
"Bagaimana rasanya?" tanya Faith. Wanita itu berani bertanya ketika mereka sudah selesai makan. Faith Tidak mau sampai mendengar Zion berkata kalau masakannya tidak enak. Wanita itu merasa sangat yakin kalau makanan yang dia olah hari ini rasanya sangat lezat dan nikmat.
"Enak. Apa sebelumnya kau pernah belajar masak?"
Faith mengangguk. Sambil mencuci piring wanita itu kembali mengingat momen pertama kali dia belajar masak dulu. "Aku memiliki teman yang sangat pintar memasak. Aku banyak belajar darinya. Setiap ada resep baru dia selalu memberitahuku dan mengajakku untuk mempraktekkannya di dapur. Dari sana aku belajar banyak hingga akhirnya aku mulai bisa memasak sendiri."
"Sekarang di mana dia?"
"Temanku?"
Zion menggangguk. "Dia harus tahu dan mencicipi makanan yang kau buat ini. Bukankah resep yang kau dapatkan dari dia juga?"
Faith terlihat sangat sedih mendengarnya. Wanita itu meletakkan piring terakhir lalu mencuci tangannya. Zion yang mulai sadar kalau ada yang lain dari sikap Faith, segera mencari cara untuk mencairkan suasana.
"Apa kau mau jalan-jalan?" tanya Zion untuk mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Dia sudah tidak ada di dunia ini. Sejak dia memutuskan untuk bekerja dengan Dominic sejak saat itu persahabatan kami berakhir."
Zion mengeryitkan dahinya. "Dia mengkhianati persahabatan kalian?"
Faith mengangguk setuju. "Bahkan kami terlihat seperti musuh sekarang. Dia ada di pihak Dominic sedangkan aku musuhnya. Target yang ingin dia kalahkan."
Zion memandang ke arah lain sebelum menatap wajah Faith lagi. Pria itu merasa menyesal karena sudah membuat Faith sedih seperti ini. "Apa kau lelah?"
"Sedikit," jawab Faith sambil memijat bahunya. "Kenapa?"
"Tadinya aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Menikmati pemandangan malam. Tapi ... kau kelihatan sangat lelah. Sebaiknya kau-"
Tiba-tiba ponsel Zion berdering. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku. Dia sedikit menjauh dari Faith ketika tahu kalau nomor yang menghubunginya adalah pasukan Gold Dragon.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Nona Livy dan Tuan Abio kecelakaan, Bos."
"Livy dan Abio kecelakaan?" teriak Zion kaget. Pria itu memandang Faith yang kini mendekatinya. "Dimana? Sekarang bagaimana keadaan mereka?"
"Masih kritis, Bos. Mobil mereka di tabrak sebuah truk. Sekarang kami diperintahkan Bos Lukas untuk mencari keberadaan supir yang sudah mengendalikan truk itu. Kami bersama The Filast, Bos."
"Semua sudah mengetahui kabar ini? Apa aku orang terakhir yang mendengarnya?" Dari nada bicara Zion sudah terlihat jelas kalau pria itu marah. Dia ingin segera diberi tahu ketika terjadi sesuatu. Bukan menjadi yang terakhir seperti sekarang ini.
"Maafkan saya, Bos."
"Kirimkan alamat. Aku akan segera ke sana." Zion memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu memandang Faith yang kini menatapnya dengan wajah panik.
"Siapa yang kecelakaan?" Walau tadi sempat mendengar nama Livy dan Abio, tetapi Faith ingin mendengar langsung dari mulut Zion.
"Kita ke ruang sakit sekali." Zion membuka ponselnya dan membaca alamat yang dikirimkan oleh pasukan Gold Dragon. "Livy dan Abio kecelakaan."
__ADS_1
"Mereka baru saja dari sini. Jika tahu akan seperti ini, aku bangunkan saja mereka agar mereka tidak perlu pulang diam-diam seperti sekarang. Aku sangat menyesal," lirih Faith dengan wajah sedih.
"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Sekarang ayo kita berangkat." Zion menggenggam tangan Faith dan membawanya pergi menuju ke mobil.