
Ray tersenyum kecil menyapa penjaga kasir, "Selamat siang kakak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya penjaga kasir ramah
"Saya minta tagihan dari meja nomor tiga" ucap Ray
"Oh dari meja tiga ya" ucap Penjaga kasir teringat, "Mohon maaf, saat ini bill printernya sedang error. Jadi untuk sementara waktu tidak bisa mencetak bill pembayarannya. Apa kakak tidak keberatan tidak menerima billnya?"
"Nggak masalah"
Penjaga kasir melihat ke arah komputer di hadapannya, "Baiklah, untuk total yang harus dibayarkan dari meja tiga adalah empat ratus lima puluh ribu rupiah"
"Cuma segitu?" Tanya Ray terkejut
"Iya kak, empat ratus lima puluh ribu rupiah. Mau dibayar cash atau debit?" Ray menyodorkan black card milik Kaituo untuk membayarnya. Penjaga kasir terkejut saat menerimanya, "Kak, sebenarnya tadi ada perempuan yang datang kesini"
"Perempuan? Vani? Kenapa dia kesini?" Tanya Ray penasaran
"Saya tidak mengetahui namanya, dia bilang dia pacar kakak. dia minta saya supaya manipulasi bill pembayarannya dan pura-pura bill printernya rusak. Saya jadi merasa bersalah karena tidak menepati janji. Tapi saya pikir pacar kakak itu salah paham pada kakak. Dia pikir kakak tidak mampu membayar makanannya, jadi dia bantu dengan kasih handphonenya sebagai jaminan. Tapi ternyata kakak bayar dengan black card ini, sudah pasti kakak sangat mampu. Jadi saya membongkarnya di depan kakak"
Ray tersenyum kecil mendengarnya, "Dia kasih handphonenya buat jaminan?"
"Iya benar"
"Bisa saya ambil handphonenya?. Dan tolong bill aslinya juga"
"Baiklah mohon tunggu sebentar" ucap penjaga kasir. Ia memberikan handphone Vani pada Ray dan memberikan bill pembayaran serta mengembalikan black cardnya. Mata Ray mengembang terkejut melihat bill pembayaran itu
("Cuma makan habis dua puluh dua juta?!") Batinnya terkejut, ("Untung aja Kaituo pinjamin kartunya. kalau nggak, aku nggak tahu harus gimana bayarnya. saldo rekeningku aja nggak nyampe")
"Kak? Ada yang lain?" Tanya penjaga kasir
"Oh.. nggak ada, terimakasih" ucap Ray tersadar
"Terimakasih kembali kak" ucap penjaga kasir ramah
__ADS_1
Ray kembali ke meja mereka. Vani dan Kaituo langsung berdiri ketika melihat Ray kembali, "Udah selesai bayarnya? Lancar ngga?" Tanya Vani penasaran
Ray mengeluarkan handphone Vani dari sakunya, Ia tersenyum, "Handphonemu jatuh, ada orang yang nemuin trus diserahin ke kasir"
Vani terkejut hebat melihat handphonenya berada di tangan Ray, ("Kasirnya kang ngibul!!") Batinnya. Ia langsung mengambil handphonenya dari tangan Ray, "Oh iya handphoneku ahahahaa"
"Lain kali hati hati ya" ucap Ray
Vani tertawa canggung, "Iya hahaha"
Saat itu Ray melihat ke arah Kaituo dan mengangguk kecil untuk memberikan kode. Kaituo berjalan melewati mereka dan sejenak terhenti di samping Ray untuk mengambil kembali black cardnya secara diam-diam. Ia berbicara sembari berjalan, "Mau sampai kapan disini" serunya
"Ayo pergi" ajak Ray
"Oh iya" ucap Vani. Ia dan Ray segera menyusul Kaituo keluar dari restoran itu
Vani dan Ray berbincang sembari berjalan mengikuti Kaituo, "Ray.. tadi kamu dapat bill?" Tanya Vani
("S*alan, beneran ngibul dong kasirnya") batin Vani kecewa. Ia menoleh ke arah Ray, "Billnya masih ada? Aku boleh lihat?"
Ray merogoh sakunya untuk mengeluarkan bill pembayaran sebelumnya. Ia memberikannya pada Vani, "Ini"
Vani sedikit terkejut melihat total pembayaran di bill itu, "Dua puluh dua juta?!" Ucapnya terkejut. Ia langsung mengembalikannya pada Ray, "Rekeningmu gapapa?! kamu bayar pakai tabungan kan?!"
"Em.. kurang lebih"
"Nanti bayar kuliahnya gimana? Sama bayar kebutuhanmu yang lainnya gimana? Aku ganti aja ya semuanya"
"Nggak perlu" ucap Ray sembari menghentikan langkahnya, "Aku nggak suka kalau kamu terlalu anggap aku kurang mampu", ("karena aku bukan cuma kurang mampu, tapi ga mampu banget") sambung batin Ray
Vani ikut terhenti, ia merasa bersalah dengan kata katanya, "Tapi kan.."
"Van!!" Panggil Kaituo dari jarak yang tidak jauh dari mereka. Pandangan Vani langsung teralihkan ke arahnya, "Berani coba roller coaster itu?" Tanya Kaituo sembari menunjuk ke arah roller coaster
__ADS_1
"Woah!" Pandangan Vani berbinar ketika melihat wahana roller coaster yang terlihat menarik dimatanya, ("Tinggi banget") batinnya teringat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Kaituo dan menggeleng gelengkan kepalanya, "Ngga mau" ucapnya
Kaituo berjalan ke arahnya, "Kenapa? Takut ya?"
"Kamu kan tau!" ucap Vani
"Ohh.." ucap Kaituo sembari melirik ke arah Ray. Ray menoleh ke arah Vani, "Kalau mau naik, kamu bisa pergi sama dia"
"Ngga ngga ngga, masa kita main tapi kamu engga" ucap Vani
"Nggak masalah, aku bisa tunggu kalian sambil baca materi kuliah, besok ada penilaian" ucap Ray sembari tersenyum
"Kenapa kamu setuju pergi ke sini? Kan bisa batalin aja kalau kamu harus belajar buat besok"
"Udah udah, pergi main sana. Kasih waktu buat aku belajar, aku tunggu kamu dikursi itu" ucap Ray sembari menunjuk ke arah kursi kosong
"Yaudah deh" ucap Vani, "Semangat belajarnya"
"Iya" ucap Ray sembari tersenyum. Ia menoleh ke arah Kaituo, "Tolong jaga dia"
"Kayak anak kecil aja, jagain segala" ucap kaituo
Ray tersenyum kecil, "Ya udah aku kesana" Ia melangkah pergi menuju kursi kosong
Kaituo menoleh ke arah Vani yang terdiam memperhatikan Ray berjalan pergi darinya, "Jadi naik nggak?" Tanyanya. Vani menoleh ke arah Kaituo dan tersenyum senang, "Gass" ucapnya bersemangat
"Apaan itu. Tadi sok sok an nolak, sekarang seneng gitu" ucap Kaituo
"Kan kasihan kalau kita naik tapi Ray nungguin. Untung aja dia mau belajar, jadi ngga ngerasa bersalah akunya hehe" ucap Vani senang
Kaituo tersenyum kecil, "Dasar. Ayo jalan, antreannya keburu panjang"
"Let's go!!" Ucap Vani. Mereka berdua pergi menuju antrean roller coaster
__ADS_1