Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter34


__ADS_3

Vani masih terkapar di trotoar, ia merasa kesulitan untuk bangkit berdiri dengan keadaan punggungnya saat itu, ('akh.. sakitnya. harusnya ada matras disini, kan enak kalau jatuh empuk. tulang punggungku patah nggak ya') Ia menoleh ke arah tasnya dan mencoba menggapainya dengan tangan. Ia menarik tas itu dan menjadikannya sebagai bantal, "Oh **, masih terasa njirrr"


Untung saja wilayah trotoar tempatnya terbaring terpantau sepi karena sebagian besar siswa siswi yang biasanya memenuhinya sudah pulang ke rumah masing-masing. Sesekali orang orang terlihat melintas di sampingnya sembari memandang aneh dirinya, ia menatap balik dengan tajam, "Apa liat liat!" Kebanyakan orang tidak menjawabnya dan berlalu lalang di sampingnya


Hingga seseorang yang mengenalnya terhenti di sampingnya, ia hanya memperhatikan Vani tanpa mengatakan apa pun. Vani yang menyadari kedatangannya langsung mengambil handphone di sakunya dan memainkannya tepat di depan wajahnya


"Aku nggak kenal kamu, tapi apa yang kamu lakukan?" Tanya orang itu mengawali obrolan


Vani menjauhkan handphone dari wajahnya dan menoleh ke arah orang itu, ia tersenyum tipis, "Eh.. wakilku. Sejak kapan kamu disini"


Evano tidak menjawab pertanyaannya dan tetap mengajukan pertanyaan, "Hmm.. Apa yang sedang kamu lakukan?"


Vani mencoba memutar otak untuk menjawabnya, "Seperti yang kamu lihat, aku lagi mendalami karakter sebagai polisi tidur. Apa lagi emangnya?"


"Berdirilah, orang orang memperhatikanmu. Kau membuatku malu"


"Pergi aja kalau malu, ngapain juga stay sini? Pengen gabung ya?" Ucap Vani


"Kamu nggak pikirin harga dirimu?" Tanya Evano


"Maunya si gitu, tapi kan.." Vani tidak melanjutkan kata-katanya


"Kenapa ucapanmu berhenti? Apa kamu nggak bisa berdiri?"

__ADS_1


Vani memasang ekspresi datar, "Apa ini interogasi? Kenapa kamu banyak nanya? Aku cuma pengen tiduran disini lebih lama lagi, kamu pergi aja gih"


"Kamu kalah berantem" Ucap Evano yakin


"Yee.. siapa juga yang berantem, sotoy sekali anda ini"


"Pipimu merah bekas tonjokan atau tamparan" Evano mengulurkan tangan kanannya, "Akui aja, aku akan bantu"


Vani memalingkan pandangannya, "Oke, bantu aku berdiri"


Evano tersenyum tipis sembari menggapai tangan kanan Vani, ia mencoba menariknya untuk berdiri, "Akh.. jangan asal tarik woy" Melihat Vani kesakitan, tangan kiri Evano memegang lengan Vani untuk mempertahankan keseimbangannya. Ia menuntut Vani berdiri perlahan


"Thanks" Ucap Vani. Ia menoleh ke arah Evano yang masih saja memeganginya, "Aku udah bisa sendiri" Dengan cepat Evano melepaskan genggamannya dan membuat jarak dengan Vani, "Menurutmu tulang punggungku patah nggak?" Vani tidak menggerakkan badannya sedikit pun


"Punggung? Seseorang menyerangmu dari belakang?" Tanya Evano penasaran


"Disini nggak terlihat sampah satu pun, apalagi kulit pisang"


"Emm..." Vani mengamati sekitarnya. Ia menunjuk ke arah tempat sampah di depan toko seberang jalan, "Liat tempat sampah itu" Evano melihat apa yang Vani tunjuk, "Tadi aku kesel banget pas jatuh. Aku ambil kulitnya trus lempar deh ke tempat sampah itu"


"Tempat sampah itu tertutup" Ucap Evano, "Jangkauan dari sini ke sana terlalu jauh, nggak mungkin sampai"


"Sebelumnya tempat sampah itu kebuka. Pas kena tekanan dari kulit pisang yang ku lempar, tutupnya jatuh trus ketutup. Trus soal jarak. tadi kebetulan pas aku ngelempar ada angin kenceng, jadi kebantu deh" jelas Vani

__ADS_1


Evano tersenyum kecil mendengar penjelasan Vani, "Alasanmu konyol"


"Ahahahaaa.. iya kan, aku juga mikir gitu" Ucap Vani dengan tawa kecil. Ia tersadar akan sesuatu dan langsung menoleh ke arah Evano, "Eh? Kamu bisa senyum juga ternyata!"


Evano memalingkan wajah tersipunya, "Siapa yang senyum?"


"Gatau tadi ada orang lewat senyum senyum sendiri" Ucap Vani


"Kamu bisa jalan sendiri?" Tanya Evano


"Bisalah, aku kan punya kaki"


..... Keadaan mendadak hening seketika


"Em... Nggak pulang?" Tanya Vani


Evano menoleh ke arahnya, "Kamu?"


"Pulang lah, yakali berdiri disini trus"


"Baiklah, Hati hati" ucap Evano


"Oh iya, aku pulang. byee" Ucap Vani dengan senyuman canggung. Ia melangkah pergi meninggalkan Evano, ("Njirr.. apa apaan dia? Sifatnya kok bisa berubah gitu? Apa dia emang gitu ya? Mungkin akunya aja yang nggak kenal dia") "Terserah dah, bodoamat yekan" Ia mempercepat langkahnya

__ADS_1


Beberapa menit melangkah, ia mendengarkan suara samar samar langkah kaki dibelakangnya. Ia membiarkah hal tersebut dan menganggapnya sebagai orang lain yang juga menggunakan jalan yang sama dengannya. Namun setelah melewati beberapa kali belokan, langkah kaki itu masih terdengar olehnya. Hal ini membuatnya mulai berpikir jauh, ("Ada yang ngikutin aku ya? Penguntit?.. ah bukan, aku kan bukan artis. Eh? Gimana kalau penjahat, trus aku di tikam dari belakang trus mati. Apa ini akhir ceritaku?") Tanpa sengaja ia melihat sebuah belokan beberapa langkah di depannya, ("Yosh.. belok langsung ciduk!!")


Setelah berbelok, ia langsung berhenti berjalan dan menunggu orang itu muncul di hadapannya. Namun ketika melihat bayangan orang itu di tanah, ia terkejut hebat, ("Hah?! Gawat, bayangannya besar banget! Pembunuh bayaran?!")


__ADS_2