Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 108


__ADS_3

"Ini yang dikatakan jodoh. Jika yang satu sakit, satunya juga ikut merasakan," ucap Austin sambil tersenyum.


"Kau ini. Bisa-bisanya bahagia ketika sakit. Pikirkan caranya agar kita bisa jalan lagi," sahut Norah sambil memandang langit-langit ruangan. "Aku bosan ada di rumah sakit! Aku rindu kamarku."


"Secepatnya. Aku yakin, pasti aku yang lebih dulu bisa jalan. Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan menggendongmu kemanapun kau pergi jika nanti aku sudah bisa jalan lagi."


Sepasang kekasih itu akhirnya berada di dalam ruangan yang sama. Mereka terlihat sangat menikmati musibah yang mereka rasakan. Padahal seharusnya mereka sedih dan tidak bersemangat karena kedua kaki mereka tidak bisa digunakan untuk berjalan.


"Austin, jika kau diberi pilihan. Kau lebih suka dicintai atau mencintai?" Entah kenapa tiba-tiba saja Norah bertanya seperti itu. Padahal semua sudah jelas kalau Austin sangat mencintai dan sudah pasti lebih memilih untuk mencintai daripada harus di cintai.


"Bagaimana denganmu?" tanya Austin balik.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" protes Norah tidak suka.


Austin tertawa kecil. "Oke, baiklah. Aku lebih suka mencintai. Aku seorang pria. Aku sudah ditakdirkan untuk berjuang. Aku tipe pria yang tidak suka di kejar-kejar." Austin memiringkan kepalanya memandang Norah. "Aku lebih suka mengejar-ngejar!" Austin mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Norah.


"Berbeda denganku. Aku lebih suka dicintai. Tetapi aku sekarang merasakan keduanya. Mencintai dan juga dicintai. Ini sungguh membahagiakan." Norah membalas senyuman Austin. "Austin, apa yang pertama kali kau pikirkan saat aku di culik Mr. A?"


Austin mengeryitkan dahinya. "Tidak ada. Sebelum kau diculik pikiranku memang sudah dipenuhi dengan dendamku terhadap Mr. A. Ketika Kak Zion menghubungiku dan memberi tahu kalau kau di culik, perasaanku menjadi tidak karuan. Semua rencana untuk menyerang Mr. A harus gagal total. Karena kini mereka sudah memilikimu untuk dijadikan ancaman."


"Hidup yang merepotkan bukan?" Norah tertawa lagi.


"Tidak, Norah. Ini bukan kehidupan yang merepotkan. Tetapi justru hidup yang sangat menyenangkan. Di luar sana mungkin ada yang sedang kesusahan karena masalah ekonomi. Tetapi kita tidak. Kita kesusahan karena dendam dan musuh masa lalu. Sepertinya memang di dunia ini tidak ada yang ditakdirkan untuk benar-benar tenang. Semua diberi masalah sesuai dengan porsinya."


"Anda terlihat sangat bijaksana bila bicara seperti itu, Tuan," ledek Norah.


"Terima kasih, Nona. Tapi saya bisa seramah ini hanya setelah kenal dengan anda. Sebelumnya saya ini hanya seorang pria yang membosankan!"


Norah tertawa lagi. Dia merasa sangat bahagia bisa bicara dengan Austin seperti ini.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Zion muncul bersama dengan Abio di sampingnya. Dua pria itu memandang ke arah Norah dan Austin bergantian.


"Ada apa? Apa semua baik-baik saja?" tanya Austin khawatir. Entah kenapa setiap kali melihat wajah Zion yang serius seperti itu membuatnya menjadi tidak tenang.


"Ya. Semua baik-baik saja. Kalaupun ada masalah, aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian," sahut Abio.


Zion berdiri di samping tempat tidur Norah. Memandang wanita itu dan tersenyum. "Bagaimana keadaanmu? Apa kakimu sudah bisa digerakkan?"


Norah menggeleng. "Masih belum terasa. Entah kapan aku bisa jalan. Aku bosan berbaring seperti ini seperti setiap hari. Punggungku panas," jawab Norah dengan wajah tidak bersemangat.


"Sekarang sudah malam. Sebaiknya kau istirahat saja." Zion memandang Abio. "Jangan lama-lama. Sampaikan hal-hal penting saja. Mereka berdua harus segera tidur."


"Oke, Bos!" sahut Abio sambil hormat. Zion segera pergi setelah berpamitan. Kini hanya ada Norah, Austin dan juga Abio di dalam ruangan itu.


"Ada apa? Kenapa wajah anda terlihat tidak bersemangat, Tuan?" tanya Austin penasaran.


Abio memandang ke pintu lagi untuk memastikan Zion tidak mendengar perbincangan mereka bertiga. "Ini soal Daisy dan Foster."


"Mereka putus," jawab Abio mantap.


"Putus?" celetuk Austin dan Norah bersamaan. "Apa yang membuat mereka putus? Apa karena Kak Zion?" Norah asal menebak saja. Toh memang selama ini hubungan adiknya itu terlihat tidak sempurna karena merek belum mendapatkan restu dari Zion.


"Semua karena Foster. Dia yang sudah akal-akalan mengakhiri hubungannya bersama Daisy. Dia masih terlalu muda. Belum dewasa. Jiwanya masih belum bisa serius. Orang tuanya mengancam akan bunuh diri. Lalu karena Foster panik, dia segera mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daisy. Belum ada sehari dia juga sudah menyesal. Tentu saja Daisy tidak bisa memaafkannya begitu saja. Bagaimanapun juga Daisy sudah sangat kecewa dengan kelakuannya. Sekarang Foster sedang memperjuangkan Daisy di depan keluarganya. Awalnya memang sulit. Tetapi ketika Foster bilang kalau Daisy keturunan kerajaan, kedua orang tuanya mulai luluh. Yang jadi permasalahan-"


"Tunggu. Foster bilang kalau kami keturunan kerajaan? Tapi itu rahasia. Semakin banyak yang tahu semakin tidak baik!" protes Norah tidak setuju.


"Keluarga kerajaan?" Austin mengeryitkan dahi. "Itu berarti tebakanku benar? Kenapa kau menyangkalnya selama ini?" Di saat Norah dan Abio belum selesai bicara, Austin justru ingin mengajak Norah mengobrol.


"Aku merasa itu tidak penting. Jika seorang pria sudah memutuskan untuk jatuh cinta pada seorang wanita, dia tidak akan memandang latar belakang wanita itu. Hanya kesetiaannya yang menjadi perhatian utamanya. Bukankah begitu?"

__ADS_1


Austin menggeleng. "Untuk pria sepertiku mungkin memang benar. Kesetiaan yang paling penting. Jika wanita itu setia, tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Tetapi ada beberapa pria justru mempertimbangkan latar belakang wanita itu. Seperti yang sekarang terjadi pada Foster. Dia masih memiliki orang tua. Jelas saja orang tuanya memikirkan latar belakang wanita yang dicintai putranya."


"Kau membela Foster?" Norah terlihat tidak suka.


"Aku tidak membela Foster aku hanya memposisikan diriku pada dirinya. Jika tidak seperti itu, kita tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Foster."


"Apapun alasannya. Membuat sakit hati seorang wanita bukan solusi yang tepat!" Nada bicara Norah mulai meninggi pertanda kalau dunia perdebatan sedang tidak baik-baik saja.


"Norah sayang ... Kau seorang wanita, jadi wajar saja kalau kau memandang masalah ini dari sudut pandang wanita. Aku seorang pria jadi aku akan memandang masalah ini dari sudut seorang pria. Memang bener-bener berlawanan. Tetapi tujuannya hanya satu. Bersatu karena saling mencintai. Penghalang utama mereka ada pada orang tua Foster. Namun sepertinya tidak hanya dari orang tua Foster saja. Kak Zion juga sempat menjadi penghalang hubungan mereka bukan?"


"Ya itu yang ingin aku katakan. Kak Zion tidak benar-benar merestui hubungan mereka selama ini tetapi Daisy tidak pernah memiliki pemikiran untuk mengakhiri hubungannya dengan Foster. Kenapa Foster baru dapat masalah seperti ini saja sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daisy?"


"Mungkin karena keadaannya lebih mendesak. Aku yakin, jika tidak mendesak Foster tidak akan-"


"Stop stop! Kenapa jadi kalian yang berdebat?" Abio memotong perdebatan antara Norah dan Austin. Pria itu merasa bersalah karena sudah membahas masalah ini di depan mereka berdua. Kalau saja dia tidak muncul maka Norah dan Austin tidak akan mungkin berdebat sampai separah ini. Abio tidak mau masalah yang terjadi justru membuat hubungan Austin dan juga Norah menjadi renggang.


"Aku datang ke sini untuk meminta solusi bukan melihat kalian bertengkar. Masalah yang kalian alami telah selesai. Sekarang bantu aku untuk menyatukan Foster dan Daisy lagi. Intinya mereka saling mencintai dan mereka harus bersatu kembali. Aku datang ke sini karena ingin bicara kepada Norah. Kedua orang tua Foster meminta bukti kalau kalian memang benar-benar keturunan kerajaan. Apa kau bisa memberiku bukti untuk diserahkan kepada kedua orang tua Foster agar dia percaya kalau Daisy memang benar-benar keturunan Ratu Emely."


"Tidak semudah itu! Foster harus berjuang sendiri. Kenapa harus anda yang datang seperti ini.


"Masalahnya hanya satu, nona. Foster tidak bisa menemui Anda karena Zion selalu ada di sisi anda. Memangnya selain Anda siapa lagi yang bisa membantu Foster untuk saat ini?"


Norah diam sejenak. "Tapi aku ingin bicara langsung dengan Foster. Aku harus memastikan sendiri kalau dia tidak akan menyakiti hati Adikku lagi. Aku juga ingin mendengar sumpah dari mulutnya kalau dia benar-benar mencintai Daisy Sampai Mati. Jika dia tidak berani untuk berjanji maka aku juga tidak akan membantunya untuk mencari bukti-bukti itu."


Abio memandang ke arah Austin tetapi Austin lebih memilih untuk membuang ke arah lain. "Aku tidak bisa membantumu untuk saat ini. Bicara seperti tadi saja hampir membuat hubunganku dengan Norah renggang. Aku lebih memilih untuk diam saja. Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai. Lebih baik bersikap masa bodoh daripada harus kehilangan. Apa kau pikir memperjuangkan cinta Norah tidak sulit?" ujar Austin berharap Abio mengerti.


"Baiklah, saya juga tidak mau hubungan anda dan juga norah renggang." Abio memandang ke arah Norah lagi. "Apa ini artinya Anda mau memberikan bukti-bukti Jika anda sudah bertemu dengan Foster? Jika memang seperti itu Saya akan memikirkan cara agar Foster bisa menemui Anda di rumah sakit." Abio terlihat sedikit lega. Walau dia tidak tahu bagaimana caranya membawa Zion meninggalkan rumah sakit.


"Aku tidak janji akan memberi bukti itu ketika Foster ada di hadapanku. Aku juga butuh mendengar jawaban dari Foster. Jika kata-katanya bisa dipercaya,. Aku akan membantunya tapi jika tidak aku justru akan mengusirnya jauh-jauh dari kehidupan Daisy."

__ADS_1


"Oke, deal!" jawab Abio dengan senyum mengembang di bibirnya. "Aku yakin, Foster pasti bisa menyakinkan Norah. Sekarang aku harus memikirkan cara untuk membawa Zion pergi meninggalkan rumah sakit," gumam Abio di dalam hati.


__ADS_2