
Lama kelamaan, Vani merasa terganggu dengan tatapan tatapan orang orang kantin. Ia berdiri dari duduknya dan menatap balik satu persatu orang yang menatapnya, "WOY!" Teriaknya. Saat itu, seluruh kantin menjadi hening dan pandangan mereka tertuju padanya
"AKU TAU AKU POPULER, CANS, PINTER, KEREN. TAPI MIKIR LAH, JANGAN TIAP DETIK GANTIAN LIAT AKU. GA PUNYA KERJAAN APA? URUS URUSAN KALIAN SENDIRI!" Ucap Vani dengan keras, "Hahhh.." ia kembali duduk di kursinya
Makanan yang Vani pesan jadi dan di antar ke mejanya oleh pelayan kantin, "Ini pesanannya"
"Iya makasih" ucap Vani. Pandangannya kembali menjelajah seluruh kantin, tidak ada seorang pun yang berani menoleh ke arahnya lagi, "Gini kan enak", ("Hmm.. Agnes lama amat ke kantor") batinnya
"Aku boleh duduk?" Tanya seseorang
Vani tidak menoleh ke arah orang itu, "Duduk aja, ini kursi umum" Orang itu duduk tepat di hadapan Vani
"Evano" ucap Vani, "Ada apa?"
"Kamu sendirian makan dua porsi?" Tanya Evano
"Engga, satunya punya Agnes. Dia lagi urus sesuatu"
"Dia bakal dateng?"
"Datenglah, walaupun bel masuk bunyi. Dia pasti bakal kesini, dia kan belum makan pasti"
"Hmm.. baguslah"
"Ada apa emang?"
"Anak anak di kelas minta kamu mengundurkan diri dari jabatan ketua kelas"
"Oh oke, ntar aku temuin wali kelas"
"Kamu serius?"
"Mereka yang pilih aku, mereka juga yang minta aku undurin diri"
"Kamu rela? Aku bisa dukung kamu kalau kamu nggak mau"
__ADS_1
"Ngga masalah. Lagian dari awal jadi ketua kelas, kan cuma iseng doang. Bagus deh, jadi ngga perlu urus urusan kelas kan?" Ucap Vani sambil tersenyum
"Kamu baik baik aja?" Tanya Evano
"Cuma ketua kelas doang, di gaji juga engga" jawab Vani
"Bukan itu"
"Trus?"
"Kamu pasti keganggu sama gosip yang beredar, mau bolos nggak?"
Vani tersenyum senang, "Wihh.. seorang Evano ngajak bolos, momen langka ini"
"Aku serius, ayo bolos. Kita bisa main atau pulang" ucap Evano
"Ngga ah. Kakimu juga baru sembuh kan? Ntar ngerepotin aku lagi"
"Hmm.. yaudah" ucap Evano, "Kamu nggak makan? Udah dingin mienya"
"Ntar tunggu Agnes" ucap Vani
"Jangan, ntar Agnes marah dikira ngga di pesenin. kamu pesen aja sendiri"
"Tiga menit lagi bel masuk, mungkin urusannya masih banyak. Jadi dia nggak keburu kesini, aku aja yang makan"
"Pesen aja gih, aku yang bayarin"
"Aku bukan minta minta!" ucap Evano, "Terserah kamu lah, aku duluan!" Ia berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kantin
Hingga bel masuk berbunyi, Vani belum menyentuh makanannya sama sekali. Perlahan kantin berangsur sepi. Seorang pelayan kantin menghampirinya untuk mengambil mangkuk kotor, "Loh, kok masih utuh? Nggak dimakan?" Tanya pelayan kantin
"Beresin aja" ucap Vani sambil berdiri dari duduknya. Ia berjalan menghampiri penjaga kantin untuk membayar makanannya
Vani berjalan kembali ke kelasnya, ("Kenapa ngga chat sih kalau urusannya bakal lama? Ngeprank aku ya?") Batinnya. Di tengah perjalanannya, ia berpapasan dengan segerombolan siswi yang berjalan bersama memenuhi lorong. Ia mengalah minggir untuk memberikan jalan, namun gerombolan itu terhenti di sampingnya
__ADS_1
"HEH! PEMBUNUH!" ucap seseorang
Vani langsung menoleh ke arahnya, "ngomong ke siapa?"
Orang itu mengalihkan pandangannya, "Hah, siapa lagi pembunuh kalau bukan orang yang berdiri di depanku"
"Pembunuh? Mana?" Tanya Vani sembari menoleh ke belakangnya yang ternyata sebuah tembok
"Kamu t*lol!"
"Ngatain aku?"
"Temen temen lihat, ranking satu seangkatan ternyata t*lol gini" ucap orang itu
"Hahahahaa" orang orang yang datang bersamanya serentak menertawakannya
"Haha, lucu" ucap Vani
'plakk!' Tanpa aba aba, ia langsung menampar keras pipi orang itu
"KAMU!" Ucap geram orang itu
"Kenapa? Cuma tamparan kecil doang sakit? Itu balesan buat yang tadi, yang eee.. kamu bilang pembunuh, sama t*lol. Eh? Harusnya dua kali, iya ngga sih?" ucap Vani sambil tersenyum kecil
"NAJIS, DASAR PSIKOPAT!"
"Yakin ngajak berantem?" Tanya Vani, "Emang siapa kalian?"
"Aku Ratna, adik dari orang yang udah kamu fitnah dan masukin penjara! Mereka semua temen sekelasku dari dua belas ips E yang juga nggak terima sama hal ini"
"Oh, salken Ratna dan teman temannya" ucap Vani ramah, "Eh tapi, aku ga kenal kakakmu. Trus gimana caranya aku fitnah dia?"
"Jangan bohong! Kakakku liput berita tentang pembunuhan yang kamu lakuin! Tapi karena keluargamu kaya! Kamu bisa manipulasi kasus ini dan jadiin kakakku tersangkanya!"
"Ohh.. kakakmu sebar berita hoax trus masuk penjara ya? Kan udah sewajarnya gitu"
__ADS_1
"Kakakku nggak salah! Kamu yang sengaja jebak dia! Aku tahu semua motifmu!"
"Motif apa sih?" Tanya Vani kalem