
Setelah mencium Faith, Zion merasa bersalah. Pria itu tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit ketika langit mulai berubah menjadi gelap.
Sama halnya dengan Faith. Dia juga hanya diam saja sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit. Tidak marah tidak juga menyalahkan Zion karena sudah menciumnya.
Hingga tidak lama kemudian Zion dan Faith tiba di rumah sakit. Zion baru saja memberhentikan mobilnya tetapi Faith sudah turun tanpa pamit. Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Zion yang masih duduk di dalam mobil hanya memejamkan matanya sejenak sambil memikirkan kembali perbuatannya tadi.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku menciumnya tadi? Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia berpikir aku pria yang ...." Rasanya bibir Zion tidak sanggup untuk mengatai dirinya sebagai pria mesum. Selama ini Zion merasa kalau dia pria yang sopan dan selalu menghargai wanita. Tidak mau sampai Faith tiba duluan di ruangan Zean, Zion segera turun dari mobil. Pria itu berlari mengejar Faith yang sudah jauh di depan sana.
Faith menahan langkah kakinya ketika sudah tiba di depan ruang ayah kandungnya. Wanita itu memandang ke samping. Ternyata dia tidak mau sampai Zion di pandang jelek oleh keluarganya. Sekarang Faith tidak langsung masuk ke dalam karena dia ingin masuk bersama dengan Zion. Mereka pergi berdua dan harus kembali berdua juga.
Sayangnya pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Dominic muncul dan mengeryitkan dahinya melihat Faith berdiri sendirian di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dominic memandang ke samping. "Dimana dia?"
"Kak Zion ...."
"Kak Zion kau bilang?" Dominic lagi-lagi memasang wajah kesal.
__ADS_1
"Dia melarangku memanggilnya dengan sebutan Tuan. Itu hanya akan membuat orang lain berpikir kalau aku ini adalah bawahannya," jawab Faith apa adanya.
"Kenapa harus Kak? Kau hanya boleh memanggil kakakmu saja dengan sapaan Kak. Pria seperti dia sebaiknya panggil saja ...." Dominic menahan kalimatnya sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk panggilan Faith ke Zion. "Pria jelek!" ujarnya mantap.
Faith menghela napas panjang. Setidaknya Sekarang kakaknya tidak lagi membahas masalah Zion yang belum muncul. Di ujung lorong terlihat Zion yang berjalan dengan sangat cepat.
Ternyata pria itu tidak sendirian. Ada Leona dan juga Jordan di samping pria itu.
Dominic yang tadinya ingin menjadikan masalah ini untuk membuat Zean tidak suka sama Zion akhirnya kandaslah sudah. Dia segera masuk ke dalam ruangan tanpa mau mengajak Faith masuk ke dalam.
"Tante," jawab Faith sambil tersenyum. Wanita itu memandang ke arah Zion sejenak sebelum memandang Leona lagi. "Tante baru datang?"
"Iya Faith. Tante tadi bertemu dengan Zion di parkiran. Zion bilang kalau kalian baru saja jalan-jalan. Apa itu benar?"
Faith mengangguk. "Benar, Tante."
"Tante senang mendengarnya. Ayo kita masuk." Leona merangkul pinggang Faith dan membawanya masuk ke dalam. Zion dan Jordan mengikuti mereka dari belakang. Karena merasa ada yang aneh dengan putranya, Jordan segera menahan Zion agar tidak masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ada apa pa?"
"Apa ada masalah?" Jordan duduk di kursi yang ada di sana. Ternyata dia ingin mengajak putranya mengobrol sebelum masuk ke dalam. "Papa tahu kalau ini sangat berat bagimu. Jika kau tidak mau menikah dengan Faith, papa akan bantu untuk bicara sama mama."
"Bukan seperti itu masalahnya Pa." Zion duduk di samping Jordan. "Zion takut kalau Faith tidak bahagia dengan Zion."
"Kau meragukan perasaannya?"
"Aku baru saja melakukan kesalahan tadi pa. Dia pasti marah padaku."
"Marah?" Jordan membenarkan posisi duduknya. "Kesalahan apa yang sudah kau perbuat?"
"Aku ...." Zion masih menahan kalimatnya.
"Zion." Jordan mengusik lamunan pria itu.
"Tidak ada Pa. Aku pasti bisa mengatasinya. Ayo kita masuk. Mama bisa marah." Zion segera beranjak dan masuk ke dalam. Bahkan pria itu tidak mau menunggu ayah kandungnya yang belum masuk.
__ADS_1