Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter153


__ADS_3

'brak..' Vani menutup pintu mobil


"Kalian ngobrolin apa?" Tanya Kaituo


"Entahlah" ucap Vani. Ia menoleh ke arah Kaituo, "Aku lagi berhenti temenan sama mereka bertiga"


"Kenapa?" Tanya Jack


"Masalahku akhir akhir ini numpuk, ngga mungkin kan aku libatin mereka"


"Kamu benar" ucap Kaituo, "Tapi mereka temanmu kan? Udah tugas temen bantuin temennya yang lagi ada masalah"


"Tapi masalahnya, masalahku kebesaran"


"Mau sebesar apapun masalahmu, kalau mereka serius temenan sama kamu. Mereka bakal bantu walau pada akhirnya akan ngerugiin mereka"


"Ngga bisa" ucap Vani


"Bisa"


"Jack, ke sekolah" ucap Vani. Jack kembali melajukan mobil


"Hei dengerin perkataanku" ucap Kaituo


"Berisik" ucap Vani sembari memalingkan pandangannya, ("Hmm.. ngga kek biasanya, kenapa dia? Padahal ekspresinya serius, kenapa bisa dia bilang gitu? Apa semua ini salahku?") Batinnya merenung, ("Apa tindakanku akhir akhir ini terlalu b*doh?")


Kaituo mencoba menjahili Vani yang terlihat melamun dengan mencubit pipi kanannya, "Aaaa.. lepasin" ucap Vani terkejut


"Udah, jangan pikirin hal yang nggak guna" ucap Kaituo, "Mereka paling nggak serius jauhin kamu"


"Moga aja, tapi kalau mereka beneran jauhin aku, aku ga punya temen lagi dong"


"Kamu bisa main sama aku"


"Kamu aja ngga main game"


"Kamu kan bisa main game sama Jack, iya kan Jack?"

__ADS_1


"Hmm.." gumam Jack


"Tapi aku mau temen cewek" ucap Vani


"Tenang aja, ntar Jack bisa pura pura dandan jadi cewek buat temenin kamu" ucap Kaituo


"Ogah, kau aja sendiri" balas Jack, "Lagian wajahmu lebih pantas dandan cewek"


"Maksudmu, aku cantik kalau jadi cewek?" Tanya Kaituo


"Dasar banci" ucap Jack


"S*alan"


Sesampainya di depan sekolahan, Vani langsung keluar dari mobil. Kaituo membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya, "Hei, jangan buat masalah" ucapnya


"Iya tau" ucap Vani, "Dah sana, hushh.."


"Udah dianter, ngusir. Nggak malu?" Ucap Kaituo


Di saat yang bersamaan, mobil Agnes juga sampai di depan sekolah. Ia keluar dari mobilnya dan tanpa sengaja melihat Vani yang berdiri tidak jauh darinya. Saat Vani berbalik, matanya sejenak bertatapan dengan mata Agnes. Namun Vani tidak menghiraukannya dan langsung melangkah masuk ke dalam sekolah


Agnes memperhatikan Vani melangkah semakin jauh darinya, ("Apa perkataanku tadi terlalu berlebihan ya?") Batinnya. Ia menurunkan pandangannya, ("Kalau dipikir pikir, aku jahat banget ke Vani. Kenapa aku nggak tahu diri gini dan sekarang malah jauhin dia. Padahal awal permasalahan Vani itu aku yang sebab in. Aku terlalu takut terlibat masalah yang akan buat diriku keliatan buruk di mata orang lain")


"Non Agnes" panggil seseorang, "Non!"


"Oh.." Agnes tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke asal suara


"Non Agnes nggak masuk?" Tanya sopirnya


"Oh iya, nanti jangan lupa jemput ya" jawab Agnes


"Siap non" ucap sopir


"Aku duluan" ucap Agnes sembari berjalan masuk melewati gerbang sekolah


Sementara itu, saat Vani hendak masuk ke dalam gedung kelas XII. Langkahnya terhenti karena ia melihat Azka berdiri tepat di samping pintu dengan tatapan tertuju pada dirinya, "Pagi pak" sapa Vani, "Lagi jadi penunggu pintu ya?"

__ADS_1


"Pagi" sapa balik Azka, "Kamu ikut bapak"


"Kemana?"


"Ke kantor kepala sekolah" ucap Azka sembari berjalan melewati Vani. Vani mengikutinya dari belakang


("Masalah apa lagi? Kenapa sampai kepala sekolah segala?") Batin Vani penasaran


Ketika masuk ke dalam kantor kepala sekolah, di sana terlihat Georgio wali kelas Vani, guru BK sekolah dan juga kepala sekolah. Vani hanya diam menurut ketika ia disuruh untuk duduk bergabung dengan mereka, "Itu.. apa saya akan dikeluarin dari sekolah?" Tanya Vani


Kepala sekolah tersenyum dan tertawa, "Ahahaa.. apa yang nak Vani katakan. Tentu saja tidak"


"Gapapa bilang aja. Tapi, tolong jangan kasih tau ini ke Khakim" Pinta Vani


"Tidak begitu nak Vani"


"Tapi, masalah kejadian kemarin. Aku yang serang mereka duluan"


"Pak Azka sudah cerita semuanya, kamu jujur kan tentang ceritamu ke pak Azka kemarin?"


Vani menoleh ke arah Azka, "Iya"


"Kalau begitu sekolah akan percaya ke kamu" ucap kepala sekolah sembari tersenyum


"Terimakasih banyak, saya janji ngga akan menghianati kepercayaan ini" ucap Vani bersungguh sungguh


"Sebenarnya ada satu masalah. Orangtua siswa yang terlibat masalah denganmu kemarin, hanya percaya dengan bukti nyata dari cctv bahwa kamu yang menyerang mereka duluan. Kemarin mereka datang ke sekolah dan minta supaya kamu segera dikeluarkan dari sekolah. Rumor kamu yang suka menyerang orang tanpa sebab juga menyebar dengan cepat ke orang tua siswa siswi lain. Banyak yang menghubungi sekolah dan bertanya kebenarannya, banyak juga yang dukung supaya kamu dikeluarkan dari sekolah. Tapi, karena sekolah punya peraturannya sendiri. Kami tidak mengikuti saran dari orangtua siswa. Untuk itu, supaya orangtua siswa lain tetap merasa tenang anaknya bersekolah disini. Kamu akan menjalankan pelajaran daring dari rumah. Kamu tidak perlu datang ke sekolah lagi"


'Baik' ucap Vani lirih


"Jangan sedih begitu" ucap kepala sekolah. Ia menoleh ke arah Azka dan memberinya kode untuk menghibur Vani


"Vani, belajar daring nggak buruk juga. Kamu bakalan dapet kelas khusus dimana tiap guru mapel bakalan fokus ajar kamu. Kamu juga bisa sambil makan kan dari rumah, nggak perlu berseragam juga" jelas Azka


"Oh iya, toh minggu depan sudah masuk musim ujian. Pembelajaran semester juga sudah berakhir. Kamu cuma sebentar ikut daring untuk ujian, setelah itu lulus kan?" Sambung Georgio


"Iya, pak Georgio benar" ucap kepala sekolah

__ADS_1


__ADS_2