
"lupain aja pertanyaanku sebelumnya" ucap Ray, "Vani pasti baik baik aja, ada kalian disekitarnya. Dan juga dia nggak mungkin bunuh orang. Maaf ganggu waktumu Jack"
'Ray..' ucap Jack terhenti
'tutt.. tut.. tutt..' Ray mengakhiri panggilannya
Ia mendongak ke atas dan menatap awan, ("Nggak seharusnya aku tanya keadaan dia lagi. Aku nggak mau buat dia terus kejar aku. Dia harus secepatnya lupain aku") batinnya. Tanpa ia sadari kedua matanya mulai berkaca kaca, ("Heh.. apa pantas aku nangis dengan perbuatanku sendiri?") Dadanya mulai terasa sesak, tangisannya tidak tertahankan dan mengalir begitu saja, ("Rasanya sesak sekali.. Maaf, maaf Vani") Melalui tangisan, Ray melampiaskan semua kesedihan dan penyesalannya
Di tempat lain,
Vani dan Azka duduk berhadapan di salah satu meja toko ice cream sembari menikmati ice cream. Vani terlihat melamun dengan tatapan kosong, "Hey, cepat habiskan ice creammu" ucap Azka. Vani tersadar dari lamunannya dan menatap Azka, "Jangan melamun, nanti kesambet" ucap Azka
"Hmm.. iya" ucap Vani. Ia melanjutkan memakan ice creamnya
"Cepat, kita harus pergi"
"Eh? Kan baru sepuluh menit kita duduk"
"Nggak baik korupsi waktu, bapak harus segara kembali ke sekolah"
"Tadi bilang, sekali kali bisa"
"Kan udah. Ayo balik, kamu bisa lanjut makan di mobil" ucap Azka
"Lima menit lagi, aku abisin disini" ucap Vani
"Ya udah"
Vani mempercepat suapan ice creamnya. Saat pandangannya menjelajah, ia mengenali punggung seseorang yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya duduk, "Ray!" Ucapnya terkejut
"Siapa Ray?" Tanya Azka
(" Siapa cewek di sampingnya? Apa dia bareng sama cewek itu lagi?!") Batin Vani penasaran. Ia menoleh ke arah Azka, "Bentar pak" ucapnya sembari berdiri
Vani berjalan menghampiri orang itu, "Ray!" Panggilnya. Laki laki dan perempuan yang duduk di hadapannya langsung menoleh ke arahnya
"Anjjirr, bukan Ray!" Ucap Vani terkejut, "Woy! Kenapa kamu pake baju itu! Kembaran tau sama Ray!"
"Dek, nggak sopan banget sih ngomongnya!" Ucap perempuan di depannya
"Siapa Ray? Emang cuma dia yang punya baju ini?" Sambung laki laki di depannya
"Gaya rambut kalian juga sama" ucap Vani
__ADS_1
"Ya terus, apa hubungannya sama kita?" Tanya perempuan itu
"Tcihh.. makanya fashion sama gaya rambut jan copy punya orang, jadi salah sangka kan" ucap Vani
"Bisa aja Raymu itu yang tiru gaya cowokku, iya kan beb" ucap perempuan itu
"Iya. Lagian belum terbukti siapa duluan yang gaya fashionnya begini, aku atau Ray itu" ucap laki laki itu
"Hilih belagu" ucap Vani sembari berbalik, "Dahlah"
"Hei mau kemana?!" Tanya perempuan itu
Vani kembali berbalik, "Apa lagi?"
"Seragammu masih anak sma, kita itu lebih tua dari kamu. Udah salah orang, ngomongnya ngegas, ngatain belagu pula. Nggak minta maaf?"
"Yaudah maaf" ucap Vani
"Nggak ikhlas gitu kelihatannya"
"Em.. gimana kalau ice cream kalian aku yang bayar? Sebagai permintaan maaf tulusku?" Tawar Vani dengan ekspresi datar
"Beneran?" Tanya perempuan itu
"ih nggak apa apa tahu. Dari seragamnya udah kelihatan, dia anak orang kaya" jawab sang perempuan
"Iya gapapa, aku bareng sama orang itu" ucap Vani sembari menunjuk ke arah Azka. Azka yang menyadarinya, langsung memalingkan pandangannya dan menutupi wajahnya
"Wah.. orang berjas pasti kaya" ucap laki laki itu
"Teori darimana?" Tanya Vani
"Kalau nggak kaya, nggak mungkin bayarin ice cream orang kan?"
"That's true!" Ucap Vani sambil tersenyum, "Dia emang berduit"
"Sekalian bungkus ice cream buat orang di rumah boleh nggak?"
"Berapa pack?" Tanya Vani
"Sepuluh"
"Sepuluh?" Tanya Vani terkejut, "Ngotak dong!"
__ADS_1
Kedua orang itu terdiam
"Gimana kalau dua puluh pack? Sekalian ngestock" Tawar Vani sambil tersenyum
"Beneran dek?" Tanya perempuan itu
"Iya lah" ucap Vani
"Wah, makasih loh"
"Buruan order gih" ucap Vani
"Iya iya" Mereka berdua segera mengorder pesanan mereka
Vani sedikit merasa kecewa karena dugaannya salah, ("kenapa bukan Ray aja si? pengen liat dia aja susah. kenapa juga aku jadi keinget dia lagi?") batinnya, ("hmm.. pake rencana apa lagi ya kira kira")
Melihat Vani begitu lama mengobrol, membuat Azka merasakan sebuah firasat, ("Perasaanku nggak enak lihat dia ketawa sama orang asing begitu") batinnya, ("Apa yang mereka obrolin?")
Beberapa saat kemudian, kedua orang itu selesai mendapatkan pesanannya. Mereka membawa cooler box yang berisi penuh dengan ice crem menghampiri Vani, "Eh? Box itu gratis?" Tanya Vani
"Kita pinjam, nanti mencair kalau nggak pakai ini" jawab sang perempuan
"Nggak usah balikin, buat kalian aja sekalian. Aku bayarin juga" ucap Vani
"Beneran?"
"Iya"
"Wahh.. baik banget sumpah" ucap perempuan itu senang
"Eh bentar" ucap Vani. Ia menghampiri Azka dan mengajaknya bertemu dengan dua orang itu
"Terimakasih banyak tuan" ucap laki laki itu sembari menundukkan kepalanya sejenak
Azka merasa kebingungan, "Iya sama sama"
"Ya udah dek, kita berdua pergi dulu ya" ucap perempuan itu
"Iya kak, bye bye" ucap Vani ramah sembari melambaikan tangannya. Kedua orang itu pergi meninggalkan toko
Vani tersenyum menoleh ke arah Azka, "Pak, ice tadi belum bayar kan?"
"Hmm.. iya. Kenapa dua orang tadi bilang terimakasih?" Tanya Azka
__ADS_1