
"Tidak akan" ucap kepala sekolah, "Tiga belas anak ini siswa kelas berapa?"
"Mereka dari satu kelas, kelas dua belas ips E" jawab Azka
"Kita bisa keluarkan tiga belas anak ini dari sekolah" ucap Kepala sekolah
"Tiga belas anak, bukankah terlalu mencolok. Kejadian ini bisa saja menjadi rumor buruk di luar sana" ucap Azka
"Benar juga" ucap kepala sekolah, "Ohh.. mereka dari ips E ya? Kalau begitu, kita hapus saja kelas dua belas ips E san keluarkan semua siswanya. Kita bisa buat alasan, kalau nilai mereka terlalu rendah di bawah standar buat masuk ke sekolah ini"
"Sepertinya banyak ide yang muncul di otak kepala sekolah" ucap Kim
"Ahaha.. tuan Kim terlalu memuji" ucap Kepala sekolah senang, "Tuan Kim tenang saja, nak Vani akan aman bersekolah disini. Serahkan semuanya ke kita"
"Saya tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara yang buruk seperti itu" ucap Kim
Tawa kepala sekolah memudar dengan cepat di wajahnya, "Apa yang tuan Kim ingin kita lakukan?"
"Saya yang akan.." ucapan Kim terhenti ketika ia teringat akan kata kata Vani sebelumnya untuk tidak ikut campur dalam masalahnya, ("Dia pasti marah kalau aku ikut campur") batin Kim, "Intinya, jangan sampai ada satu siswa pun yang di keluarkan dari sekolah ini" ucapnya, "Temukan pihak yang bersalah dan beri hukuman"
"Di cctv, nak Vani yang sudah jelas bersalah. Apa tuan Kim rela nak Vani dapat hukuman?" Tanya kepala sekolah
"Oh.. ada satu cara!" Ucap Azka
"Apa itu?" Tanya kepala sekolah
"Setelah kejadian ini, sebagian besar orangtua siswa mengira kalau Vani terlalu bahaya jika terus dibiarkan berada disekolah. Rumor buruk sekolah ini juga akan muncul jika kita tidak mengeluarkan Vani dari sekolah" jawab Azka
"Apa maksudnya?" Tanya kepala sekolah
"Kita bisa selesaikan masalah ini dengan negosiasi. Kita bisa jelaskan pada orangtua ketiga belas anak ini bahwa ini hanya perkelahian kecil dan sekolah akan membayar uang berobat sampai sembuh total. Untuk kecemasan karena Vani yang dibiarkan berkeliaran di sekolah. Kita bisa buat Vani belajar daring dari rumah. Toh hanya sebentar Vani belajar daring hingga kelulusan"
__ADS_1
"Baiklah, saya setuju. Saya percayakan adik saya pada sekolah ini" ucap Kim. Ia berdiri dari duduknya, "Permisi" ucapnya
Kepala sekolah dan Azka berdiri dari duduknya, "Mari saya antar tuan Kim" ucap Kepala sekolah
"Tidak perlu" tolak Kim. Ia keluar dari ruang kepala sekolah dan berjalan menyelusuri lorong
Di tengah perjalanan, seseorang menghentikannya, "Tunggu" ucap orang itu. Kim menoleh ke asal suara
"Anda, Kim Osamu? Kakaknya Vani?" Tanya orang itu
"Apa kau temannya?" Tanya balik Kim
"Iya, aku Evano. Aku juga tinggal satu kompleks dengan kak Kim" jawab Evano
"Jadi, ada apa?" Tanya Kim
"Oh.. tolong tunggu disini sebentar" ucap Evano. Ia berbalik dan berlari pergi meninggalkan Kim
"Kau baru saja melanggar peraturan sekolah untuk tidak berlari di lorong sekolah hanya untuk mengambil sebuah tas" ucap Kim sembari menerima tas itu
"Oh benar, tolong jangan laporin ke bk. Aku janji nggak akan ulangi lagi" ucap Evano
"Baiklah, kembalilah ke kelasmu" ucap Kim
"Sekarang jam istirahat, aku akan ke kantin" ucap Evano
"Hmm" gumam Kim sembari berbalik dan berjalan meninggalkan Evano
"Satu lagi!" Seru Evano, "Tolong sampaikan pada Vani. Minggu depan ujian sekolah, kalau dia butuh materi. Suruh dia datang ke rumahku atau telpon aku"
Kim tidak berbalik sama sekali. Ia menyatukan ujung jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran dan mengangkat lengannya
__ADS_1
("Ok?") Batin Evano. Ia tersenyum kecil melihatnya
Kim kembali menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia masuk dan mendatangi Vani yang sedang duduk bersantai di sofa kamarnya. Kim melemparkan tas itu ke wajahnya
'bagg'
"Akh.. sakit woy!" Ucap Vani sembari menyingkirkan tas dari wajahnya. Ia menoleh ke arah Kim, "Tasku! Khakim dari sekolah ya?! Jan bilang Khakim mau keluarin mereka semua?!"
"Siapa bilang kakak dari sekolahmu? Mana buktinya? Barusan di depan, kakak ketemu temenmu yang namanya Evano. Dia antar tas ini kerumah" jawab Kim
"Oh.. ngga disuruh masuk?" Tanya Vani
"Dia balik ke sekolah" jawab Kim
"Heh? Dia bolos buat balikin tasku?"
"Eee.. enggak lah, dia sama guru yang namanya pak Azka. Mereka sepakat buat antar tasmu pulang"
Vani memasang ekspresi datar, "Khakim ngga boong kan?"
"Nggak lah. Oh ya, belajar gih. Minggu depan ujian kan?"
"Hehh?!! Ujian?!" Tanya Vani terkejut, "Sekarang jum'at, besok sabtu trus seninnya ujian?!"
"Katanya temenmu, kamu bisa telpon atau kerumahnya kalau kurang materinya" ucap Kim
"Okeoke"
"Yaudah, belajarnya besok aja. Sekarang kamu istirahat. Kalau matamu ada gejala lagi, panggil kakak" ucap Kim
"Emang khakim bisa sembuhin?" Tanya Vani, "Ngapain panggil khakim, mending panggil dokter kan"
__ADS_1