Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter186


__ADS_3

Pukul 13.00, Vani selesai mengisi ketiga soal ujian sekolahnya. Ia mengantar Azka yang hendak pulang sampai di depan pintu rumahnya, "Bye bye pak Azka" ucap Vani sembari melambaikan tangannya


"Hm" gumam Azka mengangguk. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya pergi meninggalkan rumah Vani. Vani tersenyum senang melihat Azka menghilang dari pandangannya. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Ketika hendak menaiki anak tangga, langkah Vani terhenti ketika ia melihat Jack keluar dari kamarnya. Vani kembali turun dan berlari menelusuri lorong rumahnya menghampiri Jack, "Jack!" Panggil Vani


Jack menoleh ke arahnya, "Kenapa?"


"Tadi ngga sempet ngobrol di ruang makan, soalnya Khakim keburu dateng. Ngobrol yok" ajak Vani


"Ajakin Kaituo aja sana, aku mau kerjain tugas" ucap Jack


"Mana bisa, aku kan mau tanya tentang kamu. Masa tanya ke Kai, mana dia tau"


'huhhh..' Jack menghela nafasnya, "Tanya apa?"


"Semalem kamu ngga pulang kan?"


"Aku tidur di markas"


"Sama yang lain?"


"Enggak, yang lain pulang duluan. Soalnya aku sampe larut ikut rapat ketua"


"Bahas apaan?"


"Kepo"


"Aku kan wakil ketua, harus tau juga dong"


"Cuma bahas masalah biasa, kamu nggak perlu tau. Udah lah, main gih. Ujianmu kelar kan?"


"Oiya! Aku mau keluar, bye bye!" ucap Vani teringat. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Vani membuka koper pemberian Belz dan mengambil dua buah pistol listrik. Ia membawanya keluar dari rumah

__ADS_1


Vani berjalan menelusuri trotoar sembari memainkan pistol ditangannya, ("Kata kak Belz bakalan ada penjahat muncul. Di mana ya mereka, aku pengen coba pistolnya") batinnya senang. Vani menaikkan pandangannya dan berjalan sembari mengamati wilayah sekitarnya, ("Gaada yang mencurigakan, mana coba penjahatnya")


"Eh.. kamu tunggu" ucap seseorang


Vani menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Ia melihat seorang polisi yang sedang berpatroli seorang diri berdiri tidak jauh darinya, "Oh.. ada apa?" Tanya Vani


"Serahkan pistol ditanganmu" ucap Polisi


"Punyaku ini, beli sendiri kalau mau"


"Saya tahu motif kamu, kamu mau palak orang pakai pistol mainan itu kan"


"Yee.. engga ya"


"Trus kenapa bawa bawa begituan keluar rumah? Mengaku saja kamu"


"Suka suka saya lah"


"Jangan jangan" ucap Vani. Ia menggenggam kedua pistol itu di masing-masing tangannya dan mengarahkannya pada polisi itu, "Lagian ini kan cuma mainan", ("Hehe.. kelinci percobaan nih") batinnya senang. Vani tersenyum menyeringai, "Have a good dream!" Ia menarik kedua pelatuk pistol bersamaan


'zzzztttt....' Kilatan listrik terlihat merambat ke arah polisi itu. Dalam sekejap, badan polisi itu roboh ke trotoar


"Hah!" Vani terkejut melihat akibat dari tindakannya, "Beneran pingsan!" Ia mengamati sekitarnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia langsung menghampiri polisi itu dan menyeretnya kepinggiran trotoar, "Maap pak, ga sengaja" ucapnya. Ia langsung bergegas pergi dari tempat itu


Setelah berlari cukup jauh, Vani mulai berjalan dengan langkah biasa. Ia menyembunyikan kedua pistolnya di dalam saku jaketnya, ("Berapa lama polisi itu pingsan? Satu tembakan kata kak Belz setengah jam, dua jadi satu jam atau masih tetap setengah jam? Hum.. tapi sayang banget ngga ada sound effectnya, harusnya kan dor gitu. Eh.. tapi, bagus juga ya.. kan jadi ngga ketauan kalau lagi nembak orang. Barang buatan perusahaan kak Belz emang yang terbaik")


Saat Vani melewati daerah yang cukup sepi, ia melihat seorang wanita yang sepertinya sedang mempertahankan tasnya dari laki-laki berbaju serba hitam yang terlihat ingin merampok tasnya. Vani mengeluarkan salah satu pistolnya dan menatapnya, ("Eh.. kalau pakai ini curang dong, beraninya dari belakang. Ga seru kalau musuh langsung pingsan. Kalau aku lari ke sana trus tendang orang itu, udah bosen juga") batinnya bimbang


'TOLONG!!!' Seru wanita itu


Vani tersadar dari lamunannya dan kembali menoleh ke arah wanita itu, ("Tolong ngga ya") batinnya. Ketika matanya menjelajah, ia tidak sengaja melihat mesin minuman tidak jauh dari tempat wanita itu. Vani mengeluarkan handphonenya dan berjalan menghampiri mesin minuman itu. Vani tidak sedikit pun menoleh ke arah mereka. Ia berpura pura menelepon sembari memilih minuman pada mesin minuman, "Hallo komandan. Saya sudah di tkp, anggota lain juga sudah tersebar di titik-titik penting. Penyergapan bisa segera dilaksanakan setelah instruksi dari komandan" ucapnya. Tangan kirinya masuk ke dalam saku jaket dan tanpa sengaja pistol di sakunya terjatuh ke trotoar

__ADS_1


'klotak..'


Laki laki dan wanita yang sedang berebut tidak jauh darinya langsung terhenti dan menoleh ke asal suara. Laki laki itu tampak terkejut melihat sebuah pistol yang tergeletak di trotoar, ia langsung melepaskan genggamannya dan lari meninggalkan tempat itu secepat kilat


Wanita itu tampak lega memeluk tasnya yang berharga baginya. Ia tersenyum kecil sembari menoleh ke arah Vani, "Terimakasih banyak dek" ucap wanita itu


"Eh?" Vani memungut kembali pistol yang sudah ia jatuhkan. Ia terheran ketika ia tidak melihat keberadaan laki-laki sebelumnya, "Yah.. kok dah pergi, kan baru pemanasan. Padahal udah mikir kata kata yang bagus loh"


"Adek anggota polisi?" Tanya wanita itu


"Bukan bukan, tadi bercanda doang. Soalnya lihat kakak rebutan tas sama orang tadi, tapi gaada yang menang menang"


"Untung saja orang tadi nggak bawa senjata tajam, saya bisa terus pertahankan tas saya"


"Tenaga kakak banyak juga, lawan cowok tapi tetap menang"


"Tadi kalau adek nggak dateng, mungkin dia yang dapet tas saya. Sekali lagi terimakasih dek"


"Ngga masalah"


"Itu pistol mainan kan?"


"Iya, mana mungkin aku punya pistol asli"


"Ahahaha.. benar juga"


"Yaudah kak, aku duluan. hati hati ya"


"Iya dek, makasih ya"


"Iya, bye bye" Vani berjalan melewati wanita itu dan melangkah pergi meninggalkannya, ("Ga asik amat penjahatnya")

__ADS_1


__ADS_2