
Di sore harinya, setelah dilakukan beberapa penyelidikan menyeluruh. Vani dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari hukuman. Kim dan Zuan menjemputnya untuk mengantarnya pulang ke rumah. Di dalam mobil ia duduk bersama Kim di kursi belakang, "Kenapa aku dibebasin?" Tanya Vani
"Presdir Kim, apa lebih baik kita putar balik?" Saut Zuan yang sedang menyetir
"Eh, jangan kak! Aku dah capek seharian jadi tahanan tau" keluh Vani. Kim tersenyum kecil sembari mengusap usap rambut Vani, "Dasar pembuat onar"
"Biarin"
Kim mengeluarkan sebuah handphone dari saku jasnya dan memberikannya pada Vani, "Handphonemu"
"Wih.. Kirain bakalan disita" ucap Vani senang. Ia membuka handphonenya dan mulai menjelajahi dunia internet
"Zuan, sepertinya kita perlu membeli banyak makanan untuk orang di rumah" ucap Kim
"Baik Presdir Kim, sebentar lagi kita akan melewati restoran" ucap Zuan
"Cuma lewat? Ga beli?" Tanya Vani
"Ahahahaa.. Little Van bisa saja" ucap Zuan senang
Saat Vani asyik menjelajah internet, ia tidak sengaja melihat fotonya menjadi thumbnail sebuah berita, "Ahaha.. liat Khakim, masa fotoku matanya disensor sih" ucapnya sembari menunjukkan layar handphonenya pada Kim. Kim langsung merebut handphone itu ketika melihatnya. Vani menoleh ke arah Kim dengan ekspresi bingung, "Eh? Kenapa aku masuk berita?"
"Zuan, maaf merepotkanmu lagi. bisa kau selesaikan masalah ini sekarang juga?" Ucap Kim
"Baik Presdir Kim" ucap Zuan sembari menepikan mobil. Ia keluar dari mobil dan Kim menurunkan jendela mobil, "Maaf tidak bisa mengantar sampai rumah, presdir Kim dan Little Van" ucapnya sopan
"Nggak masalah, hati hati" ucap Kim
"Baik. Presdir Kim dan Little Van juga berhati hatilah di jalan" ucap Zuan
Kim keluar dari mobil dan berpindah ke kursi pengemudi. Ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Zuan. Vani menoleh ke belakang memperhatikan Zuan yang berdiri di trotoar semakin jauh dari pandangannya, "Kasian kak Zuan, kenapa di tinggal"
"Dia yang turun sendiri" ucap Kim
"Kek abis di putusin pacar trus diturunin di jalan"
"Dari mana teorimu?"
"Asal aja" ucap Vani sembari kembali meluruskan pandangannya, "Eh.. Kenapa Khakim masih suruh suruh kak Zuan, kan dia bukan asisten Khakim lagi"
"Dia langsung datang pas kakak bilang kamu ada di penjara. Trus kakak juga nggak suruh suruh, kan minta tolong" ucap Kim
"Kenapa dia masih panggil khakim presdir? Kenapa juga khakim ngga panggil kak zuan presdir? Kan kalian sama sama presdir"
"Cerewet, kamu pernah tanya begini sebelumnya" ucap Kim
"Iyakah? Ngga inget tuh"
"Kamu mau makan pizza?" Tanya Kim mengganti topik pembicaraan
"Mau lah, siapa juga yang nolak makanan"
"Hmm.."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Kim menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pizza. Ia menoleh ke arah Vani dan tersenyum, "Kamu gih yang beli" ucapnya
"Aku?" Tanya Vani, "Okeysip, mau beli berapa?"
"Hm... Nggak jadi, kamu tetap disini" ucap Kim sembari membuka pintu mobil. Ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko untuk memesan pizza. Beberapa menit kemudian, Kim selesai membeli pizza dan kembali masuk ke dalam mobil sembari membawa beberapa box pizza ditangannya. Ia meletakkan pizza itu di kursi depan samping kemudi
"Banyak amat, siapa yang abisin?" Tanya Vani
"Kamu" jawab Kim sembari menutup pintu mobil
"Satu box aja belom tentu habis, khakim malah beli lima box"
"Kamu laper kan? Pasti habis"
"Mana mungkin woy"
"Di rumah ada Kai, kalian berdua kan rakus"
"Ngga serakus itu juga kali, masa lima box sih. Mending balikin aja tiga boxnya, ntar mubasir"
"Yaudah, kamu gih yang balikin. Kalau bisa uangnya minta balik"
"Khakim aja, yang beli kan khakim. Ntar ga kenal mereka"
"Kamu bawa ktp kakak, bilang kamu adeknya"
"Mana bisa gitu"
"Bisa"
"Kan kamu yang minta"
"Ngga jadi, ayo pulang pulang pulang" ucap Vani
"Hm.. gimana kamu ini" Kim kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah
Sesampainya di rumah, Vani segera turun dari mobil dan pergi menuju halaman rumahnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya, "Huhhh.. Bau kebebasan" ucapnya senang
Kim yang berada di depan pintu rumah, menoleh ke arah Vani, "Hey, lagi apa kamu? Ayo masuk!" seru Kim. Vani menoleh ke arah Kim dan langsung berlari menyusulnya. Mereka berdua masuk bersamaan ke dalam rumah
Di ruang makan, Kaituo yang menyadari kedatangan Vani langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampirinya. Ia memeluk Vani dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata apa pun, "Kamu kenapa" ucap Vani dengan ekspresi datar. Ia melepas pelukan Kaituo dan menatapnya, "Ciee takut aku masuk penjara ya"
"Aku cuma kasih sambutan pelukan. Kamu kan tahanan yang baru aja bebas" ucap Kaituo
"Ha?" Ucap Vani bingung
"Dasar" ucap Kim sembari berjalan melewati mereka berdua
"Bilang aja kamu khawatir sama aku, yakan" goda Vani
"Pd amat jadi orang. Baru beberapa jam di tahan, kenapa bisa bebas?" Ucap Kaituo sembari berbalik dan berjalan kembali menuju ruang makan. Vani berjalan menyusulnya dari belakang, "Aku ngga salah, kenapa harus ditahan lama lama?"
"Hmm.. baguslah" ucap Kaituo sembari duduk di kursi makan. Vani ikut duduk bergabung di sampingnya. Kim meninggalkan ruang makan dan pergi menuju ruang tamu untuk mengajak yang lain ikut bergabung di ruang makan
__ADS_1
"Menurutmu lima box ini bakal abis ngga?" Tanya Vani
"Habis" jawab Kaituo
"Ngga mungkin lah, kamu aja abisin dua box ngga kuat"
"Kita kan ada tambahan tiga orang lagi"
"Eh? Siapa?"
Kaituo menoleh ke arah Vani, "Kamu nggak tau?"
"Siapa siapa?" Tanya Vani penasaran
"Nak Vani" panggil seseorang. Vani langsung menoleh ke asal suara. Ia melihat pamannya Nian dan Auntynya bersama Kim dan satu orang di belakangnya sedang berjalan menuju ruang makan. Vani terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, "Nian Uncle! Aunty!" Ucapnya senang. Ia segera menghampiri mereka dan memberikan pelukan, "Kapan kalian kesini?"
"Dari pagi uncle udah disini" jawab Nian
"Nak Vani, kamu baik baik aja kan?" Sambung Auntynya
"Tenang aja aunty, tadi cuma salah paham" ucap Vani
"Syukurlah, aunty bisa lega sekarang"
Saat pandangannya menjelajah, Vani melihat Jack berdiri bersembunyi di belakang Nian, "eh.. Jack?! Kenapa kamu bisa disini?"
"Dia yang kasih tau kakak kalau kamu di kantor polisi" ucap Kim
"Hehh.. Aku pikir pas ku panggil, dia cuekin trus di tinggal pergi. Ternyata mau bilangin ke Khakim" ucap Vani
"Dia bela belain hujan hujanan buat kesini" saut Kaituo
"Beneran?" Tanya Vani sembari menoleh ke arah Jack
"Terpaksa" ucap Jack sembari mengalihkan pandangannya
"Udah ku duga, ngga mungkin Jack ngga peduli" ucap Vani senang
"Oh ya, uncle mau kenalin kamu ke seseorang" ucap Nian
"Siapa uncle?" Tanya Vani
Nian menarik lengan Jack dan merangkulnya, "Kenalin, dia kakakmu. Shin Osamu"
"Heh?! Gimana bisa?!" Ucap Vani terkejut, "Jack jadi Shin?! Shin anaknya Uncle yang hilang dulu?!"
"Kenapa ekspresimu kaget gitu?" Tanya Jack
"Serius kamu?!" Tanya balik Vani
"Iya, kita sudah jalanin tes dan hasilnya cocok. Dia adalah Shin anak uncle yang hilang sembilan belas tahun lalu" jelas Nian senang
"Wah..." Vani masih begitu terkejut dengan fakta itu. Kim menarik lengannya dan mengajaknya kembali duduk di kursi ruang makan, "Ayo makan dulu. Uncle, Aunty, Jack juga"
__ADS_1
"Iya, ayo makan" ucap Nian. Mereka semua duduk berkumpul di ruang makan dan memakan pizza yang sudah di beli sembari mengobrol asik bersama