
"Gimana Ray? Mau ku pesenin taxi? Aku temenin kamu sampe taxinya dateng deh" Ucap Vani
"Hmm.. Nggak perlu, aku lagi pengen jalan kaki" Ray menoleh ke arah Vani, "Mau pulang bareng?"
"Wohoo.. Boleh juga, kamu nantang aku? Dengan sepedaku ini, aku lima kali lebih cepat dibanding langkah kakimu yang panjang itu. Gampang deh menangnya" Ucap Vani senang
"Eh? Bukan itu maksudnya. Maksudku, kita jalan bareng tanpa sepedanya" Ucap Ray
"Sepedaku ditinggal?" Tanya Vani
"Iya, biar nggak ngerepotin" Ucap Ray
"Mana bisa! Mending aku pergi naik sepeda tinggalin kamu"
Ray terlihat murung, "Di matamu, aku bahkan nggak lebih berharga dari sebuah sepeda"
"Segitu pengennya kamu pulang bareng aku? Ya udah, kamu bonceng belakang. Aku antar kamu sampai rumah" Ucap Vani
"Nggak usah sampai rumah, kamu nggak bakal kuat. Antar aja aku sampai pertigaan dekat markas, disana ada tukang ojek" Ucap Ray
"Bukannya mending pesan taxi online dari sini?" Tanya Vani
"Nggak, aku pengen naik ojek" Ucap Ray
"Kalau gitu, gimana ku pesan ojek online?"
"Nggak, aku nggak suka. Aku cuma naik ojek di pangkalan itu" Ucap Ray
"Heh?! Kamu milih buat nyusahin aku?!" Tanya Vani
"Kamu nggak mau? ya udah, lebih baik aku jalan kaki sendirian di tengah malam ini ke pangkalan ojek itu" Ucap Ray sembari membelakangi Vani
"Tunggu Ray, aku antar sampai pangkalan ojek!" Ucap Vani
Ray berbalik dan kembali menghampiri Vani, ia langsung naik dan berdiri di atas jalu sepeda dengan tangan kanannya yang berpegangan pada pundak Vani, "Berangkat!" Seru Ray
"Jangan mendadak gitu woy!" Ucap Vani sembari mempertahankan sepedanya agar tidak roboh
"Ahahahaa, aku terlalu bersemangat"
"Tau kan kamu berat?!" Ucap Vani, "Oh ya, btw susah nggak pegangan satu tangan? Apa perlu ku ikat kamu ke badanku biar ngga jatuh?"
"Kamu pikir aku anak kecil?" Tanya Ray
"Iya juga si, ya udah kita berangkat" Ucap Vani sembari mengayuh pedal sepedanya, ('ugh.. Be.. Rat!')
Di jalanan yang cukup sepi, Vani mengayuh sepedanya menghadapi sebuah tanjakan kecil. Ia menghentikan sepedanya dan mengatur nafasnya yang terengah engah karena perjalanan sebelumnya
__ADS_1
"Kamu masih kuat?" Tanya Ray
"Tenang aja, aku pasti antar kamu sampai ke pangkalan ojek kesukaanmu itu" Ucap Vani
Ray turun melompat dari sepeda Vani, Vani yang menyadarinya langsung menoleh ke arahnya, "Kenapa turun?" Tanya Vani
"Gantian aku yang bawa sepedanya" Ucap Ray
"Emang kamu bisa naik sepeda? Pake satu tangan lagi!"
"Kendaraan yang bisa ku taklukan cuma sepeda" Ucap Ray
"Njirr taklukan, apaan. Bisa naik sepeda harusnya gampang naik motornya" Ucap Vani
"Benar juga, kenapa ya dulu aku nggak latihan sepeda motor? Sekarang, aku nggak di izinin mengemudi dengan satu tangan" Ucap Ray murung
"Yosh, aku yang bonceng kan? Aku mau lihat seberapa kuat kamu ngayuh sepeda" Ucap Vani sembari turun dari sepedanya. Ia merebut tas yang di bawa Ray dan menggendongnya, "Aku yang bawa ini"
"Baiklah, lihat aja" Ucap Ray senang. Ia menaiki sepeda itu dan Vani berdiri membonceng di belakangnya
Ray mengayuh sepeda menaiki tanjakan dengan mudahnya, "Wahh.. Kamu kuat juga ya. Gampang banget lewat tanjakan barusan" Ucap Vani senang
"Tanjakan kecil gitu mudah bagiku. Apalagi boncengin kamu, mau tanjakan curam sekalipun. Aku pasti kuat kok" Ucap Ray
"Woah Ray, darimana kamu latihan gombal begitu?" Tanya Vani
"Trus tadi apa maksudnya? Kamu bilang 'Apalagi boncengin kamu, mau tanjakan curam sekalipun. Aku pasti kuat kok'" Ucap Vani
"Maksudku, aku bisa boncengin kamu di tanjakan curam gara gara kamu ringan! Itu bukan gombalan" Ucap Ray. Vani hanya terdiam tanpa memberikan respon apapun
("sayang banget, padahal udah ku siapin balesan buat jebak dia") batin Vani sedikit kesal
Ray merasa heran karena Vani terdiam, ia menoleh untuk mengecek keadaan, "Van? Kok diem? Oh.. Jangan jangan tadi kamu berharap gombalan dariku ya?"
"Yee.. Mana ada! Ray! Liat ke depan! Nabrak gimana coba!" Seru Vani
"Ahahahaa, kamu ganti topik" Tanya Ray
"Enggak gitu, kalau nabrak gimana coba?!"
"Iya deh iya. tenang aja, Walau nabrak aku nggak akan ngebiarin kamu terluka sedikit pun. Aku akan lindungin kamu dengan segenap jiwa dan raga"
"Dua kali" Ucap Vani
"Apanya?"
"Gombalanmu, untung aku nggak baperan"
__ADS_1
"Nggak percaya, sekarang kamu pasti lagi senyum senyum sendiri kan?" Tanya Ray
"Bhaks ahahaa, aku senyum gara gara kamu aneh hari ini" Ucap Vani sambil tertawa
"Aneh? Dimananya?" Tanya Ray
"Pikir aja sendiri" Ucap Vani
Saat melewati pangkalan ojek yang dimaksud Ray, Ray tidak menghentikan sepedanya dan terus mengayuhnya hingga terlewat cukup jauh. Vani yang menyadarinya sedikit merasa kebingungan
"Eh Ray. Pangkalan ojek maksudmu yang tadi kita lewatin kan?" Tanya Vani
'Citt'
Ray mengerem sepeda dan langsung menoleh ke belakangnya, "Oh iya kelewatan, nggak ada cara lain, langsung pulang aja deh"
"Hmm.. Putar balik aja, mumpung nggak jauh jauh amat" Ucap Vani
"Nggak, aku nggak mau buang buang tenaga buat putar balik. Kamu tau? Jalan yang baik adalah jalan yang lurus. Aku akan teruskan" Ucap Ray. Ia melanjutkan mengayuh sepedanya menelusuri jalanan
Di perempatan, ia membelokkan sepedanya ke kanan dan terus mengayuh
"Kenapa lewat jalan buruk?" Tanya Vani
"Ha? Buruk?" Tanya Ray
"Katanya jalan yang baik, jalan lurus. Ko kamu belok?"
"Kalau lurus terus tambah nyasar nanti" Ucap Ray
Beberapa menit kemudian, Ray menghentikan sepedanya di depan rumah Vani, "Sampai" Ucap Ray
"Ko disini?" Tanya Vani
"Ini kan rumahmu, udah turun"
"Kamu pulangnya gimana?"
Di saat yang bersamaan, tukang ojek melintas di depan rumah Vani, "Oh kebetulan" Ucap Ray, "Ojek!"
Tukang Ojek menghentikan motornya dan menoleh ke asal suara, "Ojek bang?"
"Iya, bapak ojek kan?" Tanya Ray
"Oh iya iya" Jawab tukang Ojek
"Ya udah Van, aku pulang. Good night" Ucap Ray sembari berlari menghampiri tukang ojek. Dalam sekejap mereka sudah pergi dari rumah Vani
__ADS_1
"Hmm.. Katanya ga suka ojek selain dari pangkalan. eh jangan jangan tukang ojek tadi dari pangkalan itu" Ucap Vani, "Dahlah bodoamat" Vani menuntun sepedanya masuk ke dalam garasi dan menyimpannya