Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter103


__ADS_3

Riry mengambil segelas jus di atas meja dan meneguknya hingga habis. Ibunya kembali menghampirinya, "Kenapa diminum? Itu bekas tamu" ucap ibunya


"Belum diminum kok" ucap Riry


"Oh ya, kakak. Jangan buat masalah sama Vani lagi yaa, jangan pernah bikin dia marah" ucap ibunya


"Kenapa ma? Dia kan ngeselin" ucap Riry


"Papa kerja di bawah perusahaan milik keluarga Osamu. Kan enggak lucu kalau papa di pecat gara gara kamu bikin masalah sama dia" jelas ibunya


"Hmm.. gitu ya, kakak usahain" ucap Riry


"Kalau kamu nggak suka sama dia, usahakan menjauh aja biar nggak nimbulin masalah" ucap ibunya


"Iya ma, lagian Kakak juga nggak deket sama dia. Itu tuh, adek, dia akhir akhir ini sering di deketin Vani" ucap Riry


Ibunya menoleh ke arah Evano, "Benarkah begitu? Apa adek keganggu?"


"Enggak ma, Evano sendiri yang mau temenan sama dia. Dia orangnya asik" ucap Evano


"Eh? Nggak salah ngomong begitu?" Tanya Riry


"Adek suka sama dia yaa" sambung Ibunya


"Suka, tapi sebatas temen kayak yang lain" ucap Evano


"Hm.. tapi perlakuan kamu ke dia sama ke cewek lain beda loh. Padahal kamu sering cuekin cewek lain, trus bilangnya males bahas kalau nggak penting. Tapi obrolan kamu ke dia juga rata rata nggak penting kan?" Ucap Riry


"Beneran? Lanjutin kak ceritanya, mama penasaran. Adek ini di sekolahan kelihatan dingin cuek cuek gitu ya" ucap ibunya


"Iya ma, adek itu nggak pernah ngomong duluan sebelum ada yang ngajakin ngobrol. Tapi kalau ada Vani, dia selalu notice duluan. Ada nih ya, temennya Vani yang namanya Agnes. Dia kadang tanya ke adek, tapi dia jarang notice. Kan kasihan nggak dijawab" jelas Riry

__ADS_1


"Mungkin Evano lagi pakai headphone, nggak kedengeran" ucap Evano


"Jangan bohong. Kamu sering pakai headphone, tapi silent kan?" Ucap Riry


"Pas itu Evano beneran setel musik, nggak kedengeran" ucap Evano


"Cukup cukup. Kalau dilanjutin kalian pasti berantem" Ucap ibunya. Ia menoleh ke arah Evano, "Kaki adek sakit banget? Apa perlu ke dokter?"


"Iya ma sakit banget, belum pernah Evano jatuh terus sakit begini" ucap Evano


"Ya udah" ucap ibunya sembari menoleh ke arah Riry, "Kakak bantu adek ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang. Mama siap siap dulu"


"Iya ma" ucap Riry. Ia menghampiri Evano dan membantunya berjalan keluar dari rumah. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menunggu ibu mereka untuk berangkat menuju rumah sakit bersama


Di sisi lain, Vani sampai di depan rumahnya. Ia masuk ke dalam rumahnya dan langsung pergi menuju kamarnya. Di kamar, ia membaringkan badannya di atas kasur sembari menatap langit langit kamarnya, 'Hmm.. apa kesalahan yang udah ku lakuin? apa dia ngga suka ya kemarin ku kasih surprise ultah. ngga mungkin, wajahnya keliatan seneng banget. apa hadiah? Jam? Atau tangan palsu itu? ngga lah! Siapa si yang dikasih hadiah ngga seneng yekan!'


'hahhhhh....'


'kemarin terakhir ketemu, ekspresinya ngga keliatan dia benci aku. trus juga kita ada janji nonton kan? Dia tadi pagi bawa tiketnya, otomatis dia masih belum benci waktu beli tiket itu. Berarti dia mendadak benci sama aku setelah beli tiket nonton itu'


"tapi.. apa hubungannya anjirr!!"


'gimana bisa dia benci aku cuma gegara beli tiket nonton?!'


"AAA!! HELP!! APA YANG HARUS AKU LAKUIN WOY!!"


"oh.. apa sepulang dia beli tiket, ada orang yang cegat dia. trus orang itu jelek jelekin aku. Abis tu Ray jadi ill feel ke aku. Tapi siapa orang yang nggak suka aku punya hubungan sama Ray? Kaituo! Aku butuh otak kedua buat mikir" ucapnya. Ia bangkit dari tidurnya dan berlari keluar dari kamar


Di depan pintu kamarnya, ia teringat suatu hal yang belum ia lakukan. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handphone yang tergeletak di atas kasur. Ia mengirim beberapa chat pada Agnes dan Jack mengenai waktu dan tempat ketemuan. Setelah itu, ia kembali keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Kaituo. Ketika berlari melewati dapur, bibi melihatnya


"Non jangan lari lari, nanti jatuh" ucap bibi. Vani menghentikan larinya dan merubah tujuannya menghampiri bibi yang sedang memasak di dapur. Ia merasa penasaran karena mencium bau masakan yang sangat harum, "Masak apa bi?"

__ADS_1


"Itu.. banyak" ucap bibi sembari menunjuk ke arah meja makan yang tidak jauh dari dapur


"Woahh!! Banyaknya.. kenapa masak banyak gini bi?" Ucap Vani takjub


"Nanti kakaknya non datang ke rumah ini kan? Bibi pikir harus menyambutnya dengan makanan favorit kakaknya non" ucap bibi


"Heh? Dia beneran pulang kesini?! Aku kira kemarin yang dia bilang cuma boong" ucap Vani senang


"Apa kakaknya non pernah bohong ke non Vani?" Tanya bibi


"Setahuku engga si, tapi pasti dia pernah" jawab Vani, "Berarti Khakim kesini pas makan malem?"


"Iya, kita makan malam lebih awal" ucap bibi, "Non Vani belum mandi? Nggak mau siap siap buat sambut kakaknya non?"


"Nice idea! Yaudah bi, aku mandi dulu" ucap Vani. Ia berlari kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian


Di tempat lain, Agnes sudah berada di dekat bioskop menunggu kedatangan Vani. Selang beberapa saat, seseorang menghentikan langkahnya tepat di depannya. Agnes menaikkan kepalanya dan menatap orang itu, "eh? Jack!" panggilnya terkejut


"Senang bertemu denganmu" ucap Jack dengan senyuman di wajahnya


"Kamu.. mau nonton juga?" Tanya Agnes


"Vani kirim aku kemari buat gantiin dia temenin seseorang buat nonton. Itu bukan kamu?" Tanya balik Jack


"Ehh.. Dia nggak dateng?" Ucap Agnes sedikit terkejut


"Dia bilang ada masalah mendadak" ucap Jack, "Kalau kamu nggak suka, kamu bisa batalin kapan aja"


"Jangan jangan jangan!" Ucap Agnes, "Eh.. maksudku, mubasir kan kalau ngga di pakai tiketnya. Kamu mau nonton bareng aku?" Sambungnya sembari mengeluarkan dua tiket bioskop dari sakunya


"Tentu aja" ucap Jack senang

__ADS_1


__ADS_2