
Evano menoleh ke arah Vani, "Dia?"
Vani sedikit menganggukkan kepalanya, ia menoleh ke arah Evano dengan cepat, "Jangan bilang aku disini!" Ucapnya panik. Ia langsung berlari masuk ke dalam area taman dan bersembunyi
"Dia bilang mau ngajak ngobrol, haha" ucap Evano
Ray menyeberangi jalan dan menghampiri Evano, "Kau yang terluka?"
"Iya"
("Dia, anak yang pulang sama Vani dulu kan?") Batin Ray ragu, "Ini, kau bisa kompres sendiri kan?" Tanya Ray sembari memberikan sekantung ice batu pada Evano
"Bisa, maaf merepotkan" ucap Evano. Ia menerima kantung ice itu dan mengompres kakinya yang bengkak
"Nggak masalah" ucap Ray
("Apa yang mereka obrolin? Aku nggak denger dari sini. Harus lebih dekat!") Batin Vani. Ia berjalan jongkok perlahan dan bersembunyi di balik tanaman boxwood
boxwood 'tanaman pagar hidup di pinggiran taman'
Penjual bakso selesai membuatkan pesanan. Ia membawanya di nampan, "Eh? Dimana adek yang pesan baksonya?"
"Taruh sini pak" ucap Evano
"Baik" ucap penjual bakso. Ia meletakkan nampan itu di kursi taman samping Evano duduk
("Dua porsi? Apa dia yang bolos bersamanya tadi? Di mana dia?") Batin Ray penasaran. Ia memperhatikan sekelilingnya
Evano sedikit meliriknya, "Kau lagi cari keberadaan Vani ya?"
Ray terlihat sedikit terkejut, ia mencoba untuk bertingkah seolah tidak mengenalnya, "Vani? Siapa dia? Temanmu?"
"Oh maaf, bukan Vani maksudku. Apa kau lagi cari temanmu?" Ucap Evano
"Iya, dimana dia?"
Evano menoleh dan melihat Zahra yang sedang berlari ke arah mereka, "Itu dia" Ray menoleh ke arah Zahra
"Ray, terimakasih udah datang" ucap Zahra senang
"Nggak masalah" ucap Ray
Zahra mengeluarkan perban dari dalam plastik, "Aku akan balut bengkaknya" Ia mulai memasang perban di kaki Evano
"Maaf buatmu lari ke sana kemari, padahal kita nggak saling kenal" ucap Evano
__ADS_1
"Aku nggak bisa tinggalin orang yang lagi butuh bantuan gitu aja" ucap Zahra, "Oh ya, siapa namamu?"
"Evano"
"Dan temanmu? eh? Dimana dia?" Tanya Zahra
"Dia pergi bentar" jawab Evano, "em.. bagaimana aku memanggilmu?"
"Sepertinya aku lebih tua darimu, kamu bisa panggil aku kak Zahra" ucap Zahra. Ia selesai memasang perban dan kembali berdiri, "Hmm.. bagaimana kakimu bisa keseleo? Apa tersandung sesuatu?"
"Aku jatuh dari tembok sekolah"
"Tembok? Kamu coba bolos terus kena karmanya?" Ucap Zahra
"Sepertinya begitu"
"Ahahaha dasar" ucap Zahra sambil tertawa kecil, "Ah.. maaf, aku nggak bermaksud menertawaimu"
"Nggak papa" ucap Evano
Vani masih menguping pembicaraan mereka, ("Kenapa mereka ngobrol lama banget! Gatau pegel apa jongkok mulu") batinnya. Ia sedikit bergerak mengganti posisi
'kresek..' Mendengar suara kantung plastik, Vani sedikit terkejut dan langsung menurunkan pandangannya untuk melihat apa yang berada di tangannya, ("Hah?! Plastik kakak itu!!") Batinnya terkejut, ("Otomatis dia bakalan nunggu aku buat serahin plastik ini! Trus aku ketemu Ray?! Ngga ngga, aku ngga bisa tahan nangis kalau ketemu dia langsung! Gimana ini?!")
"Iya" ucap Zahra, "Oh ya Evano, bilangin ke temenmu kita pergi duluan"
Evano mengangguk kecil, "Terimakasih bantuannya, kak"
Ray dan Zahra menunggu jalan sedikit sepi dan menyeberang
("Mereka pergi?! Dia lupa plastiknya?!") Batin Vani penasaran. Ia berdiri dari tempat persembunyiannya. Ia langsung berlari menghampiri Evano dan menyerahkan kantung plastik yang ia bawa, "Ambil ini, mereka pasti balik lagi!!" Ucapnya panik
"Nggak perlu panik, makan dulu baksonya" Ucap Evano
Vani mengambil mangkuk baksonya, ia masih terlihat sedikit panik, "Aku makan disana!" Ia berbalik dan tanpa sengaja salah satu kakinya tersandung kaki kursi taman. Mangkuk yang ia bawa terbalik dan kuah bakso membasahi lengan tangannya, 'prankk..' Mangkuk bakso terjatuh ke trotoar dan pecah seketika, "Akh! panas!" Teriak Vani. Ia terdiam sejenak dan langsung menoleh ke arah Evano, "Kenapa kuahnya dingin padahal mangkuknya masih hangat?"
"Kelamaan kena udara" ucap Evano, "Tanganmu gapapa?"
"Jangan sampe mereka denger" ucap Vani sambil menoleh
'degg!' Ia terkejut melihat Ray dan Zahra berdiri tidak jauh darinya, ('ah **!') batin Vani malu
"Kamu baik baik aja?! Aku denger kamu teriak" ucap Zahra cemas
Ray menatap Vani dengan tatapan penuh kekhawatiran. Vani hanya terdiam dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ray, 'Ray' panggilnya lirih
__ADS_1
"Ray? Kalian saling kenal?" Tanya Zahra
Ray mengalihkan pandangannya ke arah Zahra, "Nggak, aku nggak kenal"
Vani langsung menurunkan pandangannya dan sedikit menunduk, 'Gitu ya' ucapnya lirih. Kedua matanya mulai berkaca-kaca
"Apa kamu terluka?!" Tanya Zahra
Evano memaksakan kakinya berdiri dari duduknya dan tangannya langsung menggenggam lengan Vani
"Nggak papa, cuma kuah dingin"
("Syukurlah") batin Ray lega. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, "Pake ini buat bersihin"
Vani mencoba menahan air matanya agar tidak keluar, ia menaikkan pandangannya dan memasang senyuman lebar, "Nggak perlu kak, aku nggak bisa pakai barang milik orang asing" Pandangannya berpindah pada Zahra yang berdiri di samping Ray, "Makasih kak atas bantuannya" Ia melepaskan perlahan tangan Evano dari lengannya. Ia menghampiri kursi taman untuk mengambil bungkusan plastik dan mengembalikannya pada Zahra, "Maaf, aku nggak sengaja bawa tadi"
"Nggak masalah, aku hampir aja lupain itu" ucap Zahra, "Tapi kamu baik baik aja kan?"
Vani masih tersenyum dan mengangguk kecil. Ia menghampiri penjual bakso. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan meletakkannya di meja gerobak, "Ini ganti rugi mangkuk yang pecah sama maaf pak"
"Nggak apa dek, namanya juga kecelakaan" ucap penjual bakso, "eh, tapi ini kebanyakan uang ganti ruginya"
"Ganti rugi sama bayar bakso. Apa kurang?" Ucap Vani
"Masih kebanyakan ini, tunggu bapak ambil kembaliannya"
"Nggak usah"
"Benarkah? wah.. terimakasih banyak dek" ucap penjual bakso senang
Vani kembali menghampiri Evano dan merangkul tangannya, "Ayo pergi" Ia menoleh ke arah Zahra, "Kita duluan kak"
"Iya, hati hati" ucap Zahra. Vani dan Evano berjalan pergi dari tempat itu. Ray terdiam memperhatikannya
"Ayo Ray, kita juga kembali" ajak Zahra
"Ayo" ucap Ray. Mereka kembali menyeberangi jalan dan berjalan menuju pintu perpustakaan
Vani menghentikan langkahnya dan langsung jongkok menekuk kakinya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis, 'Hiks.. hiks.. uhuhuhuu'
Di depan pintu perpustakaan, Ray terhenti dan menoleh untuk melihat keadaan Vani, ("perkataanku pasti buat dia sedih lagi") batinnya sedih
"Ray, ada apa?" panggil Zahra
"Nggak ada" Ray melangkah masuk ke dalam perpustakaan
__ADS_1