
"Oh.. aku juga potong rambut" ucap Vani, "Dimana pegawai lainnya?"
"Cuma dia" ucap Jack
"Heh? Cuma seorang?"
"Ahahhaa.. ini cuma salon kecil, nggak mungkin bisa bayar gaji buat pegawai" ucap barber
"Tenang aja, kemampuan kak barber ini setara sama barber barber kelas atas" ucap Jack
"Ahahaha.. omong kosong Jack" tawa barber, "Jadi.. siapa yang mau duluan?"
"Aku aja" ucap Jack. Ia duduk di kursi cukur
"Mau yang gimana? Dipendekin?" Tanya barber
"Jangan" ucap Jack. Ia menyatukan sedikit rambut di kepala bagian kanannya, "Cat warna merah dibagian ini"
"Eh?" Ucap barber heran, "Serius cuma ini?"
"Iya"
"Um.. baiklah kalau kamu yakin" ucap barber. Ia pergi mengambil alat yang dibutuhkan dan kembali untuk mengerjakan keinginan Jack. Lima menit kemudian, proses penambahan warna pada rambut Jack selesai, "Tunggu dua puluh menit sebelum bilas"
"Oke" ucap Jack. Ia berdiri dari duduknya dan berpindah duduk ke kursi tunggu
"Eh? Udah?" Ucap Vani heran
"Gantian kamu sana" ucap Jack
"Kamu cuma cat rambut secuil doang?"
"Keren nanti jadinya"
"Aneh" ucap Vani heran. Ia pergi duduk ke kursi cukur
"Kamu mau potongan yang gimana?" Tanya barber
__ADS_1
"Bikin bob poni aja" ucap Vani
"Nggak sayang rambutnya udah panjang begini? rambutmu bagus gini loh"
"Ngga papa, ntar juga tumbuh lagi"
"Iya deh" ucap barber. Ia mulai memangkas rambut Vani sedikit demi sedikit
Selesai memangkas rambut, Vani tidak sengaja melihat pantulan Jack dari cermin di hadapannya, "Oh.. bagus juga keknya" ia menoleh ke arah barber, "Bisa warnain kayak punya Jack ngga? tapi warna biru"
"Bisa dong" ucap barber. Ia melanjutkan pekerjaannya
30 menit kemudian, mereka berdua selesai dari salon rambut dan sedang berada di perjalanan dengan mobil. Jack memulai percakapan lebih dahulu
"Aku antar kamu pulang" ucap Jack
"Pulang?" Tanya Vani
"Emang mau kemana?"
"Aku ada urusan penting habis ini"
"Urusan apa? Dimana?"
"Aku ada kerja kelompok sama temen kampusku, nggak mungkin kan kamu ikut"
"Ngga ada yang ngga mungkin. Jadi, aku ikut. Sekalian kenalan sama temenmu"
"Kenapa seharian ini kamu jadi nempel sama aku? Apa kamu nggak punya aktifitas lain?"
"Kita kan sepupu.. Emang ngga boleh mempererat hubungan persepupuan diantara kita?"
"Omong kosong" ucap Jack, "Kamu begitu pasti ada maunya kan? Bilang aja"
"Ngga ada, serius ngga ada"
"Nggak percaya"
__ADS_1
"Seriusan!" Ucap Vani ngegas
"Kamu harus pulang"
"ngga mau! lagian ini juga mobilku, kamu kan cuma numpang!"
'citt..' Jack langsung menginjak pedal rem dan menghentikan mobil itu. Ia tidak berekspresi sama sekali dan menoleh ke arah Vani, "Numpang? haha.. iya, makasih tumpangannya" Ia langsung melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil begitu saja
'brakk' Ia membanting pintu saat menutupnya
"Ga seru baperan!" Seru Vani. Pandangannya tertuju pada kursi kemudi yang kosong, "Hehe.. not bad" Ia langsung berpindah duduk ke kursi kemudi dan menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya
'brooommm' Mobil itu melaju pergi meninggalkan Jack
Jack terdiam melihat mobil itu menjauh darinya. Ia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Vani
'tut..'
'apaan?' tanya Vani dari telepon
"Kenapa aku ditinggal!!" Teriak Jack
'heh? Aku kira ngambek beneran!'
"Balik sini! Nggak tahu diri amat! Kenapa kamu nggak keluar kejar aku?!"
'ngapain kejar kamu segala. aku dah terlanjur jauh, kamu cari taxi aja pulangnya'
"Dasar!!" Ucap Jack kesal
'tut.. tut.. tutt' Ia langsung mengakhiri panggilannya. Sejenak ia teringat sesuatu, ("Oh.. bagus juga dia pergi, aku jadi bisa ke markas") batin Jack dengan senyuman kecil. Ia segera mencari transportasi umum untuk pergi ke markas CRIFITY
Sementara itu, Vani yang cukup lama tidak mengendarai mobilnya merasa begitu senang bisa mengendarainya dengan bebas. Ia terus menambah kecepatan di sepanjang jalan. Di jalanan besar yang cukup senggang lalu lintasnya, ia mendahului satu persatu kendaraan yang berada di depannya
Hingga di suatu lampu merah..
'pritttttt' Suara peluit yang nyaring dan panjang membuat Vani terpaksa menghentikan mobilnya. Seorang polisi berdiri tepat di depan mobil Vani untuk berjaga jaga supaya mobil itu tidak bisa kabur. Seorang polisi lain, mengetuk kaca pintu mobil Vani, "Selamat siang menjelang sore, bisa tolong di turunkan kacanya" ucap seorang polisi
__ADS_1