Kenapa bahas aku si? Yang lagi sedih kan Agnes" Ucap Awani
"Hiks.. Aaaaa.. aku sedih banget. Awani cuma tiga bulan, aku udah tiga tahun. Padahal ku kira aku bisa nikah sama Kiky" Ucap Agnes dengan tangisan kecil
"Njirr baru juga anak sma, masa pacaran dah mikir nikah" Ucap Vani
Awani, Putri dan Agnes serentak menoleh ke arah Vani, "Yang nggak punya pengalaman, diem!" Ucap Awani
"Oh.. oke, aku keluar ambil minum" Ucap Vani. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan turun ke lantai dasar. Ia mendatangi bibi yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, "Bi masaknya tambahin aja, ada temenku dateng. Trus makan malamnya di undur jam delapan. Sama.. buatin minuman yang bisa bikin perasaan lebih tenang"
"Non Vani ada masalah ya?" Tanya Bibi
"Bukan buat aku si, tiga gelas aja" Jawab Vani
"Non nggak sekalian?"
"Em.. ya udah iya, abis ni anterin kamar ya bi" Ucap Vani
"Siap non"
__ADS_1
Vani pergi meninggalkan dapur dan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di tengah perjalanan ia terhenti dan memutuskan untuk duduk di salah satu anak tangga. Ia membuka handphonenya dan menghubungi seseorang
'Tutt..'
"Hallo Kai, kamu dimana?" Sapa Vani
'aku di rumah temen kampus, ada apa?' Ucap Kaituo dari telepon
"Pulang nggak?"
'pulang nanti'
"Oke nice. Pulang mampir minimarket ya, beliin jajan buat temenku. Agnes abis putus sama pacarnya, dia dirumah sekarang" Ucap Vani
'oke, tapi kayaknya agak maleman'
"Sebelum jam delapan" Ucap Vani
'Jam segitu masih sore, aku pulang jam sebelasan gimana'
"Nggak ikut makan malem? Bibi masak daging sapi loh" Ucap Vani
'beneran? Kamu sendiri gimana?' Tanya Kaituo dari telepon
"Gapapa, asal nggak kecampur aja. Sama.. kamu nasehatin Agnes biar dia nggak sedih lagi"
'kamu aja. Orang bilang, cewek yang lebih mengerti perasaan sesama cewek'
"Aku?" Tanya Vani
'ahahahaa... Bodohnya aku, masa aku bilang begitu sama seorang Vani yang bahkan belum pernah pacaran, bisa kasih solusi apa coba?'
Vani memasang ekspresi datarnya, "Tcihh... cuma nasehat kan? Nggak perlu pengalaman pacaran juga bisa"
'Van' Panggil Kaituo dari telepon
"Hmm?" Gumam Vani
'kamu nggak mau cari pac...' Ucap Kaituo terhenti, 'tutt..' Vani langsung memutuskan teleponnya. Ia menyimpan handphonenya kembali ke dalam saku dan berdiri dari duduknya, "Yosh.. ke kamar main game enak kayaknya"
__ADS_1