
Vani dan Kaituo masuk ke dalam mobil. Hide yang duduk di kursi kemudi menoleh ke arah mereka, "Tuan Kaituo, kemana saya harus mengantar kalian?" Tanyanya
"Makam" jawab Kaituo singkat
"Ahaha.. tuan Kaituo bercanda ya" ucap Hide sembari tertawa kecil
"Serius, ke makam" ucap Kaituo
"Maaf atas kelancangan saya" ucap Hide yang tiba-tiba menghentikan tawanya
"Ayo berangkat" ucap Kaituo
"Baik tuan" ucap Hide. Ia melajukan mobil itu menuju pemakaman, "Puftt" Vani tertawa kecil melihat tingkah Hide
Kaituo menoleh ke arah Vani, "Kamu tadi bercanda kan soal pergi ke negara C?"
"Engga, aku emang mau ke sana. Aku mau ketemu temen gameku sama sekalian ketemu Khakim" jawab Vani
"Kenapa nggak bilang sebelumnya? Mau ke sana pakai apa coba?" Tanya Kaituo
"Pesawat, ya kali jalan kaki" ucap Vani
"Pesawat siapa?" Tanya Kaituo
"Kamu yang siapin" ucap Vani
"Kamu pikir naik pesawat bisa seenak jidat kapan aja? Pesawat pribadi juga harus diatur waktunya, ngga bisa sembarangan" ucap Kaituo
"Disini banyak pesawat punya mama papa, tinggal pake kan" ucap Vani
"Iya tahu punyamu banyak, tapi nggak bisa kalau dadakan begini. Kita nginep di rumahku semalam" ucap Kaituo
"Emang ngga bisa ya kak Hide?" Tanya Vani
"Bisa nona Vani, saya bisa mengatur jadwal keberangkatan tercepatnya" jawab Hide. Kaituo terlihat sedikit kesal melirik ke arah Hide, ("Apa saya salah menjawab jujur pada nona Vani?") Batin Hide resah
"Kita aja belum ketemu orang tuaku" ucap Kaituo
"Ngapain?" Tanya Vani
"Ngapain kamu bilang? Kamu nggak mau ketemu orang tuaku?" Tanya balik Kaituo
"Aku ngga suka main ke rumahmu, di sana aku harus bersikap sopan, ngomong sopan juga. Ga bebas" jawab Vani
__ADS_1
"Gitu kah? Mereka tetap orang tuaku" ucap Kaituo yang terlihat sedikit sedih
"Ee.. abis dari negara C kita pulang kesini lagi deh. Aku nginep di rumahmu beberapa hari, gimana?" Tawar Vani
"Beberapa hari? Kamu yakin?" Tanya Kaituo
"Of course, aku coba adaptasi di rumahmu" jawab Vani
"Oke deal, kamu sendiri yang bilang" ucap Kaituo senang
"Em.. maaf tuan Kaituo, pesawat ke negara C nya jadi digunakan?" Tanya Hide menyela
"Iya, siapin aja secepatnya" ucap Kaituo senang
"Baik tuan"
Sesampainya di area pemakaman, Kaituo membuka pintu dan keluar dari mobil, "Tunggu di sini sebentar" ucapnya
"Ok" ucap Vani singkat. Kaituo pergi meninggalkan mobil itu untuk mencari sesuatu. Vani dan Hide hanya terdiam duduk di dalam mobil. Hide mencoba mengajak Vani untuk mengobrol agar suasana tidak menjadi canggung, "Sudah satu tahun lebih ya sejak kepergian orang tua nona Vani" ucap Hide
"Heh? Satu tahun?" Ucap Vani terkejut
"Nona Vani tidak mengingatnya?" Tanya Hide
"Ingat kok ingat. Oh ya, apa kak Hide dulu kenal orang tuaku?" ucap Vani
("Aku pikir mereka cuma sibuk kerja") batin Vani, "Oh ya, kak Hide. Kalau nyumbang-nyumbang gitu gimana caranya?" Tanyanya
"Bisa dalam berupa uang atau barang, makanan juga bisa. Nona Vani tertarik untuk membantu orang-orang yang membutuhkan?" Ucap Hide
"Kenapa engga?" Tanya Vani. Hide tersenyum senang mendengar jawaban dari Vani
'tok.. tok' kaituo yang baru saja kembali, mengetuk kaca mobil beberapa kali, "Van, ayo keluar" ucapnya
"Ya udah, Kak Hide tunggu sini ya" ucap Vani
"Baik Nona" ucap Hide
Vani keluar dari mobil dan menghampiri Kaituo. Kaituo membawa bunga di tangannya, ia memberikannya pada Vani, "Ambil ini" ucap Kaituo
"Kamu kasih aku bunga? Kenapa bunganya orang mati? Kamu mau aku mati?" Tanya Vani
"Buat di kuburan b*doh" ucap Kaituo
__ADS_1
"Ini bunga apaan lagi, kan biasanya mawar putih" ucap Vani
"Kata penjual bunganya itu yang bagus. Trus kamu maunya bunga apa? Biar aku beliin lagi" Ucap Kaituo
"Ya udah kalau bagus, ini aja. Tapi seingatku, di rumah duka dulu banyak mawar putih, katanya kesukaan mamaku" ucap Vani
"Iya, ku beliin" ucap Kaituo
"Ngga usah deh, ini aja. Bagus kok, apalagi warna biru"
"Katamu kesukaan mamamu mawar putih, kok sekarang biru" ucap Kaituo
"Aku suka warna biru" ucap Vani
"Nggak nanya kesukaanmu. Ayo ke makam sekarang" ajak Kaituo. Vani mengangguk kecil dan Kaituo menggandengnya melewati makam-makam lain menuju ke makam orangtua Vani. Langkah Kaituo terhenti tepat di depan dua makam orangtua Vani
"Ini? Kita ngga salah makam kan?" Tanya Vani
"Kamu bisa baca nggak?" Tanya balik Kaituo
Vani memperhatikan sekelilingnya, "Kok makamnya bersih sih, trus kita bersihin apa dong" ucapnya
"Kim udah ke sini, mawar itu juga pasti dia yang bawa. Kalau kebersihan, ada petugas pemakaman yang setiap minggu bersihin" ucap Kaituo
"Tapi makam lain banyak rumput sama daun" ucap Vani
"Ya udah, kamu yang bersihin" ucap Kaituo
"Oh oke" ucap Vani. Ketika ia hendak menghampiri makam lain, Kaituo menggapai tangannya untuk menghentikan langkahnya, "Kamu kesini mau ketemu orangtuamu apa mau jadi tukang bersih bersih sih?" Ucap Kaituo
"Ketemu mama papa lah" ucap Vani. Ia menurunkan pandangannya, ("Aku ngga tahu harus ngomong apa di depan mereka") sambung batinnya
Kaituo menekuk lututnya dan menarik tangan Vani agar berlutut juga di depan makam, "Taruh bunganya disitu" ucap Kaituo
"Hmm.. iya" ucap Vani. Ia membagi sekantung bunga itu menjadi dua dan meletakkannya di makam kedua orang tuanya. Ia kembali ke sisi Kaituo
"Kamu nggak mau doa buat mereka?" Tanya Kaituo
"Doa lah!" Ucap Vani ngegas. Mereka berdua terdiam dan mulai mendoakan kedua orangtua Vani. Selesai berdoa, Vani terlihat begitu sedih memperhatikan kedua makam orangtuanya di hadapannya. Kaituo berdiri dari duduknya, "Udah cukup, ayo pergi" ajak Kaituo. Vani terdiam tidak mendengarkannya, "Van, ayo pergi"
Vani berdiri dari duduknya dan berjalan mendahului Kaituo pergi dari makam orangtuanya. Kaituo mengikutinya dari belakang. Di tengah perjalanan, Kaituo kembali menggapai tangan Vani untuk menghentikan langkahnya, "Eh.. Bukan kesitu" ucap Kaituo
"Iya tau" ucap Vani tanpa menoleh ke arah Kaituo
__ADS_1
"Kamu mau nangis ya" ucap Kaituo
Vani menoleh ke arah Kaituo dengan mata yang berkaca kaca, "Mana ada!" Ucapnya