Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter196


__ADS_3

Setelah mengantre beberapa saat, Ray dan Vani mendapatkan bagiannya. Mereka berdua masuk ke dalam kurungan bianglala dan duduk berseberangan. Vani terlihat begitu bersemangat saat memasuki bianglala besar itu, "Woah.. muat enam orang lebih sih ini" ucap Vani takjub


'krettt'


"WAA!!" Ray berteriak ketika bianglala itu sedikit bergoncang karena mulai bergerak. Vani yang merasa penasaran langsung menoleh ke arahnya, "Kenapa?" Tanya Vani


Pandangan Ray hanya tertuju ke arah Vani, ia terlihat memaksakan senyuman di wajahnya "Nggak ada.. WAA!! Aku cuma senang naik ini, WAHAHAHAAA"


"Dasar" Vani tersenyum mendengar respons dari Ray. Ia kembali menikmati pemandangan di sekitarnya melalui jendela kaca bianglala itu, "Waahh.. baru jalan sebentar, tapi udah kelihatan lampu lampunya"


"Em.. iya" saut Ray


"Ngga naik juga keliatan sih lampu, ahaha"


"Iya juga"


Vani tersenyum diam menikmati sensasi menaiki bianglala. Saat itu bianglala perlahan mulai menaik tinggi. Vani tiba tiba berdiri dari duduknya, "Hey, kenapa kamu berdiri? Duduk aja!" Ucap Ray cemas

__ADS_1


"Aku pengen duduk di sampingmu" ucap Vani


"Jangan! Jangan! Tetap di tempatmu. Kalau kamu pindah kesini keseimbangan bianglalanya ke ganggu, kita bisa aja jatuh!"


"Engga mungkin lah, aku ke situ ya?"


"Jangan Vani! Dengerin aku!"


"Humm.. iya deh" ucap Vani sembari menundukkan kepalanya. Pandangannya kembali menemukan sesuatu yang baru. Lantai bianglala yang ternyata adalah sebuah kaca membuatnya bisa melihat pemandangan di bawahnya, "Woahh.. Ray! Lihat ke bawah! Kita bisa lihat bianglala di bawah kita!" Ucapnya takjub


Pandangan Ray tanpa sadar mengikuti arahan Vani. Ia terkejut hebat ketika melihatnya berada jauh tinggi dari permukaan tanah. Ia refleks langsung menaikkan kedua kakinya ke tempat duduk, kedua tangannya mencengkram pegangan besi di kedua sisi bianglala itu, "Nggak mungkin!" Teriaknya. Ia terlihat begitu panik, "Vani!! Duduk! Angkat kakimu! Kaca itu pasti rapuh!"


"Iya iya iya! aku takut! Kamu nggak boleh ke tempat tinggi lagi! dengerin aku! naikin kakimu ke atas kursi itu!" Ucap Ray cemas


Vani hanya tersenyum melihat kepanikan Ray. Ia mendapatkan sebuah ide untuk menggoda Ray lebih lanjut. Ia melompat lompat kecil di atas lantai kaca itu, "Aman kok Ray, aman nih aman" ucap Vani senang. Ia tiba-tiba menghentikan lompatannya dan mengubah ekspresi wajahnya, "Ray! Aku dengar retakan! Gimana ini! Aku ga bisa gerak! Aku bisa jatuh!" Ucapnya dengan ekspresi cemas


Mendengar apa yang Vani katakan. Rasa cemas Ray mulai memuncak, keringat dingin dan ketakutan membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih. Memori ingatan buruk yang tiba tiba melintas di pikirannya saat Vani jatuh dari ketinggian dulu membuatnya semakin cemas. Ia dengan sigap berdiri dan langsung mendekap erat Vani dengan mata yang tertutup, "Jangan takut! Ada aku disini! Tutup matamu! Kita akan baik baik aja!" Ucapnya mencoba menenangkan Vani

__ADS_1


"Puftt.. ahahahaaa. Gimana sih, harusnya kamu tarik aku ke kursi itu, kalau kacanya pecah kan kita masih bisa selamat. Malah kamu ikut kesini, bilang suruh tutup mata lagi. Yang ada kamu mempercepat kita jatuh" ucap Vani senang. Ia menaikkan pandangannya dan melihat kedua mata Ray yang masih saja tertutup, "Ray, coba buka matamu" Ray memberanikan diri mulai membuka kedua matanya dan saat ia melihat Vani aman berada di pelukannya, rasa cemasnya perlahan memudar. Ia tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya


Vani melepaskan diri dari pelukan Ray. Ia menggenggam tangan kanan Ray, "Ngga perlu cemas Ray, bianglala ini ngga mungkin rusak gitu aja. Kita aman kok disini, kecuali kalau kamu buka pintu trus loncat keluar, ga aman itu" ucap Vani


"Kamu jangan coba coba!" Ucap Ray


"Siapa sih yang mau bunuh diri, bunuh diri kan masuk neraka. Cuma orang b*doh yang punya keinginan buat bunuh diri"


"Kamu tahu itu! Jangan pernah prank aku lagi disituasi seperti ini"


"Ahahaha.. habisnya lucu liat ekspresimu" ucap Vani senang. Ia menarik tangan Ray dan mengajaknya duduk bersampingan, "Liat.. keseimbangannya ngga keganggu sama sekali kan?"


Ray mengangguk kecil, "Kamu benar"


"Jadi.. ngga ada alasan lagi kamu takut ketinggian kan? Kita bisa naik wahana ekstrem lain bareng kan?"


"Nggak nggak nggak! Ini terakhir, aku nggak mau naik beginian lagi"

__ADS_1


Vani memasang ekspresi datar, "Kok kapok sih"


__ADS_2