
“Aaaa!”
Daisy dan Esme sama-sama berteriak ketika mereka ada di dalam roles coster yang kini melaju dengan cepat. Bukan dua wanita itu saja. Tetapi semua orang yang juga ikut dalam permainan adu adrenalin tersebut berteriak kencang. Kali ini Daisy benar-benar di buat bahagia. Bahkan dia tidak lagi ingat dengan Foster yang sudah beberapa jam ini tidak memberi kabar. Permainan demi permainan yang ada di sebuah carnaval mereka mainkan. Hari ini mereka harus bahagia. Ya, seperti itu rencana mereka.
Ternyata Esme menghubungi Daisy bukan karena dia memiliki masalah. Tetapi wanita itu ingin bermain bersama Daisy. Daisy sendiri sama sekali tidak menolak ketika dia tahu kalau Esme ingin mengajaknya jalan-jalan. Memang saat ini dia butuh hiburan seperti ini setelah beberapa hari terkurung di dalam rumah.
Pasukan Gold Dragon dan para sniper masih mengawasi Daisy secara diam-diam. Mereka semua tidak mau sampai adik ketua mereka celaka. Zion pasti akan marah besar.
“Esme, kau benar-benar gila! Ini pertama kalinya aku naik permainan seperti ini,” ujar Daisy sambil merapikan penampilannya. Esme hanya tertawa saja melihat bibir Daisy pucat.
“Kau takut?”
“Tidak. Ini sungguh asyik. Ayo kita coba yang lainnya.” Daisy yang seperti sudah ketagihan kini menarik tangan Esme untuk mencoba permainan lainnya.
__ADS_1
“Tunggu!” Esme menarik tangan Daisy.
“Ada apa?”
“Aku mau ke toilet,” jawab Esme dengan senyum di bibir.
“Ya, kebetulan aku juga. Ayo kita ke sana.” Daisy merangkul lengan Esme dan membawanya menuju ke toilet. Sniper yang berjaga menurunkan senjata mereka ketika tahu kalau Daisy masuk ke dalam toilet. Sepertinya tidak ada yang membahayakan di dalam toilet dengan ruang terbatas itu. Toh pintu keluar dan masuk juga sudah di jaga oleh pasukan gold Dragon.
Ponsel salah satu sniper bergetar. Pria itu segera mengangkat panggilan masuk yang berasal dari Zion. “Halo, Bos.”
“Aman, Bos. Nona Daisy hanya bermain-main bersama sahabatnya. Lokasi juga aman.”
“Tapi aku butuh bantuan kalian. Apa kalian bisa temui aku di tempat biasa? Aku telah berhasil menemukan tempat persembunyian Mr. A. Tetapi, aku tidak mungkin masuk sendirian.”
__ADS_1
“Baik, Bos. Saya akan segera ke sana.” Sniper itu segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia membagi tim. Tentu saja sniper itu tidak akan membiarkan Daisy tanpa pengawasan. Dia akan meminta anak buahnya untuk menjaga Daisy sedangkan dia dan beberapa yang lainnya akan pergi menemui Zion.
Sniper itu mengangkat senjatanya lagi untuk memeriksa keadaan Daisy. Alisnya saling bertaut ketika dia tidak menemukan siapapun di sana. Dia mencari ke segala arah yang letaknya tidak terlalu jauh dari toilet. Berharap Daisy dan Esme terlihat. Namun, usahanya sia-sia. Dia juga tida berhasil menemukan keberadaan Daisy. Cepat-cepat dia hubungi anak buahnya. Berharap salah satu dari mereka bisa memberi kabar baik.
“Apa kalian melihat Nona Daisy?”
“Nona Daisy belum keluar dari toilet, Bos,” jawab pria di seberang sana.
“Gawat!” Pria itu segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia segera menekan nomor pasukan Gold Dragon yang berjaga di bawah. “Cepat datang ke toilet. Sepertinya sesuatu terjadi.” Sniper itu sendiri juga segera turun. Dia tidak bisa bernapas dengan tenang jika belum mengetahui keberasaan Daisy.
Daisy memandang Esme dengan buliran air mata di pipi. Wanita itu tidak bisa bicara ketika sebuah kain mengunci mulutnya. Esme tidak membalas tatapan Daisy. Wanita itu hanya fokus pada laju mobil di depan. Dia seperti merasa bersalah karena sudah melakukan semua ini terhadap Daisy. Namun, dendamnya menutupi rasa kasihan itu. Esme akan membuat orang-orang yang sudah membunuh kakaknya merasakan apa yang pernah dia rasakan.
Setibanya di jalanan berkelok yang sepi, Esme memberhentikan mobilnya. Dia memandang Daisy sejenak. “Maafkan aku Daisy. Setelah ini, serahkan semuanya sama yang di atas. Jika kau selamat, aku tidak akan mengusik hidupmu lagi. Jika kau tidak selamat, aku hanya bisa mengatakan selamat tinggal. Aku harus pergi.” Esme membuka pintu mobil. Di detik yang sama Daisy memberontak berharap Esme mau melepas ikatannya di tangan dan kakinya.
__ADS_1
Esme tidak peduli. Wanita itu tetap pergi meninggalkan Daisy sendirian di dalam mobil dalam kondisi tubuh terikat. Tidak lama setelah Esme keluar, Jhon muncul dengan senyuman di bibirnya. Pria itu memberikan sejumlah uang kepada Esme sebagai ucapan terimakasih karena sudah membawa Daisy ke sini. Tetapi sepertinya Esme tidak tertarik dengan uang yang diberikan pria itu.
“Anggap saja aku juga untung jadi kau tidak perlu membayarku,” ucap Esme sebelum pergi menjauh. Jhon diam sejenak di posisinya. Pria itu memasukan kembali uang yang ada di genggamannya ke dalam saku sebelum mendekati mobil. Daisy semakin berontak ketika Jhon masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak kata, Jhon melajukan mobil tersebut dan membawanya pergi ke tempat yang lebih jauh.