
Vani dan Evano berjalan berdampingan kembali ke kelas mereka. Vani terlihat kesal dengan sifat Evano pada dirinya, "Tcih.. Kamu lihat? Ketua sama wakil dari kelas lain cuma diam nurut ke aku, kenapa kamu nggak nurut? aku kan ketuanya!"
Evano tidak meresponsnya dan berjalan lebih cepat mendahuluinya, Vani terlihat semakin kesal. Ia menggertakkan giginya dan langsung menyusul Evano, "Kamu tuli apa?! Ketua sendiri lagi ngajakin ngobrol juga! Kasih respon kek!" Serunya kesal. Evano masih tidak memedulikannya, ia mengangkat headphone yang ia kalungkan di leher dan memasangnya di telinga
Vani menghentikan langkahnya\, "F*ck!!" Teriaknya kesal sembari menendang tembok di dekatnya\, "Akh.. Sakit b*go!"
Ia menarik nafas dengan panjang dan menghembuskannya, 'Aaa.. Hhuuu.. Tenangkan dirimu Van, jangan kebawa emosi' Ia melanjutkan perjalanan kembali ke kelasnya
Sesampainya di kelas, terdengar suara bel pertanda jam pelajaran telah berakhir. Guru yang selesai mengajar, merapikan bawaannya dan berdiri dari duduknya, "Siapa ketua kelasnya?"
Vani yang baru saja masuk ke dalam kelas, mengangkat tangan kanannya, "Saya?"
"Kembalikan buku paketnya ke perpustakaan"
"Haa?!" Ucap Vani terkejut, "Oke fine, kewajibanku sebagai ketua kelas"
"Pelajaran akan kita sambung minggu depan" Ucap guru sembari berjalan menuju pintu kelas
"Terimakasih bu" Seru siswa di kelas
Vani mengumpulkan buku paket dari seluruh meja di kelasnya dan menumpuknya menjadi satu, "Jirr, banyak kali!" Ia mengamati siswa lain di kelasnya, ('Gaada yang mau bantu apa?') Ia menoleh ke arah bangku tempat duduk Agnes, namun Agnes tidak ada di tempatnya ('Hiyaa, bolos nggak ngajak ngajak')
"Yah.. Mau gimana lagi" Ucapnya pasrah. Ia mengangkat tumpukan tinggi buku paket seorang diri dan membawanya keluar dari kelas. Ia berjalan menelusuri lorong kelas dengan pandangannya yang terhalangi tumpukan buku yang ia bawa, 'Gini amat'
Di tengah perjalanan, satu buku teratas yang ia bawa jatuh ke lantai, "Yah yah, nyusahin!" Ia terlihat kesusahan mencoba menggapai buku yang jatuh itu. Seseorang mengambilkan buku itu dan menumpuknya di tempat semula, "Oh makasih" Ucap Vani. Ia tidak dapat melihat siapa orang yang mengambilkannya buku itu karena terhalang tumpukan buku yang ia bawa
Tiba tiba orang itu mengambil alih tumpukan buku yang ia bawa dan hanya menyisakan satu buku terdasar. Vani terkejut karena beban yang ia bawa berubah, "Heh?"
Ia melihat orang yang mengambil bukunya sudah berjalan meninggalkannya, ia segera menyusulnya dan berjalan di sampingnya, "Heh? Baik amat, udah nggak tuli?"
"Tugasku" Ucap Evano cuek
"Bilang aja mau bantu"
"Terpaksa"
"Ngga ikhlas nih?" Tanya Vani
__ADS_1
"Hmm" Gumam Evano. Ia menghentikan langkahnya, "bawa seperempatnya"
Vani mengangkat satu buku yang ia bawa dan menunjukkannya, "Aku udah bawa ini, buruan jalan" Ia berjalan mendahului Evano menuju Perpustakaan Sekolah
Sesampainya di perpustakaan, Vani menghampiri meja penjaga perpustakaan, "Kak, balikin buku" Ucapnya sembari meletakkan buku yang ia bawa di atas meja
"Kartu peminjamanmu?" Tanya penjaga perpustakaan
"Ha? Ngga ada"
"Nggak kamu bawa? Bawa lagi bukunya, kembalikan besok saat kamu membawa kartu pinjaman siswa"
"Masalahnya aku nggak punya yang begituan"
"Bagaimana caramu meminjam buku ini sebelumnya? Apa kamu ambil tanpa mengurus peminjamannya?"
"Ha? Aku ngga pinjem apa apa, cuma disuruh balikin buku ini kesini"
"Bilang ke orang yang suruh kamu balikin buku buat balikin bukunya sendiri. Kamu jangan mau di paksa orang buat nurutin kemauannya, jangan mau di tindas. Jangan takut, bilang ke kakak siapa orangnya"
"Disuruh guru? Kenapa nggak bilang dari awal" Ucap penjaga perpustakaan
Evano sampai di perpustakaan dan meletakkan tumpukan tinggi buku yang ia bawa di atas meja, "Nah, Ini sisanya" Ucap Vani
"Kamu cuma bawa satu buku? Sisanya segini banyaknya?" Tanya penjaga perpustakaan
"Iya, tadinya aku doang yang bawa. Gatau kesambet apa, tiba tiba dia bantuin" Ucap Vani
"Terpaksa" Ucap Evano. Ia berbalik dan melangkah pergi dari perpustakaan
"Thanks woy!" Seru Vani
"Hust.. Jangan keras keras" Ucap penjaga perpustakaan
"Hehe" Vani tertawa kecil
"Pacarmu dingin banget ya, tapi dia perhatian"
__ADS_1
Vani terkejut mendengar apa yang penjaga perpustakaan katakan, "Pacarku? Kapan aku punya pacar?!"
"Yang barusan bukan?"
"Ya elah, dia mah wakilku. Namanya, em.. Lupa, eh gatau" Ucap Vani bingung, ('Hmm.. Namanya siapa ya? Aku belum pernah tau. Bodoamat, dia kan wakilku')
"Kakak kira pacarmu, tanda tangan disini" Ucap penjaga perpustakaan sembari memberikan sebuah pulpen pada Vani
"Nggak usah kak, tanda tangan udah nggak jaman sekarang, foto aja" Tolak Vani
"Foto?" Tanya penjaga perpustakaan
"Kalau foto kan ntar kakak bisa cetak trus pajang di kamar"
Penjaga perpustakaan memasang ekspresi datar, "Kenapa kakak harus pajang fotomu dikamar kakak?"
"Biasanya gitu kan? Kalau nge-fans ama orang kan pasang poster fotonya di kamar banyak banget"
"Kamu ngomongin apa si? Kakak cuma minta tanda tangan sebagai bukti pengembalian buku"
"Oh, bilang dong dari awal. Gimana si!" Ucap Vani sembari menandatangani buku di depannya
"Bhaks, ahahaha" Penjaga perpustakaan tertawa
Vani menaikkan padangannya dan memasang ekspresi datar, "Jangan ketawa keras keras di perpus, nggak ada yang lucu juga"
"Ahahaha, habisnya kamu bisa se pd itu bilang orang lain nge-fans sama kamu"
"Emang banyak yang nge-fans ama aku, udah biasa begini" Ucap Vani
"Udah biasa malu maluin diri?" Tanya penjaga perpustakaan
Vani memasang ekspresi datar, 'Yee.. Bngsad*'
"Eh? Kamu bilang apa barusan?"
"Au ah, balik kelas. Bye bye" Ucap Vani sembari melangkah pergi dari perpustakaan. Ia kembali ke kelasnya
__ADS_1