Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab 100


__ADS_3

Livy memberhentikan mobilnya beberapa meter dari mobil Abio. Wanita itu memperhatikan Abio masuk ke sebuah gedung. Alisnya saling bertaut mengetahui Abio masuk ke sebuah club malam.


"Apa yang ingin dia lakukan?" Livy membuka pintu mobilnya ragu-ragu. "Untuk apa aku masuk ke dalam?" tanyanya di dalam hati. Wanita itu sangat dilema. Dia menutup lagi pintu mobilnya dan duduk manis.


"Tapi aku ingin tahu apa yang dia lakukan di dalam sana." Kali ini Livy telah memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam. Wanita itu segera turun tanpa pikir-pikir lagi. Dia masuk melalui pintu yang tadi dimasuki Abio.


Ketika ingin masuk, tiba-tiba ada pria berbadan tegap menghalangi Livy untuk masuk ke dalam.


"Maaf, Dokter. Anda tidak boleh masuk dengan penampilan seperti ini," ucap salah satu pria.


Livy mengernyitkan dahinya. Ternyata tanpa dia sadari kalau sekarang dia masih memakai baju dinasnya. Wanita itu mengukir senyuman manis berharap dua pria dihadapannya tetap mengizinkannya masuk walau dengan pakaian seperti ini.


"Saya ingin melihat kakak saya sebentar saja. Setelah itu saya akan keluar," ucapnya dengan wajah memohon. Sebenarnya bisa saja dia menghajar dua pria dihadapannya agar bisa masuk ke dalam. Tapi Livy selalu menghindari kekerasan.


"Maaf, Nona. Kami benar-benar tidak bisa memberi izin karena ini peraturan tempat ini. Tolong bantu kami. Kami juga bekerja atas perintah atasan," jawab pria itu dengan wajah serius.


"Baiklah kalau begitu." Livy memutar tubuhnya. "Dari mana aku dapatkan baju ganti?"


Livy kembali ingat dengan baju baru yang pernah di beli dan belum pernah ia kenakan karena terlalu terbuka. Baju itu ada di jok belakang mobil. Dengan cepat Livy berlari ke mobil untuk memeriksa apakah pakaian itu masih ada atau tidak.


Wajahnya berseri ketika melihat paper bag tergeletak di atas jok mobil. Dia mengambil paper bag itu dan memeriksa isi di dalamnya.


"Akhirnya baju ini berguna juga," gumam Livy di dalam hati. Dia mengeryitkan dahinya melihat rok pendek dan baju pendek bertali yang akan mengekspos kulit mulusnya. "Aku tidak mungkin mengenakan pakaian seperti ini." Lagi-lagi Livy ragu untuk mengenakannya.


Mantel bulu berwarna putih yang juga ada di dalam mobil menjadi pilihan terakhirnya. "Sepertinya aku tahu apa yang harus aku kenakan sekarang," gumam Livy dengan senyuman di bibirnya.


***


Club malam itu sangat ramai pengunjung. Abio duduk di sebuah sofa beludru warna merah yang ada di tengah ruangan. Kedatangannya di sambut hangat oleh orang-orang yang ada di sana. Mereka semua kenal dengan Abio. Mereka tahu kalau Abio adalah pria kaya yang tampan. Setiap kali Abio datang, semua orang bisa berpesta karena semua minuman dan makanan akan di bayar oleh Abio.


"Tuan, anda sudah lama tidak datang ke sini. Apa anda tidak merindukan saya?" Seorang wanita berpakaian seksi berwarna merah menyala menghampiri Abio. Wanita itu dengan beraninya duduk di atas pangkuan Abio dan mencium leher pria itu.

__ADS_1


"Kau masih sama seperti terakhir kali kita bertemu, baby. Cantik dan seksi," puji Abio dengan satu kedipan mata.


"Terima kasih, Tuan." Wanita itu mengambil wine yang ada di meja dan memberikannya kepada Abio. Dengan senang hati Abio menerima minuman itu dan meneguknya dengan rakus.


Abio telah memutuskan untuk bersenang-senang malam ini. Dia melupakan semua tentang Livy dan fokus untuk membahagiakan dirinya sendiri. "Menarilah. Aku ingin melihatmu menari," pintar Abio.


"Dengan senang hati, Tuan." Wanita itu beranjak dari pangkuan Abio dan naik ke atas meja. Dengan eksotisnya wanita itu menari dan menggoda pria-pria tampan yang ada di club tersebut.


"Kau memang sempurna!" Abio mengeluarkan segepok uang dan melemparnya ke atas. Uang itu berterbangan hingga membuat semua orang yang ada di club itu berebut untuk mengutipnya.


Abio tertawa senang dan meneguk lagi minuman beralkohol yang dihidangkan di meja. wanita seksi lainnya mendatangi Abio dan menggoda pria itu dengan rayuan terbaik mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Wanita-wanita itu rela merayu Abio agar bersenang-senang ke kamar. Tetapi, sejak mengenal Livy Abio tidak mau seperti itu lagi. Pria itu hanya akan melakukannya lagi dengan wanita yang nantinya akan menjadi istrinya.


Tanpa di sadari Abio, Livy sedang mengamatinya dari kejauhan. Karena ruangan di sana temaram jadi Abio tidak tahu kalau Livy juga ada di tempat tersebut.


Livy memesan jus jeruk karena tidak mau sampai mabuk. Wanita itu terlihat kesal melihat tingkah laku Abio. Di tambah lagi wanita-wanita seksi yang sekarang terlihat menggoda Abio dan mengemis perhatian pria tampan tersebut.


"Dasar Playboy!" umpat Livy.


"Kita akan bersenang-senang!" teriak Abio. "Uhuuy!"


Livy semakin geram melihat Abio. Di tambah lagi ketika wanita-wanita seksi itu memeluk dan menggoda Abio sedangkan Abio semakin menikmatinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan." Livy membanting gelasnya di meja hingga membuat bartender di depannya bingung. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki dan melepas mantel bulu yang sejak tadi ia kenakan. Rambutnya yang sempat diikat ia lepas hingga memperlihatkan kesempurnaan yang ia miliki.


Semua pria yang ada di dekat Livy terpesona dengan kecantikannya. Beberapa dari mereka segera menghampiri Livy dan mengajaknya menari.


"Nona, ayo kita bersenang-senang malam ini. Sepertinya anda sendirian saja."


Livy memandang ke arah Abio lagi. Wanita itu tersenyum sebelum meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria asing tersebut. Bersama dengan yang lainnya, mereka menari menikmati musik.


Livy sengaja menarik di dekat Abio. Entah kenapa dia ingin Abio melihat penampilannya yang sekarang. Wanita itu ingin tahu bagaimana reaksi Abio setelah melihatnya menari dengan pria lain.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak melihat ke sini?" umpat Livy geram. Dia sudah muak dekat-dekat dengan pria asing di hadapannya. Livy mengambil satu botol minuman yang ada di dekat kaki Abio. Lagi-lagi Abio tidak peduli. Wanita itu menatap botol minumannya dengan ragu-ragu sebelum meneguknya.


"Ayo kita berpesta!" teriak Livy dengan nada yang lantang.


Abio menunduk ke bawah. Dia merasa seperti mendengar suara Livy. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Namun, satu hal aneh terjadi. Abio bukan segera turun menemui Livy, justru pria itu melanjutkan tariannya.


"Dasar pria brengsek!" umpat Livy mulai kesal.


Abio menatap wanita yang ada di hadapannya. "Kenapa aku melihat wajah Livy? Aku hanya minum sedikit. Tidak mungkin aku mabuk secepat ini," gumam Abio di dalam hati. Dia memandang ke bawah lagi. Kali ini Abio benar-benar yakin kalau wanita itu adalah Livy. Kedua matanya melebar dan dia segera melompat dari meja.


"Livy, apa yang kau lakukan?"


Livy merasa sangat puas karena pada akhirnya Abio bisa melihatnya. "Aku ingin ikut berpesta. Sepertinya sangat menyenangkan," sahut Livy. Dia hendak meneguk minuman beralkohol langsung dari botolnya.


"Hei, jangan. Kau harus menjaga kesehatanmu!" Abio merebut botol itu. Namun Livy merebutnya kembali.


"Kenapa? Kau tidak mau aku bahagia?" protes Livy.


Abio menggeleng pelan. Dia menunduk memperhatikan penampilan Livy. Dari mulai dada, perut, paha hingga kali jenjangnya terlihat dengan begitu jelas. Abio kali ini dibuat pusing oleh Livy. Cepat-cepat dia melepas jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh Livy.


"Livy, ayo kita pulang."


"Tidak, aku ingin tetap di sini," tolak Livy.


Abio tidak kehabisan akal. Pria itu memandang pemilik club' malam yang kebetulan ada di sana juga. Dia meninggalkan Livy dan menemui pemilik club' tersebut.


Livy yang sudah terlanjur minum, mulai merasa mabuk. Namun, dia masih bisa menguasai kesadarannya. Bukan berhenti justru wanita itu mengambil botol yang baru dan meneguknya lagi. Jas Abio yang sempat menutupi tubuhnya ia lepaskan dan ia menari dengan begitu lincahnya.


Abio memijat dahinya ketika merasa pusing. "Saya sewa tempat ini." Abio mengeluarkan segepok uang lagi. "Kosongkan tempat ini sekarang juga. Hanya boleh ada saya dan pacar saya!"


"Baik, Tuan." Tanpa pikir panjang, pemilik club' menyetujui permintaan Abio. Abio melipat kedua tangannya sambil memandang Livy yang sudah mabuk.

__ADS_1


"Dasar wanita! Sebenarnya maunya apa?"


__ADS_2