
Di depan toilet, langkah Jack terhenti. Ia menoleh ke arah Vani dan merebut baju yang Vani bawa. Ia membuangnya ke dalam tempat sampah
"Oo tidak, bajuku" ucap Vani, "Bhaks.. ahahaha, suaraku ko jadi gini"
"Ayo balik" ajak Jack. Mereka berdua kembali menuju meja mereka. Vani dan Jack duduk di kursinya masing masing
"Kenapa kalian bisa barengan?" Tanya Ray
"Apa jaga Vani sulit buatmu?!" Tanya balik Jack
"Tunggu.. suaramu, kau menggunakan itu lagi?" Tanya Ray
"Hahh.. udahlah" ucap Jack mengalah
Ray menoleh ke arah Vani, "Kamu baik baik aja? Jack nggak marahin kamu kan?"
"Iya, aku baik baik aja" ucap Vani sembari menoleh ke arah Ray. Ray sedikit tersentak mendengar suara baru Vani, "Ada apa Ray?" Tanya Vani
"puft.. Suaramu" ucap Ray sembari menahan tawanya
__ADS_1
"Ini suara asli saya, anda telah menghina saya dengan menertawakan suara saya"
Jack menoleh ke arah mereka berdua, "Berhenti ngobrol!"
'tcihh' gumam Vani. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Ray, 'Jack ga bisa diajak bercanda' bisiknya. Ray menganggukkan kepalanya karena merasa setuju dengan bisikan Vani
Selang beberapa saat, seorang pembawa acara mulai memandu acara dan mengambil alih perhatian orang orang di sana. Ia memberikan sambutan-sambutan dan menjelaskan alasan mereka semua dikumpulkan di tempat itu. Ia menjelaskan jasa jasa dan capaian capaian yang telah dilakukan setiap anggota CRIFITY untuk membantu memberantas kejahatan di negara itu. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah akan mengambil alih CRIFITY dan menjadikannya organisasi bawahan pemerintah yang legal. Setelah itu, seseorang yang terlihat penting berdiri di belakang podium. Ia yang mendirikan CRIFITY dan mengembangkannya hingga saat itu. Ia memberikan beberapa pidato singkat sebelum dirinya melepaskan jabatan ketua miliknya
"Saya menghapus jabatan ketua bukan berarti saya membuang kalian. Hanya saja, saat ini muncul peluang bagus untuk crifity berkembang lebih pesat. Crifity sudah diakui pemerintah dan akan bekerja untuk kepolisian. Kalian akan menjalani pelatihan selama satu bulan sebelum kembali menjalankan misi resmi dari kepolisian. Mungkin kalian akan mendapat gaji lebih banyak dari pada uang saku yang saya berikan setiap bulan, bukankah itu bagus?"
Vani merasa begitu yakin dengan ingatannya tentang suara Kim, kakaknya sendiri, "Dia khakim" ucapnya
"Dari mana kamu tau?" Tanya Ray
Beberapa kali, orang asing yang sedang berpidato itu melirik ke arah Vani. Namun ia tetap terus melanjutkan pidatonya, "Beberapa dari ketua kalian mungkin tahu nama saya, bahkan rupa wajah saya. Di kesempatan kali ini, perkenalkan saya Kim Osamu..." Ia melepaskan topeng dari wajahnya. Orang-orang di sana sontak bergemuruh kagum dan tidak percaya dengan sosok orang di balik topeng itu. Begitu juga dengan Vani, ia tambah terkejut karena dugaannya benar
("BENERAN KHAKIM!!") batinnya terkejut, ("Gawat! Gawat! Dia tadi sadar aku ngga ya? Gimana nih!")
"Tenang, semua akan baik baik aja" ucap Ray sembari menepuk-nepuk pundak Vani
__ADS_1
"Kenapa kamu setenang itu?! Apa sebelumnya kamu udah tau?" Tanya Vani
"Oh.. itu.." ucap Ray terhenti, "Tuhkan!" Saut Vani, ("Ah.. kenapa harus Khakim sih?!") batin Vani kesal
Setelah pidato-pidato dari beberapa orang lainnya berakhir. Acara itu disambung dengan acara makan makan. Sebagian orang berdiri untuk mengambil makanan kecil. Disaat itu juga Vani berdiri dari duduknya, "Aku harus pulang! Kalian disini aja!" Ucapnya. Ia berbalik dan berjalan dengan langkah yang cukup cepat
Di tengah ia melangkah,
"Vani tunggu!" Ucap Kim sembari menahan tangan Vani. Vani terkejut hebat dan membeku seketika, ia tidak berani berbalik menatap mata Kim, ("Gawatttt, gimana ini?") Batin Vani panik. Ia memberanikan diri untuk berbalik, "Oh tuan Kim panggil saya? maaf atas kejadian sebelumnya. Ada yang bisa saya bantu?" Tawar Vani
("Bukan Vani, apa tadi salah dengar ya?") Batin Kim lega, ("Sepertinya aku merindukan anak itu, aku harus mampir sebentar ke rumah sebelum kembali ke negara C"), "Oh maaf, saya kira kenalan saya" ucap Kim sembari melepaskan genggamannya
"Kalau begitu, saya permisi" ucap Vani sopan. Ia kembali melangkah pergi meninggalkan tempat itu, ("Huhhh.. panik ngga, panik ngga?! panik lah masa engga. Untung aja ada cipnya Jack") batinnya merasa lega
Vani turun ke lantai dasar menggunakan lift dan segera keluar dari gedung itu. Ia mencari transportasi umum untuk pulang ke rumahnya. Di dalam taxi, ia melepas masker, jubah dan kacamata yang ia gunakan, "Huffhh.. bebas jugaa" ucapnya lega
"Artis ya mas? Kenapa tutupin muka begitu?" Tanya sopir penasaran
"Iya, banyak fans yang ngikutin soalnya"
__ADS_1
sopir taxi sedikit melirik ke arah kaca untuk melihat pantulan wajah Vani, "loh, suaranya cowok kok wajahnya cantik"
"transgender saya"