
Saat Vani berjalan menuju pintu rumahnya, tanpa sengaja tangannya membenarkan posisi tas yang ia gendong. Ia terhenti dan langsung memasang ekspresi datar, "Tasnya Ray" Ucap Vani, "Ngerepotin!" Ia langsung berlari masuk menuju kamarnya dan mengambil kunci kontak mobilnya. Ia segera menuju garasi dan masuk ke dalam mobil. 'Broommm..' Vani melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Ray
Beberapa menit kemudian, ia sampai di depan rumah tetangga Ray. Ia turun dari mobilnya dan mengecek keadaan. Ia mengambil handphonenya dan menghubungi Ray
'Tutt.. Tutt.. Tuttt..'
'Drrt.. Drrt.. Drrtt'
"Heh?" Vani membuka tas milik Ray dan menemukan handphone Ray di dalamnya, "Yah, gimana dong. Masa aku harus masuk ke rumah Ray"
Vani melihat jam di handphonenya, ('Setengah sepuluh') "Belum terlalu larut buat bertamu kan? Ya udah, gaskuen!" Ia melangkah perlahan melewati halaman rumah Ray
Di tengah jalan ia terhenti, "Udah terlalu larut, besok aja ku titipin ke Jack yekan" Ia berbalik dan terkejut dengan apa yang ia lihat, "Uwaa Ray!"
"Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Ray yang berdiri tepat didepan Vani
"Kamu baru sampai?" Tanya balik Vani
"Iya, baru aja ojeknya pergi. Kok kamu bisa ada disini?"
Vani melepas tas Ray dan memberikannya pada Ray, "Tasmu"
"Oh iya lupa, maaf ngerepotin" Ucap Ray
"No problem" Ucap Vani
"Kamu kesini naik sepeda? Mana sepedanya? Jangan bilang kamu jalan kaki? Lewat mana? Kok bisa cepet gitu?" Tanya Ray
"Aku bawa mobil, tuh di depan rumah" Ucap Vani sembari menunjuk ke arah mobilnya
"Mobil?! Aku kira kamu udah berubah. Tadi di depan apartemen Jack, kamu bilang nggak naik mobil gara gara belum cukup umur. Kenapa sekarang bawa mobil?!"
"Ahahaa, omonganku nggak bisa di pegang. Tadi cuma pencitraan, kamu percaya?" Tanya Vani
"Dasar, masih sama aja" ucap Ray
"Hehe"
"Udah disini mau masuk?" Tawar Ray
"Udah larut pulang aja deh, sampaikan salam buat Yukki sama tante ya" Ucap Vani sembari berjalan menuju mobilnya
"Iya, jangan ngebut!" Seru Ray
"Santuy" Seru balik Vani. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil. 'BrooommmMMM..' Vani menginjak gas dengan kencang. Mobilnya melaju melewati rumah Ray dengan cepat
"Woii!!" Seru Ray, ("Dasar anak itu!")
"Ahahahahaa" Vani tertawa melihat ekspresi Ray dari kaca spion mobilnya
Sesampainya di rumah, Vani masuk dan berjalan menuju kamarnya. Ia segera berbaring di kasur dan tertidur lelap
__ADS_1
Keesokan harinya, Vani berangkat ke sekolah seperti biasanya. Ketiga temannya sudah berdiri mengelilinginya di tempatnya duduk. Vani hanya memasang senyuman di wajahnya
"Woy! Apa maksudmu kemarin jebak kita hah?!" Tanya Putri nyolot
"Tau nggak! Kakiku capek tau malem nggak bisa tidur" Sambung Awani
"Trus juga, kenapa nggak di sembunyiin?! Kenapa harus taruh laci?!" Sambung Agnes
Ekspresi senyum Vani memudar, "Ha? Langsung ketemu?"
"Em.. Iya lah, jelas langsung ketemu" Ucap Agnes sembari memalingkan pandangannya
"Boong dia, ketauan banget" Ucap Awani
Vani mengangguk kecil, "Iya, aku tau Aw"
"Apaan si" Ucap Agnes cuek
"Eh Nes, tau nggak kemarin aku ketemu siapa?" Tanya Vani
"Tau" Ucap Agnes
"Siapa coba?" Tanya Vani
Agnes menoleh ke arah Vani, "Ketemu sama yang diatas"
"Njirr, mulutnya minta dilakban ni anak. Doain aku mokad ya?!" Ucap Vani ngegas
Vani menoleh kearah mereka berdua, "Woy!"
"Ahahahaa.. Kamu ketemu siapa?" Tanya Agnes sembari tertawa kecil
"Kan kemarin ketemu sama kalian" Jawab Vani
"Sudah kuduga" Ucap Awani dengan ekspresi datar
"Siapa njirr, serius" Ucap Agnes, "Orang penting nggak?"
"Hmm.. Kayaknya iya, lumayan berpengaruh kalau ada dia" Ucap Vani
"Suka main game?" Tanya Agnes
"Yoi, lanjutkan"
"Hum, baik hati dan tidak sombong? Rajin menabung?" Tanya Agnes
"Bisa iya si, gatau juga"
Agnes memasang ekspresi datar, "Udah ketebak dari awal"
"Kamu mah jelas gampang ngenalinnya" Ucap Vani
__ADS_1
"Siapa emang?" Tanya Putri
"Oh jelas Aku lah. Semua ciri yang Vani jelasin tertuju ke aku" Jawab Agnes bangga
"Yee bukan" Ucap Vani dengan ekspresi datar
"Heh? Trus siapa lagi coba?" tanya Agnes
"Aku?" Tanya Awani
"Jelas bukan!" Ucap Agnes
"Hiks jahat"
"Kemarin tuh aku ketemu.. Eh Nes, surat edarannya udah ambil di kantor belum?" Ucap Vani teringat
"Oh iya! Belum diambil. Padahal aku berangkat pagi niatnya mau sekalian ambil di kantor, ketemu mereka berdua jadi lupa deh" Ucap Agnes
"Ambil gih!" Ucap Vani
"Okeysip" Jawab Agnes. Ia berlari keluar dari kelasnya menuju kantor guru
Vani menoleh ke arah Awani dan Putri, "Kalian mau berdiri disitu aja?"
"Nggak ada kursi kosong, cuma punya Agnes doang" Ucap Putri
"Oh aku ada ide" Ucap Awani
"Ha? Paan?" Tanya Vani
"Put, ambil bangku kita di kelas kuy. Bawa sini" Ucap Awani
"Ngapain bjirr!" Ucap Putri
"Balik aja gih, dua menit lagi masuk" Usir Vani
"Hmm.. Ngusir gan?" Ucap Awani
"Yoii, anda peka" Ucap Vani sambil tersenyum
"Yaudah, kita pergi. Istirahat jangan mencar loh" Ucap Awani
"Okeysip, bye bye" Ucap Vani
"Bye" Awani dan Putri keluar dari Kelas XII MIPA A dan pergi kembali ke kelasnya
Beberapa saat kemudian, Agnes kembali membawa setumpuk surat edaran. Ia membagikannya pada siswa siswa di kelas. Selesai membaginya, ia kembali duduk di bangkunya, "Awani sama Putri ke kelas?"
"Iya, kayaknya kita nggak bisa ajak mereka berdua bolos lagi. Kemampuan akademik mereka down banget. Untuk sementara biarin mereka belajar" Ucap Vani
"Iya deh" Ucap Agnes
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, lagi lagi mereka merasakan sensasi sekolah tanpa bolos kelas maupun bolos untuk pulang ke rumah. Setelah memastikan ketiga temannya pulang dengan jemputan masing masing, Vani berjalan menelusuri trotoar seorang diri untuk pulang menuju rumahnya