
Vani menatap Evano dengan tatapan tajam, "Kenapa kamu bilang?!"
"Aku nggak mau terlibat jauh" ucap Evano
"Itu tidak benar Evano" ucap Darren, "Seharusnya kita menanggung semuanya bersama"
"Bagus, kamu berkata jujur" ucap Azka, "Karena ini kesalahan Vani, saya akan melepaskan kalian berdua. Kalian boleh pergi dan kamu Vani, ikut saya"
"Hah?!" Tanya Vani terkejut
"Terimakasih pak" ucap Evano
"Tunggu.." ucap Darren
Evano menoleh ke arah Darren, "Ayo turun" Mereka berempat keluar dari mobil. Vani berjalan mengikuti Azka masuk ke dalam Villa tanpa berkata apa pun
Darren dan Evano masih berada di parkiran mobil, "Bagaimana bisa kita membiarkan Vani menanggung semua hukumannya sendiri" ucap Darren
"Tenanglah, dia akan baik baik aja" ucap Evano, "Ayo gabung sama yang lain" Mereka berdua pergi menuju panggung untuk bergabung dengan peserta kemah lainnya menyemangati peserta yang tampil di atas panggung
Di tengah berjalan menuju ruang konseling siswa, Vani menghentikan langkahnya. Ia menyalakan hologram yang ia buat sebelumnya dan menembakkan sinarnya ke sisi tembok yang cukup jauh dari tempatnya berdiri, "Pak Azka! Penyusup!" Teriaknya
Azka langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya. Ketika melihat orang yang mencurigakan itu seolah berlari, ia berniat lari mengejarnya. Namun saat melewati Vani, tubuh penyusup itu terpotong dan hanya terlihat separuhnya saja. Azka langsung menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Vani, "Ahahhahahaa" Vani tertawa kencang karena berhasil membodohi Azka dengan hologramnya
"Kamu!" Ucap Azka geram. Ia berusaha menahan emosinya karena kedudukannya sebagai seorang guru, "Tulis surat permintaan maaf sepuluh lembar karena melanggar dengan keluar dari wilayah villa dan lari sepuluh putaran taman Villa karena sudah berani mengerjai seorang guru"
"Heh? Cuma itu? Sepuluh putaran doang?" Tanya Vani
"Kurang?" Tanya Azka
"Aku sih kuat kalau lari mah" ucap Vani bangga
"Dua puluh putaran. saya akan sering pantau" ucap Azka, "Kerjaan sekarang" sambungnya
"Okey boss" ucap Vani sembari memberi hormat, "Oh.. kertasnya mana?"
"Ikut saya" ucap Azka
Vani menerima kertas dan pulpen yang di berikan Azka, "Thanks pak" Ia pergi mencari tempat duduk yang nyaman untuk di tempati. Di saat bersamaan, Darren datang menghampirinya dan duduk di sampingnya, "Kamu baik baik saja?" Tanya Darren
"Iya, tenang aja" ucap Vani
"Hukumannya?"
"Ringan, cuma disuruh tulis surat permintaan maaf sepuluh lembar" ucap Vani
"Heh? Sepuluh lembar?" Tanya Darren terkejut, "Itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku akan membantumu"
"Lama?" Tanya Vani bingung
"Kamu sudah mulai menulis?" Tanya balik Darren
"Belum, nggak perlu bantuan. Lima menit kelar kalau cuma segini" ucap Vani
"Tidak mungkin" ucap Darren
__ADS_1
Vani langsung menuliskan kata maaf yang cukup besar hingga memenuhi satu halaman kertas. Darren terkejut dengan apa yang dilakukan Vani, "Heh? Apa kamu belum pernah menulis surat permintaan maaf sebelumnya?" Ucapnya
"Di sekolahku hukumannya bersih bersih, jarang di suruh nulis gini" ucap Vani
"Aku akan mengajarimu" ucap Darren
"Nulis pake tutorial segala" ucap Vani dengan ekspresi datar
"Tulis kata maafnya dari barisan ujung teratas. Trus ulangi sampai ujung terbawah" jelas Darren
"Ha? Serius?!" Tanya Vani syok, "Kita tulis kecil kecil trus harus penuh satu lembar? Ini sepuluh lembar lagi!"
"Aku akan membantumu sampai selesai" ucap Darren
"Pentasnya gimana?" Tanya Vani
"Masih di nomor urut lima puluh. Kurang lima belas kali penampilan dan acaranya selesai. Maybe, sampai malam" jawab Darren
"Wah.. banyak juga ya. mending kamu balik nonton aja gih" ucap Vani
"Aku akan membantumu. Ini juga termasuk kesalahanku" ucap Darren
"Tenang aja" ucap Vani. Ia kembali menuliskan hal yang ia lakukan sebelumnya pada ke sembilan kertas yang tersisa. Ia menumpuknya dan menyerahkannya pada Darren, "Yosh.. done, tolong kasih ke guru tadi"
Darren menerima kertas itu, "Kamu yakin menulisnya begini?"
"Kan dia cuma bilang suruh tulis permintaan maaf sepuluh lembar. Bukan suruh menuhin kertasnya" ucap Vani sambil tersenyum
"Tapi bukan begini juga" ucap Darren
"Ya udah, tolong kasihin ya. Aku lanjut lari buat hukuman keduanya" ucap Vani sembari berdiri dari duduknya, "Bye bye" ucapnya sembari berlari keluar dari bangunan Villa
Vani berdiri tepat di depan taman dan mengamati sekitarnya, "Cuma dua puluh kali? Haha. okeysip, patung ini batasnya" Ucapnya. Ia mulai berlari menyusuri pinggiran taman
Setelah berlari cukup lama, ia tidak kunjung melihat patung pembatas. Ia menghentikan larinya dan memperhatikan sekitarnya, "Yahh anjirr.. lari hampir sepuluh menit, satu putaran aja belum. Aku salah jalan kah? Ngga ngga ngga, ini emang ditaman. Pohonnya banyak bat, ngalangin pemandangan. Lanjut aja lah, kelamaan ntar" Ia kembali melanjutkan larinya
20 menit kemudian, ia sampai di tempat patung pembatas berada. Ia menghentikan larinya dan mengatur pernafasannya, "Anjirr.. ni taman apa hutan si, lebar bat. Perasaan dari sini keliatan kecil" Ia melihat waktu di jam tangannya, "Sekali putaran berarti kurang lebih tiga puluh menit. Anjirr.. setengah jam! Heh?" Tiba tiba ia teringat perbincangannya dengan Azka. Ia menyesal karena telah meminta tambahan hukuman larinya, "Akh.. s*alnya! Dua puluh kali setengah jam. Astagaaa.." Ia menutup matanya dengan tangan kanannya, "Yakali aku lari sepuluh jam nonstop"
'drtt.. drrtt..' Handphone disakunya berdering. Ia mengambil untuk melihat siapa yang meneleponnya, "Njirr pak Azka" Ia langsung menerima panggilan telepon itu
'tutt..'
"Hello sir" ucapnya menyapa
'berapa putaran?' tanya Azka dari telepon
"Eee.. sepuluh. Huhh.. capeknyaa" jawab Vani sambil berpura-pura merasa letih
'satu putaran' ucap Azka dari telepon
"Heh? Udah hampir sebelas, kok masih di hitung satu si" ucap Vani
'Saya awasi kamu dari atas!'
"Dari atas? Pak Azka sekalian benerin genteng yah?" Tanya Vani sembari berbalik dan menoleh ke atas. Ketika melihat Azka berdiri di depan jendela kaca sembari menatapnya, ia tersenyum kecil dan melambaikan tangannya, "Hallo, hehe"
__ADS_1
'lanjutkan hukumanmu, cuma sembilan belas putaran bukan apa apa kan buatmu' ucap Azka dari telepon
"Heh? Cumaa" ucap Vani syok, "Pak.. bisa negosiasi ngga? Kasih keringanan"
'lari saja, jangan kelamaan berhenti' ucap Azka
"Tapi pak" ucap Vani
'oh.. masih kurang ya?' tanya Azka dari telepon
"Jangan!" Seru Vani, "Saya lanjut lari" sambungnya. Ia mengakhiri panggilan telepon itu dan sedikit melirik ke arah Azka, "Hahhhh.." Setelah menghela nafasnya, ia kembali berlari mengelilingi taman
4 jam kemudian, hari sudah semakin gelap. Dengan nafas yang terengah-engah, ia terus berlari. Hingga ia terhenti karena merasa kakinya sudah tidak kuat untuk berlari. Ia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Azka
'tutt..'
"Hahh.. Hallo pak" ucapnya dengan nafas terengah-engah
'ada apa? Separuh aja belum' ucap Azka dari telepon
"Pak.. diskon lari keliling seperempat taman boleh ngga?" Tanya Vani dengan nafas terengah-engah
'nggak bisa. Kamu sendiri kan yang minta hukuman lebih banyak' ucap Azka dari telepon
"Kejamnya. Kalau aku mati kecapean gimana coba" ucap Vani
'Nggak akan mati'
"tapi pak.. udah mulai gelap, jalannya nggak keliatan"
'lampu taman ada dimana mana, tempatmu berdiri juga terang' ucap Azka dari telepon
"Kalau saya merem, tetep ga keliatan pak" ucap Vani
'terserah' ucap Azka dari telepon
"Tapi pak.." ucap Vani terhenti
'tutt..' panggilan berakhir
"Yahh.. dimatiinn" ucap Vani. Ia menyimpan kembali handphonenya, "Yosh.. i can do it!" Dengan berat hati, Ia kembali melanjutkan hukumannya
Di sisi lain, Azka sedang bersantai duduk menikmati teh sembari terus mengawasi Vani. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya, "Permisi pak" ucap orang itu
Azka menoleh ke arahnya, "Kenapa disini? Bukannya sudah waktunya berkumpul untuk renungan malam?"
"Benar pak, semua udah berkumpul di lobi villa. Pak, izinin saya gantiin Vani jalani hukumannya!"
"Kamu.. Evano dari dua belas mipa A kan. Apa kamu melakukannya karena Vani menindasmu?" Tanya Azka
"Bukan pak. Saya juga terlibat dalam masalah ini" ucap Evano
"Terlibat?" Tanya Azka bingung
Evano membungkukkan badannya dengan bersungguh-sungguh, "Saya mohon!"
__ADS_1
"Lakukan sesukamu" ucap Azka mengalah
"Terimakasih banyak" ucap Evano. Ia langsung pergi dari tempat itu