Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter155


__ADS_3

Agnes berhenti berlari tepat di hadapan Vani. Vani hanya terdiam menunggu Agnes mengatakan sesuatu. Agnes memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya, "Vani! Maaf!" Ucapnya bersungguh sungguh


Vani tersenyum kecil mendengarnya, "Ehh.. maaf? buat apa?"


Agnes membuka matanya dan menaikkan pandangannya, "Buat yang sebelumnya, maaf"


"Sebelumnya?" Tanya Vani dengan ekspresi berpura pura bingung


("S*alan, dia sok polos nggak tau lagi! Kan jadi malu minta maafnya. Bisa bisa diketawain, trus dikira lebay lagi") batin Agnes resah, "Yaa.. maaf aja" ucap Agnes sembari memalingkan pandangannya


"Dih.. ga jelas" ucap Vani


Agnes meraih tangan Vani dan menggandengnya, "Ayo ikut aku"


Vani langsung menarik tangannya, "Eh.. kemana? Aku mau pulang, ngga masuk gedung lagi"


"Ke ruang siaran, ayo!" Ajak Agnes


"Ngapain kesana"


"Aku mau umumin ke semuanya. Kalau yang terlibat pembunuhan itu aku bukan kamu"


"Jangan dong. Sia sia ntar pengorbananku selama ini. Toh yang lain juga bentar lagi paling lupa ama masalah ini"


"Nggak papa, kalau aku umumin kebenarannya. Kamu bisa balik lagi belajar disekolah"


"Aku daring bukan karena masalah ini. Kemarin aku bikin masalah sendiri sama anak ips, aku yang serang duluan"


"Oh.. pantes aja kemarin jalan sama pak Azka muka dah babak belur"


"Hmm.. kamu tadi pagi boong ya? Kamu lihat kan?"


"Hehe, iya lihat. Di depan muka, masa nggak lihat sih. Aku kan nggak buta"


"Yee.. dasar"


"Tapi.. kalau aku tetap diam, kamu selamanya bakalan di cap jelek sama orang orang"

__ADS_1


"Sans aja kali. Udah lah, lupain aja"


"Yaudah kalau itu maumu. Em.. tapi aku ada satu permintaan"


"Maaf, ngga terima permintaan"


"Please lah Van"


"Apaan?"


"Janji, jangan nolak"


"Apaan dulu?"


"Janji dulu"


"Janji"


"Yosh.. ayo kerumahku"


"Aku mau ngaku ke mama sama papa soal kejadian ini. Biar mereka tahu, trus nggak ngelarang aku main sama kamu lagi"


"Kamu yakin? Emang mentalmu siap?"


"Siap, aku siap sama resikonya"


"Hmm.. oke, aku ikut kamu. Pen liat kamu dimarahin"


"ye.. anjirr"


"Ayok buruan" ajak Vani sembari berjalan pergi meninggalkan Agnes


Agnes mengejar Vani dan menyeimbangi langkahnya. ia menoleh ke arah Vani, "Lewat tembok belakang?"


"Samping aja biar cepet"


"Gaskuen"

__ADS_1


Mereka menuju dinding tembok samping sekolah dan memanjat keluar tembok. Setelah itu, mereka berdua berjalan menyelusuri gang menjauh dari area sekolah, "Mau naik apa kerumahmu?" Tanya Vani


"Jalan aja sehat" jawab Agnes


Vani menghentikan langkahnya, "Matanya, mending pulang sih"


"Ahahahaa.. bercanda bercanda" ucap Agnes sembari tertawa, "Di pinggir jalan depan situ ada tempat sewa sepeda, kita naik sepeda aja"


"hmm.. boleh lah"


Mereka berdua menuju tempat penyewaan sepeda yang Agnes maksud. Agnes mengeluarkan handphonenya dan men-scan code QR yang ada pada gembok sepeda. Setelah selesai, gembok itu terbuka dan sepeda bisa langsung digunakan


"Kamu sering pinjem sepeda di tempat ginian? Bayar berapa?" Tanya Vani


"Bayarnya pakai saldo yang udah di top up di aplikasinya, dua belas jam lima puluh ribu. Aku pernah coba sebelumnya, gara gara penasaran. Tapi sepedanya nggak aku pakai"


"Biar pas sama orang lain mau pinjem sepeda ngga keliatan kudet, ya ngga?"


"Benar sekali wkwk. Yaudah yok, kamu depan"


"Kamu bonceng?"


"Iya"


"Enak aja jirr" ucap Vani. Ia menaiki sepeda itu dan langsung mengayuhnya pergi meninggalkan Agnes, "Kamu bawa satu lagi" ucapnya tanpa menoleh


"Woii!" Seru Agnes. Ia meng-scan code QR sepeda lain dan segera mengejar Vani dengan sepedanya. Vani memperlambat ayuhan sepedanya agar Agnes lebih mudah menyusulnya


"Woii" panggil Agnes


Vani menoleh ke arahnya, "Lamban"


"Kamu yang kecepetan. Dah lama aku nggak naik beginian, jadi cepet capeknya"


"Ngga nanya" ucap Vani, "Yang telat sampai rumahmu harus balikin sepedanya!" sambungnya sembari mempercepat ayuhan sepedanya meninggalkan Agnes


"Curang woii!" seru Agnes

__ADS_1


__ADS_2