Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 54


__ADS_3

Zion berdiri di depan balkon sambil memandang pagar yang mengelilingi rumah mereka. Pagar itu sangat tinggi. Rasanya mustahil jika musuh bisa sampai masuk ke dalam. Tanpa penjagaan yang ketat sekalipun, rumah masa kecilnya itu akan tetap aman. Di tambah lagi kini ada pasukan Gold Dragon yang menjaganya. Bahkan kabarnya, Oliver juga sudah meminta Livy memerintahkan The Filast untuk menjaga rumah mewah tersebut.


Pagar beton dengan tinggi hampir 10 meter itu sangat kokoh dan tidak mungkin bisa di panjat dengan mudah. Kecuali beberapa titik yang sudah di rancang olehnya dan juga Norah. Itu juga harus lewat melalui kamar Norah yang ada di lantai dua.


Hanya ada dua pintu yang bisa di lewati untuk bisa masuk ke wilayah perumahan. Yaitu gerbang depan yang di jaga puluhan pria bersenjata dan pintu belakang yang dijaga oleh beberapa pria bersenjata juga. Jika sampai menemukan tanda-tanda mencurigakan, pasti pasukan penjaga pintu memberi kode dan itu membuat semua pengawal berkumpul. Setelah itu musuh bisa dengan mudah mereka hadapi dan Mereka usir dari wilayah perumahan ini. Seperti itulah pemikiran Zion saat ini.


"Sampai sekarang aku masih belum percaya dengan firasat Opa Zen dan GrandNa yang mengatakan kalau rumah ini akan di serang. Bagaimana mungkin mereka bisa menebak kalau rumah ini akan di serang? Siapa yang akan menyerang? Aku seperti sedang membuang-buang waktu saja jika berdiri di sini terus menerus. Aku ingin mencari informasi tentang Norah. Aku harus memastikan sendiri Norah masih hidup atau memang sudah tidak ada," gumam Zion di dalam hati.


Dia tidak pernah tahu kalau istana Cambridge sendiri pernah meledak. Bukan hanya itu saja, Gold Dragon pernah membuat masalah besar dengan menghancurkan hampir setengah kota yang ada di Brazil. Memang semua itu menjadi rahasia Zeroun dan yang lainnya. Mereka tidak mau cucu mereka tahu dan dijadikan contoh untuk mereka kedepannya.


"Kakak, apa yang kakak lakukan di sini? Kakak gak istirahat?"


Daisy muncul dan berdiri di samping Zion. Dia memandang ke depan sebelum mengeryitkan dahi. "Apa yang kakak lihat? Pemandangan di sini sangat membosankan." Di sana memang hanya terlihat pagar dan kolam ikan. Serta pintu belakang yang menjadi akses keluar masuk pekerja yang tinggal di sana. Tidak ada yang indah untuk dinikmati di sana.


"Kakak hanya iseng saja. Bukankah kau seharusnya ada di kamar? Kenapa keluar dari kamar?" jawab Zion. Pria itu menyelipkan rambut adiknya yang terlihat berantakan di balik telinga. Setelah itu dia memandang ke depan lagi.


Daisy menghela napas. "Kak, aku ingin kembali ke asrama. Aku ingin kuliah seperti biasanya. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran." Sebenarnya bukan hanya pelajaran saja yang menjadi alasan utama Daisy untuk kembali ke Universitas Yale. Tetapi wanita itu ingin bertemu dengan sang pacar. Dia ingin meminta Foster untuk menjelaskan foto yang pernah dia lihat malam itu.


"Daisy, sebaiknya kau kuliah dari rumah saja. Untuk saat ini, hanya itu solusi yang terbaik. Jauhi tempat ramai karena sekarang, semua musuh sudah tahu kalau kau adik kandungku," tolak Zion dengan ekspresi wajah yang serius. Daisy terlihat sedih. Sepertinya harapan untuk bertemu dengan Foster kandaslah sudah.


"Apa ini artinya, hubunganku dan Kak Foster akan segera berakhir?" gumam Daisy di dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau masih belum bisa menerima solusi yang aku berikan? Daisy, jaman sudah canggih. Tanpa duduk di kursi yang ada di kelas Universitas Yale, kau tetap bisa menjadi mahasiswi yang cerdas dan berbakat. Percaya padaku!"


Daisy terpaksa mengukir senyuman manis agar Zion tidak sedih dan kepikiran. Dia tahu kalau beban kakak pertamanya itu sudah cukup berat. Daisy tidak mau menambahnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah, Kak." Daisy memandang ke depan sejenak sebelum memandang Zion lagi. "Kak, Daisy mau ke kamar ya. Daisy mau tidur."


Zion mengangguk. Pria itu memandang ke depan lagi sambil memperhatikan penjaga yang berlalu lalang di bawah sana. "Sepertinya malam ini akan aman," gumamnya sebelum pergi menuju ke kamar.


...***...


Austin dan pasukannya sudah ada di depan pagar rumah mewah milik Jordan Zein. Pria itu masih belum mau melakukan penyerangan. Dia meneguk minuman alkohol sambil memperhitungkan trik yang tepat untuk menang.


"Apa ini markas gold dragon?" tanyanya kepada pria yang berdiri di dekatnya.


"Bukan, Bos. Ini adalah rumah orang tua Zion Zein. Tetapi, Zion Zein ada di dalam. Kami sudah memastikan sendiri kalau pria itu memang ada di dalam."


"Kalian memintaku untuk menyerang Zion di rumah orang tuanya? Maksud kalian aku juga harus melukai kedua orang tua Zion Zein?" Austin terlihat kurang setuju.


"Benar, Bos," jawab pria itu tanpa beban.


"Maaf, Bos. Tapi ini sudah menjadi perintah dari bos besar."


Mendengar kata bos besar membuat Austin kembali ingat dengan Mr. A. Jangankan orang-orang yang ada di depan Austin, Austin sendiri juga tidak bisa menentang pria itu untuk saat ini.


"Baiklah aku akan menyerang Zion Zein dan membunuh pria itu di rumah orang tuanya. Tetapi kalian harus ingat satu hal. Tujuan utama kita adalah Zion Zein. Jangan melukai siapapun. Terutama orang tua Zion Zein."


Pasukan The Bloods saling memandang mendengar perintah yang dikatakan oleh Austin. Mereka merasa kalau Austin yang sekarang ada di hadapan mereka bukan Austin yang selama ini memimpin mereka. Austin terlihat seperti orang yang baru saja mengenal dunia mafia. Padahal sebenarnya bisa dikatakan Kalau pria itu sudah sangat ahli.


Austin yang mereka kenal adalah Austin yang tidak memiliki belas kasih. Bagaimana mungkin Austin yang sekarang melarang mereka untuk membunuh kedua orang tua Zion? bukankah dengan membunuh kedua orang tua Zion itu sama saja sudah membunuh Zion juga? Zion akan merasa mati jika kedua orang tuanya telah tiada di dunia ini.

__ADS_1


"Baik, Bos." Mau tidak mau mereka terpaksa setuju. Mereka juga tidak mau sampai Austin berubah pikiran.


Austin kembali memandang ke depan. Pagar yang tinggi itu membuatnya menebak-nebak. Ada bangunan sebesar apa di dalamnya. Ada berapa banyak penjaga yang melindunginya. Ada berapa keluarga yang tinggal dan menetap di sana. Satu hal yang membuat Austin ragu untuk melangkah. Ada berapa jebakan yang sudah disiapkan oleh keluarga Zion Zein untuk menghalangi penyusup seperti mereka berhasil masuk ke dalam sana.


Austin memang sering membunuh. Tetapi biasanya target dia itu orang yang tidak pernah terjun ke dunia mafia. Sekarang justru dia harus membunuh seorang pria yang murni berasal dari geng mafia Gold Dragon. Austin tidak pernah takut menghadapi Zion. Tetapi, keberaniannya mulai goyah jika mendengar dan membayangkan wajah Zeroun Zein dan Lukas yang konon katanya sangat ditakuti di masa kejayaan mereka saat itu.


"Bos, apa yang anda pikirkan?"


Pasukan The Bloods lagi-lagi tidak sabar menunggu perintah Austin. Bisa di bilang Austin terlihat setengah hati melakukan penyerangan malam ini.


"Bos, kita harus segera maju. Jika tidak, kita akan ketinggalan!" ujar pria lainnya.


Austin mengeryitkan dahinya. Jelas-jelas mereka semua masih ada di sini. Bagaimana bisa di bilang mereka ketinggalan.


"Apa maksud dari perkataanmu?"


"Bos, Mr. A sudah membocorkan identitas Zion Zein kepada semua musuh yang dendam terhadap Zion Zein dan Gold Dragon. Malam ini yang melakukan penyerangan tidak hanya kita. Tetapi ada beberapa kelompok yang juga menginginkan nyawa Zion Zein bahkan seluruh keluarganya."


Austin yang tadinya dalam posisi tidak bersemangat kini berdiri tegak karena kaget. Dia tidak menyangka kalau Mr. A bisa sekejam ini. Membantai satu keluarga yang jelas-jelas sebagian dari mereka tidak tahu apa-apa.


DHOOOM


Austin memandang ke depan. Terdengar suara ledakan dan terlihat kepulan asap hitam. Austin dan pasukannya terlihat mulai siaga.


"Bos, sekarang saatnya. Saya yakin kelompok lain sudah menyerang. Ini saatnya kita masuk ke dalam."

__ADS_1


Austin memandang lagi senjata yang ada di tangannya. "Ini semua demi Norah!" gumamnya sebelum melangkah maju ke depan.


__ADS_2