
Di Kelas XII MIPA A,
selama pelajaran berlangsung setelah jam istirahat kedua, Agnes masih tidak terlihat di bangkunya. Vani tidak dapat menghubunginya dan menemukannya. Sampai bel pulang sekolah berbunyi, Agnes belum menunjukan batang hidungnya sama sekali. Vani merasa dirinya sudah tidak dianggap oleh temannya itu, ia hanya memasang ekspresi datar di sepanjang pelajaran sebelumnya
Setelah siswa siswi lain dikelasnya keluar, Vani menggendong tasnya dan menghampiri bangku Agnes. Ia tersenyum kecil karena sebuah ide melintas di pikirannya, "Muehehew"
"Hufftt.. Capek banget dong" Setelah melakukan sesuatu pada tas Agnes, Vani memutuskan untuk pulang ke rumahnya tanpa terlebih dahulu menemui ketiga orang temannya. Ia pulang dengan berjalan kaki melewati gang gang kecil
Sebelumnya di kantor polisi, Sony dan Azka duduk menghadap dengan seorang komandan polisi
Azka masih terlihat bingung dengan apa yang sedang menimpanya, "Sebenarnya apa salah saya hingga saya di bawa kesini?"
("Hmm.. Dia masih tidak mengakui kesalahannya ya") batin Sony
"Barang bukti sudah ditemukan, alamat server sudah terlacak dan terpusat di laptop ini. Akui saja apa motif yang anda gunakan" Ucap komandan polisi
Azka memasang ekspresi datar, "Saya suka pakaian motif batik"
"Jangan bercanda! Katakan motif apa sebenarnya yang anda gunakan"
Azka terlihat sangat kesal, "Motif apa?! Masalah apa?! Apa?! Hah?! APAA?!"
Komandan polisi menoleh ke arah bawahannya yang berdiri di belakangnya, "Ambilkan air mineral"
"Baik" Bawahannya mengangguk dan pergi mengambil air mineral. Ia kembali dan memberikannya pada Azka
__ADS_1
"Minum dulu, katakan saja secara pelan pelan" Ucap komandan polisi
Azka mengambil minuman itu dan meneguknya, ia meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Emosinya terlihat lebih stabil
"sekarang jelaskan motif anda melakukan peretasan cctv di mall City dan kenapa anda menghapus beberapa rekamannya?" Tanya Komandan polisi
"Mall City? Mall terkenal itu? Woah.. Kapan kapan saya mau ke sana" Ucap Azka sembari membayangkan dirinya berada di mall itu
("Hmm.. Dia bersikap polos seolah belum pernah ke mall itu") batin Sony
"Jangan berbelit belit, katakan saja motifnya" Ucap Komandan polisi
Azka bersikap kalem, "Hum.. Kata bapak saya melakukan peretasan kan? Peretasan sama kan sama Pembajakan?"
("Hmm.. Baru kali ini ada hacker tidak mengetahui istilah peretasan, atau dia berlagak polos lagi?") batin Sony
"Seumur umur saya belum pernah melakukan itu! Pembajakan apalah! Kalau bajak sawah saya pernah! Maklum kan orang tua saya tinggal di desa!" Jelas Azka
("Dia mencoba menjadi polos di depan polisi") batin Sony, "Tenang Pak Azka, dari sini biar saya yang mengurusnya"
Azka menoleh ke arahnya, "Darimana anda tahu nama saya?! Trus! Siapa anda?! Kenapa mengikuti saya dari sekolahan sampai sini?!"
"Oh maaf, saya belum memperkenalkan diri. Saya pengacara Sony, murid dermawan anda yang mengirim saya untuk menemani anda disini" Ucap Sony
("Murid dermawan?") Azka mencoba mengingat sesuatu. Hanya Vani yang terlintas di pikirannya karena sebelumnya ia memberikan hormat dan senyuman aneh padanya sebelum ia di bawa ke kantor polisi, 'Pasti Anak itu!'
__ADS_1
"Saya yang akan mengurusnya dari sekarang. Anda bisa pulang ke rumah dengan tenang. Pekerjaan anda sebagai seorang guru saya jamin tidak akan terganggu" Ucap Sony dengan senyum kecil di wajahnya
("Sepertinya pengacara ini tau kebenarannya bahwa ini bukan salahku, aku akan mencoba mempercayainya. Aku akan menanyakannya pada anak itu besok!") batin Azka. Ia berdiri dari duduknya, "Tolong selesaikan kesalahpahaman ini" Ucapnya sembari menundukkan badannya sejenak, "Saya akan pulang dan menunggu berita baiknya" Ia melangkah pergi dari kantor polisi untuk kembali ke sekolahan
"Kesalahpahaman? Sampai akhir pun dia tidak mau mengakui kesalahannya" Ucap Sony. Ia menoleh ke arah komandan polisi di depannya dan memasang senyuman kecil, "Mari selesaikan masalah ini secepatnya"
Di lorong Kelas XII,
Agnes, Putri dan Awani sedang berjalan kembali menuju kelas mereka untuk mengambil tas
"Vani nggak baca chatnya? Udah di suruh bolos ke kantin, nggak dateng tu anak" Ucap Agnes
"Iya, tumben dia betah di kelas" Ucap Awani
"Nggak mungkin di kelas, pasti dia bolos sendirian" Ucap Putri
"Yoi, pasti itu!" Ucap Agnes
Di depan kelas XII MIPA B, mereka terhenti, "Bentar Nes, kita ambil tas" Ucap Putri sembari melangkah masuk ke dalam kelasnya
"Aku sekalian ambil tas di kelas, biar cepet" Seru Agnes
"Iya!" Seru Putri dari dalam kelas
Agnes pergi ke kelasnya untuk mengambil tas. Sesampainya di sana, ia terkejut tidak melihat tasnya berada di tempatnya. Ia hanya melihat sebuah kertas kecil di atas mejanya dan mengambilnya. Awani dan Putri datang menghampirinya setelah mengambil tasnya. Mereka merasa penasaran dengan apa yang sedang Agnes bawa
__ADS_1
"Apaan tu?" Tanya Awani