
Foster sempat kaget melihat penampilan Daisy yang begitu memukau malam ini. Dengan balutan gaun berwarna merah menyala Daisy terlihat lebih dewasa. Bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Selama ini memang Daisy selalu berpenampilan polos. Dia tidak pernah menggunakan make up yang terlalu mencolok. Wajar saja jika kali ini wajahnya terlihat jauh berbeda ketika diberi make up oleh para profesional.
Foster segera berjalan menghampiri Daisy. Kali ini pria itu bisa melangkah dengan tenang karena kedua orang tuanya sudah merestui hubungan mereka. Bahkan kapan saja Foster siap untuk menikah dengan Daisy.
"Selamat malam sayang. Malam ini kau terlihat sangat cantik sekali," puji Foster.
"Terima kasih," ucap Daisy tidak bersemangat. Wanita itu melangkah ke depan lalu berdiri menghadap ke jendela. Dia melirik lokasi pesta yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Para pengantin juga sudah tiba di lokasi. Di bawah terlihat sangat ramai. Aneka makanan telah disajikan. Bahkan kue tart pengantin sudah menghiasi lokasi resepsi.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sedih? Apa terjadi sesuatu?" tanya Foster khawatir. Pria itu belum tahu kalau ada masalah antara Zion dan juga kedua orang tuanya.
"Tidak ada," jawab Daisy tanpa mau menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi.
"Kita memang belum lama kenal.Belum lama juga dekat dan pacaran. Tetapi dengan waktu singkat yang pernah kita lalui, aku sudah bisa mengerti bagaimana sifatmu. Kali ini kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan saja padaku. Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi karena aku orang yang bisa dipercaya." Foster berusaha untuk membujuk Daisy. Pria itu juga tidak tenang jika melihat Daisy memasang wajah seperti itu.
"Aku bukan tidak percaya dengan Kak Foster. Tetapi aku merasa tidak pantas untuk menceritakannya. Aku tidak mau Kak Foster berpikir yang macam-macam nantinya setelah mendengar cerita ini." Daisy memandang Foster.
"Kenapa kau memiliki pemikiran jelek seperti ini tentangku? Cepat katakan. Siapa tahu aku bisa membantumu untuk mencari solusinya," paksa Foster tidak sabar.
__ADS_1
"Kak Zion berangkat ke Las Vegas. Sepertinya aku satu-satunya orang yang mengetahui kepergian Kak Zion." Daisy lagi-lagi memasang wajah sedih. Wanita itu tidak tahu kalau sebenarnya Leona mengetahui kabar kepergian Zion melalui ponsel Jordan. Bukan dari Daisy sendiri.
"Untuk apa Kak Zion berangkat ke Las Vegas? Bukankah kami sudah menang dan kita tidak memiliki masalah lagi dengan Dominic." Foster sendiri juga terlihat kaget ketika dia tahu kalau sekarang Zion sudah berangkat ke Las Vegas.
"Kak Zion pergi ke Las Vegas untuk menemui Kak Faith. Keputusan Kak Zion menjadi masalah besar karena mama menentang hubungan mereka. Mama tidak mau Kak Zion kecewa karena ditolak oleh Kak Faith."
Foster diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Daisy memandang wajah Foster dengan seksama. "Jika kak Foster jadi aku, apa yang akan Kak Foster lakukan?" tanya Daisy. Dia ingin meminta solusi dari kekasihnya.
"Sebaiknya apa yang kau ketahui segera katakan kepada ibumu. Tidak ada gunanya juga kita menyimpan sebuah rahasia dari orang tua. Tapi jika ceritanya sudah seperti ini kau tidak perlu lagi memberitahunya. Itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Orang tuamu bisa saja berpikiran yang aneh-aneh karena kau menyimpan rahasia ini dari mereka."
"Tapi aku masih penasaran sebenarnya Mama tahu dari mana. Aku berani jamin kalau tidak menceritakan masalah ini kepada siapapun. Bahkan kepada Kak Foster juga baru ini," ucap Daisy dengan begitu yakin.
Daisy tertawa mendengar jawaban Foster. "Ya, Kak Foster benar. Aku tidak sepantasnya memikirkan masalah ini. Mama memiliki banyak mata-mata sudah pasti tanpa melihat mama tetap segera tahu ketika Kak Zion berangkat ke Las Vegas. Ditambah lagi sejak tadi siang memang Kak Zion tidak kelihatan dan itu pasti akan menimbulkan rasa curiga di dalam hati Mama." Kali ini Daisy sudah terlihat jauh lebih ceria dari sebelumnya.
"Oke, apa sekarang kau bisa tersenyum lagi karena aku sangat merindukan senyum manismu itu," rayu Foster.
"Kak Foster Ini apaan sih." Daisy tertipu malu mendengarnya.
__ADS_1
"Oh ya. Hampir lupa. Tadi siang sebelum pulang Mama sempat menitipkan sesuatu kepadaku. Dia memintaku untuk memberikan ini kepadamu." Foster mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku. Pria itu membuka kotak tersebut lalu memperlihatkannya di depan Daisy.
"Bagus sekali," puji Daisy ketika melihat gelang yang ada di dalam kotak tersebut.
"Mama bilang ini adalah gelang keturunan. Gelang ini hanya boleh dimiliki oleh wanita yang akan menjadi istriku. Seharusnya gelang ini aku berikan ketika kita sudah menikah nanti. Tetapi Aku merasa sangat yakin kalau kaulah yang akan menjadi istriku kelak. Aku tidak perlu menunda lagi untuk memberikan gelang ini. Apa kau mau memakainya?" tanya Foster dengan wajah yang begitu serius.
"Aku tidak pantas untuk mengenakan gelang ini. Sebaiknya nanti saja ketika kita sudah menikah baru aku akan menggunakan gelang ini," tolak Daisy dengan nada yang lembut. Dia tidak mau sampai mengecewakan Foster.
"Kenapa seperti itu. Apa kau tidak yakin dengan cintaku. Tadi Mama juga sempat membahas soal pernikahan kita. Mama bilang kalau Tante Leona belum mau membahas soal pernikahan. Apa itu benar? Apa kau belum membicarakan pernikahan kita kepada kedua orang tuamu?"
"Bukankah Kak Foster tahu kalau aku masih belum mau menikah muda. Aku ingin mengejar karirku dulu. Sekolah yang tinggi dan menjadi wanita karir yang hebat dan sukses. Hanya ini kemampuan yang aku miliki agar aku bisa membanggakan kedua orang tuaku. Kak Foster harus sabar menungguku. Jika memang kak Foster benar-benar mencintaiku, cinta Kak Foster tidak akan berpaling. Soal gelang ini biar aku yang menyimpannya. Tetapi aku belum bisa memakainya sekarang karena aku takut gelang ini rusak sebelum waktunya. Aku janji akan menyimpan gelang ini dengan sebaik mungkin." Daisy mengambil gelang itu lalu menyimpannya di dalam tas.
"Daisy ... Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku. Jangan beri kesempatan kepada pria lain untuk menghampiri hatimu. Aku sangat takut kehilangan dirimu. Aku sudah berkorban hingga sejauh ini. Tolong jangan kecewakan aku." Foster terlihat sangat ketakutan. Pria itu tidak tahu lagi bagaimana hidupnya nanti jika sampai Daisy tidak mencintainya lagi.
"Tenang saja. Aku tidak akan berpaling kepada pria lain. Di dalam hatiku hanya ada nama Kak Foster seorang." Daisy berusaha menyakinkan Foster agar tidak meragukan cintanya.
"Terima kasih, Daisy." Foster membuka kedua tangannya lalu segera memeluk wanita itu dengan wajah yang bahagia.
__ADS_1
"Aku mencintai Kak Foster."
"Aku juga." Foster mengecup pucuk kepala Daisy sebelum mengusap punggungnya dengan lembut.