Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 233


__ADS_3

"Di Amerika? Tante yakin? Apa Tante memiliki nomor Elyna? Biar Norah yang menghubungi Elyna." Leona terlihat sangat antusias. Dia senang bisa mendapatkan kabar baik seperti ini.


"Leona, kalau Tante boleh tahu. Kenapa tiba-tiba saja kau dan Norah ingin bertemu dengan Elyna? Bukannya tante tidak setuju. Tetapi dari yang Tante ketahui, Elyna ini wanita yang sangat sulit untuk diatur. Dia memiliki kehidupannya sendiri."


Leona memandang ke arah cappucino yang ada di depannya. "Tante, Elyna memimpin Queen Star. Bukankah itu berarti hubungan kami sangat dekat Karena Queen star adalah geng mafia yang pernah aku miliki. Jika memang benar sekarang Elyna memimpin Queen Star, seharusnya dia tahu nama-nama pemimpin Queen star yang sebelumnya." Mengucapkan nama Queen Star membuat Leona kembali ingat bagaimana perjuangannya dulu ketika ingin menghidupkan Queen Star lagi.


"Tante yakin kalau Letty sudah menceritakan semuanya kepada Elyna." Lana mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan nomor telepon Elyna. "Ini nomornya. Kau bisa segera menyimpannya dan hubungi saja langsung. Katakan padanya kalau kau mendapatkan nomornya dariku karena jika kau tidak mengatakannya dengan jujur dia pasti tidak mau lagi mengangkat teleponmu."


Leona terlihat sangat berseri karena ia berhasil membantu putrinya untuk menyelidiki Putri tunggal dari Letty. tanpa menunggu lama lagi wanita itu segera menyimpan nomor Elyna dan mengirimkannya kepada Norah.


"Terima kasih, Tante. Maafkan aku karena sudah merepotkan Tante sampai akhirnya harus Tante jauh-jauh ke tempat ini."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru aku senang karena bisa membantumu." Lana tersenyum hangat. Wanita itu kembali meneguk teh pesanannya sambil membayangkan wajah Elyna. Cucu dari putri angkat yang sangat ia sayangi. "Elyna. Bahkan aku sendiri tidak tahu apakah Elyna tahu kalau aku adalah Omanya," gumam Lana di dalam hati.


Di sisi lain, Norah terlihat sangat bersemangat ketika dia membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh ibu kandungnya. Di sana tertera jelas nomor telepon wanita yang ingin ia temui. Dia merasa bangga terhadap ibu kandungnya itu.


"Aku harus segera menghubungi nomor ini dan mengajak Elyna untuk ketemuan. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menjodohkannya dengan Dominic. Aku juga akan segera mengabari Kak Zion untuk memberitahukan informasi ini. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya."


Setelah menyimpan nomor telepon Elyna, wanita itu segera menghubunginya. Namun wajahnya langsung kecewa ketika nomor itu tidak aktif. "Apa benar ini nomornya? Kenapa tidak bisa dihubungi?"


Norah menurunkan ponselnya dengan wajah kecewa. Austin yang saat itu sedang bermain dengan Harumi memandang searah Norah dengan wajah penuh tanya. "Sayang, papa ke tempat mama dulu ya. Harumi main sama Ariel dulu. Bagaimana?"


"Oke, Papa," jawab Harumi tidak keberatan. Setelah berpamitan dengan Harumi, pria itu segera beranjak dan mendekati istrinya yang masih terlihat uring-uringan.


"Apa terjadi masalah?" Austin segera duduk di samping Norah lalu mengusap rambut wanita itu dengan mesra. "Kau bisa menceritakannya padaku. Tidak perlu memikirkannya sendirian seperti ini."


"Hari ini Mama menemui Oma Lana untuk mendapatkan nomor Elyna dan pada akhirnya Mama berhasil mendapatkan nomornya. Tetapi justru nomor ini tidak bisa dihubungi. Bagaimana kalau Elyna sudah ganti nomor? Aku tidak mau sampai gagal menemuinya. Aku harus bisa menjodohkannya dengan Dominic."


"Kenapa kita tidak minta pasukan Gold Dragon untuk menyelidikinya? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Elyna memimpin geng mafia Queen Star? Jika seperti itu pasti identitasnya sangat mudah untuk dilacak." Austin terlihat menggampangkan masalah ini.


Queen Star adalah geng mafia yang sangat rahasia. Tidak mudah identitasnya untuk diketahui oleh semua orang. Sama halnya dengan Gold Dragon. Menyelidiki mereka tidak semudah membalikan telapak tangan. Jadi jangan pernah berharap pasukan kita bisa berhasil menyelidiki Elyna ini. Justru aku takut, jika Elyna tahu ada yang secara diam-diam menyelidikinya, dia akan salah paham dan itu membuat hubungan kami menjadi terkesan buruk di awal pertemuan.


"Lalu, jika sudah seperti ini. Rencana apa yang sudah kau persiapkan? Bukankah seharusnya kau memiliki rencana B ketika rencana A gagal?" Meskipun belum menemukan solusi, tetapi Austin maunya sang istri tidak perlu terlalu pusing memikirkannya.


"Aku akan temui Paman Oliver. Aku pernah dengar kalau Paman Oliver dan Tante Letty adalah adik dan kakak. Sudah pasti Paman Oliver tahu banyak soal ini. Aku akan mengajak Paman Oliver untuk mengantarku ke kediaman Elyna langsung. Dengan begitu Aku tidak perlu lagi repot-repot menghubunginya melalui telepon." Norah kembali berharap.


"Kau akan pergi sendiri?" tanya Austin untuk kembali memastikan


Norah melirik Austin. "Tentu saja tidak. Kita akan pergi berdua."


"Lalu bagaimana dengan anak kita?" tanya Austin sambil memandang ke arah Harumi yang masih terlihat sibuk bermain.


"Aku akan titipkan Harumi kepada Mama selama kita pergi. Aku yakin mama bisa menjaga Harumi dengan baik. Hanya Mama satu-satunya orang yang kupercaya saat ini."


"Ide yang bagus. Tapi sebaiknya sebelum kita pergi kita harus meminta izin dari Harumi dulu. Jangan sampai dia kecewa kepada kita."


"Tentu," jawab Norah cepat. Wanita itu juga memandang ke Harumi sambil tersenyum. "Rasanya aku sudah tidak sabar untuk melihatnya tumbuh besar. kira-kira nanti setelah dia besar, bagaimana wajahnya?"

__ADS_1


...***...


Faith terbangun dari tidurnya ketika seseorang mengetuk jendela kamarnya. Wanita itu segera memandang ke arah jendela. Betapa kagetnya Faith ketika dia melihat Zion berdiri di sana. Tanpa menunggu lagi Faith segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu berlari menuju ke arah jendela.


"Kak Zion?" Faith segera membuka jendela kamarnya agar bisa mendengar suara Zion. "Apa yang Kak Zion lakukan? Ini sudah malam. Kenapa Kak Zion tidak istirahat. Jika Kak Dominic melihat semua ini dia pasti akan menghukum Kak Zion."


Yang Faith tahu, kini Zion menginap di rumah mereka untuk satu malam. Dominic memberikan izin kepada pria itu untuk tidur di kamar tamu. Tetapi Zion juga tidak akan lama di Amerika karena pria itu juga tidak bisa mengabaikan Gold Dragon. Dia juga harus ke Universitas Yale untuk memeriksa keadaan adiknya di sana.


"Kalau begitu jangan sampai kakak iparku tahu," jawab Zion dengan santai. Pria itu segera menerobos masuk ke dalam kamar Faith. Faith memandang ke bawah. Wanita itu tidak menemukan ada tangga di sana. Dia bertanya-tanya di dalam hati kira-kira bagaimana cara Zion bisa sampai tiba di atas.


"Tutup jendelanya! Angin di luar sangat dingin," kata Zion lagi. Hingga akhirnya Faith segera menutup jendela itu dan berjalan menghampiri Zion yang sudah duduk di sofa.


"Kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini? Bukankah besok pagi kita bisa bertemu lagi." Faith duduk tidak jauh dari posisi Zion berada.


"Tapi sekarang aku merindukanmu. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena wajahmu terus saja mengganggu pikiranku. Kalau siang juga waktu yang kita miliki tidak banyak karena Dominic selalu saja muncul untuk mengganggu. Jadi aku beranikan untuk menemuimu malam ini. Jika rencanaku ini berhasil, setiap malamnya aku akan datang untuk mengunjungimu."


"Bukankah Kak Zion sendiri yang bilang kalau ingin pulang?"


"Ya. Tapi aku juga akan segera kembali lagi ke sini," jawab Zion sambil memperhatikan kamar tidur Faith yang tertata rapi dan wangi.


Faith sendiri justru tersipu malu mendengar penjelasan dari Zion. Wanita itu merasa bahagia karena sudah diperjuangkan seperti ini oleh pria yang ia cintai.


"Maafkan aku karena sudah mengganggu tidurmu." Zion menopang kepalanya sambil memandang wajah cantik Faith. Meskipun wanita itu sudah mengenakan pakaian tidur, tetap saja dia terlihat sangat cantik. Zion semakin mengaguminya dan semakin tergila-gila.


"Aku juga belum tidur. Aku belum mengantuk," dusta Faith agar Zion tidak perlu sampai merasa bersalah.


"Benarkah? Sepertinya tadi aku lihat kau sudah memejamkan mata," sangkal Zion dengan wajah tidak percaya.


Tiba-tiba saja Zion memegang tangan Faith dan mengusapnya dengan lembut. Pria itu memanfaatkan kesempatannya untuk berduaan dengan Faith. Jika pada siang hari dia tidak akan bisa seromantis ini kepada wanita yang ia cintai itu.


"Faith, Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Waktu itu aku sempat tidak mau mengakui perasaanku sendiri. Bahkan setiap kali perasaanku ingin mengagumimu, aku langsung menghempaskannya jauh-jauh. Tetapi pada akhirnya aku sadar kalau tidak mudah untuk membuang rasa cinta yang sudah melekat di dalam hati."


Malam itu Faith benar-benar melayang mendengar perkataan Zion. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Big Boss mafia itu ternyata bisa romantis juga. "Aku juga mencintai Kak Zion. Aku ingin kita segera menikah. Tolong jangan menyerah untuk mendapatkan restu dari Kak Dominic. Karena aku akan selalu ada di pihak Kak Zion dan mendukung Kak Zion sepenuhnya."


Zion semakin berbunga-bunga mendengar pernyataan cinta dari Faith. Secara perlahan pria itu mengangkat tangan Faith lalu mengecup punggung tangannya dengan begitu mesra. "Terima kasih."


"Faith, apa kau sudah tidur?"


Faith dan Zion sama-sama melebarkan kedua mata mereka ketika mendengar suara Dominic.


"Gawat! Bagaimana ini? Itu suara Kak Dominic." Faith yang langsung panik segera beranjak dari sofa. Wanita itu terlihat kebingungan. Dia mencari cara untuk menyembunyikan Zion agar tidak sampai ketahuan oleh Dominic. Berbeda dengan Zion yang justru terlihat santai saja seolah tidak ada yang perlu ditakuti di sana.


"Bukankah kau mengunci pintu kamarmu?" tanya Zion untuk kembali memastikan.


"Ya. Tapi Kak Dominic bisa curiga jika aku terlalu lama membuka pintunya."


Zion segera beranjak dari sofa. Pria itu juga tidak tega melihat Faith khawatir seperti itu. "Aku akan segera pergi dari sini. Sana, buka pintunya."

__ADS_1


"Tapi Kak Zion belum keluar," jawab Faith cepat.


"Aku akan keluar setelah kau berjalan ke pintu itu."


Faith masih ragu. Wanita itu memandang ke pintu sejenak sebelum memandang ke arah Zion lagi.


"Faith, apa kau baik-baik saja?"


Zion masih berdiri di sana sambil tersenyum memandang wajah cantik Faith.


"Kak, cepat pergi," bujuk Faith lagi.


Tiba-tiba saja Zion menunjuk pipinya yang sebelah kanan. Faith mengernyitkan dahi melihat kode yang diberikan oleh Zion. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Zion. Bahkan karena tidak mengertinya, wanita itu meniru apa yang dilakukan oleh Zion. Menyentuh pipinya sendiri dengan jari.


"Ada apa Kak? Apa kak Zion sakit gigi?" tanya Faith dengan wajah polosnya.


Zion menghela napas. Pria itu tentu saja tidak bisa marah karena memang calon istrinya sepolos itu. Zion menarik tangan Faith hingga membuat tubuh mereka bersentuhan. Tanpa permisi Zion mengecup pipi kanan Faith.


"Lain kali jika aku menunjuk pipiku seperti tadi, kau harus mencium pipiku."


Faith menunduk malu. Wanita itu memegang pipinya sendiri dengan wajah berbunga-bunga. Zion segera pergi meninggalkan Faith. Sebelum melompat keluar, pria itu memandang lagi ke arah Faith yang masih berdiri mematung di sana.


"Cepat buka pintunya," perintah Zion.


Faith tersadar lalu memandang ke arah pintu. Ia mengangguk lalu berlari menuju ke pintu. Sebelum membuka pintu, wanita itu memandang ke arah Zion lagi. Faith terlihat lega ketika Zion sudah menghilang. Bahkan jendela itu sudah tertutup kembali.


"Kenapa lama sekali?" protes Dominic. Sama seperti Zion, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar Faith.


"Tadi aku di kamar mandi. Aku tidak dengar kalau Kak Zion." Faith segera menutup mulutnya.


"Zion?" Dominic mengernyitkan dahi sambil memandang Faith dengan tatapan curiga. "Kau baru saja bertemu dengannya?" tebak Dominic asal saja.


Faith menggeleng kepalanya. "Kak Dominic, kenapa belum tidur?" Faith mengajak Dominic untuk duduk.


"Ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa kak?" Faith melirik ke jendela untuk memastikan Zion tidak meninggalkan jejak di sana.


"Apa kau sudah siap untuk menikah?"


Faith tertegun mendengar pertanyaan Dominic. "Kenapa Kak Dominic bertanya seperti itu?"


"Dari apa yang aku lihat selama ini, Sepertinya Zion benar-benar mencintaimu. Aku tidak memiliki alasan lagi untuk menghalangi cinta pria itu agar bisa mendapatkan hatimu. Tetapi aku tidak akan merestui pernikahan ini jika kau belum siap untuk menikah. Aku akan jadikan alasan ini untuk mengundur pernikahan kalian."


Faith menggeleng tidak setuju. "Aku sudah siap untuk menikah kak. Sebenarnya bukan Kak Zion saja yang mencintaiku. Tetapi aku juga mencintai Kak Zion. Aku ingin segera menikah dengan Kak Zion karena aku tidak mau kehilangan pria yang cintai."


Dominic mengangguk. Pria itu terlihat jauh lebih lega sekarang setelah mendengar kejujuran dari Faith langsung.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu kakak akan mengatur semuanya."


"Terima kasih kak." Faith segera memeluk Dominic. Wanita itu merasa senang sekali. "Terima kasih Tuhan karena sudah mempermudah segalanya," gumam Faith di dalam hati.


__ADS_2